Amankah Melakukan Seks saat Keputihan?

Amankah Melakukan Seks saat Keputihan?

13 Dec 2018

Dokterdigital.com - Infeksi ragi (yeast) atau yang bahasa awamnya disebut dengan keputihan, dapat meningkatkan risiko bagi wanita yang mengalami penyakit yang ditularkan melalui aktivitas seks (PMS) dan risiko yang sama dialami oleh pasangan mereka. Dengan memahami mengapa ini terjadi, Anda dapat menyiapkan kiat untuk perlindungan.

Infeksi ragi bukanlah penyakit menular seksual (PMS), meski gejalanya banyak yang sama, seperti vagina gatal, terasa panas, dan mengeluarkan cairan. Dari prevalensi PMS dan infeksi ragi itu, wanita perlu mengetahui bahwa infeksi ragi dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi vagina lainnya.

Memang, infeksi ragi tidaklah berhubungan dengan pengembangan PMS. “Secara umum, infeksi ragi tidak meningkatkan risiko terkena PMS," kata Rosanna Gray-Swain, MD, pakar obstetri dan ginekolog di St. Louis.

“Namun, jika ada guratan pada vulva, ini akan meningkatkan risiko PMS. Dengan menggaruk rasa gatal pada vagina, ini akan menimbulkan luka kecil yang dapat mengundang masuknya bakteri atau virus dan memudahkan PMS masuk ke tubuh Anda."

Kekhawatiran yang paling utama adalah HIV/AIDS, yang kebanyakan menular melalui aktivitas seks. HIV/AIDS juga dapat ditularkan melalui kontak langsung cairan tubuh pada luka yang terbuka.

Satu studi mengamati wanita yang tidak positif HIV, tapi mereka melakukan hubungan seks dengan pasangan yang terinfeksi. Para peneliti menemukan bahwa wanita yang pada akhirnya terkontraksi HIV lebih besar peluangnya untuk mengalami infeksi ragi. Menurt tim peneliti, para wanita yang menjalani hubungan berisiko tinggi harus diajarkan bagaimana mencegah infeksi ragi — dan merawat mereka secepat mungkin ketika infeksi itu terjadi — demi mengurangi risiko terinfeksi HIV.

Karena infeksi ragi dapat mengiritasi lapisan vagina, bahkan meski Anda tidak menggaruknya, maka lebih baik menggunakan kondom jika Anda bernita untuk aktif secara seksual di saat Anda mengalami infeksi ragi dan belum tahu status HIV dari pasangan Anda. Tentu saja ini merupakan saran yang bijak jika Anda tidak memiliki infeksi ragi.    

Tunda Hubungan Seks

Meski Anda mungkin tak merasakan sensasi yang paling seksi ketika mengalami  infeksi ragi, tak ada alasan medis untuk tidak melakukan hubungan seks yang aman. Patut diingat bahwa rasa gatal dan panas pada vagina yang terkait dengan infeksi ragi, tentu membuat hubungan seks tak nyaman.  

Salah satu hal yang mungkin menganggu Anda untuk melakukan hubungan seks adalah metode perawatan atau pengobatan yang digunakan untuk mengatasi infeksi ragi. “Jika seorang wanita menggunakan pengobatan krim untuk merawat infeksi, sebaiknya tunda berhubungan seks sampai pengobatan ini tuntas, karena aktivitas seks hanya akan menyebabkan obat keluar dari vagina,” kata Dr. Gray-Swain. “Krim vagina tertentu juga dapat menyebabkan iritasi pada penis.”

Bisa Menular ke Pasangan

Secara umum, infeksi ragi seringkali tidak menyebar dari satu pasangan ke pasangan lainnya selama berhubungan seks. Namun demikian, ada situasi yang membuat infeksi itu menular.

Meski pria biasanya tidak mengeluarkan cairan akibat infeksi seperti layaknya wanita, namun sekitar 15 persen pria mengalami ruam pada penis mereka setelah mereka berhubungan seks dengan wanita yang memiliki infeksi ragi. Angka kasus ini tertinggi pada pria yang tidak disunat.

Dalam hubungan sesama wanita (lesbian), ada kemungkinan infeksi ragi menular di antara pasangan, meski kasus ini belum diteliti secara lebih seksama.

Jika pasangan Anda (pria atau wanita) mulai mengalami tanda-tanda infeksi ragi, seperti gatal, panas, kemerahan, atau keluar cairan, mereka harus segera menghubungi dokter untuk memastikan diagnosis dan memulai perawatan.

Meski infeksi ragi tidak berbahaya bagi kebanyakan orang, kondisi ini dapat menyebabkan ketidaknyamanan, misalnya vagina terasa gatal dan panas.

Keputusan untuk melakukan aktivitas seksual selama infeksi ragi sepenuhnya tergantung pada apa yang Anda atau pasangan Anda rasakan selama berhubungan intim, yakni nyaman atau tidak.

 

2019 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check