1 Juta Orang Telah Terima Vaksin Covid-19, Tak Ada Efek Samping Serius

1 Juta Orang Telah Terima Vaksin Covid-19, Tak Ada Efek Samping Serius

24 Nov 2020

Dokterdigital.com - Hampir satu juta orang telah diberi vaksin virus korona eksperimental yang dikembangkan oleh Sinopharm sebagai bagian dari program penggunaan darurat yang disahkan oleh Beijing. Sejauh ini tidak ada efek samping serius yang dilaporkan dari penerima vaksin, demikian menurut keterangan dalam sebuah artikel di platform media sosial WeChat, mengutip Ketua Liu Jingzhen.

 

"Dalam penggunaan darurat, kami sekarang telah menggunakannya pada hampir satu juta orang. Kami belum menerima laporan reaksi merugikan yang serius, dan hanya sedikit yang mengalami gejala ringan," kata Liu.

 

Liu menambahkan, vaksin telah diberikan kepada pekerja konstruksi Cina, diplomat, dan siswa yang telah pergi ke lebih dari 150 negara selama pandemi - dan tidak ada dari mereka yang melaporkan infeksi. Dia mengatakan pada 6 November bahwa ada 56.000 orang yang telah menerima vaksinasi darurat dan kemudian pergi ke luar negeri. Misalnya, sebuah perusahaan transnasional memiliki 99 karyawan di salah satu kantornya di luar negeri, 81 di antaranya divaksinasi. Dan kemudian, wabah melanda di kantor, 10 dari 18 orang yang tidak divaksinasi terinfeksi dan tidak ada yang divaksinasi. terinfeksi, klaim Liu.

 

Sementara itu, perusahaan farmasi Johnson & Johnson mengharapkan melihat hasil efikasi vaksin virus corona pada Januari atau Februari 2021, kata Dr.Paul Stoffels, kepala ilmuwan perusahaan. "Titik akhir efikasi (kemanjuran) seharusnya sudah ada dalam beberapa minggu atau bulan pertama, Januari atau Februari, di tahun baru," kata Stoffels pada konferensi yang dihelat Reuters.

 

Stoffels mengatakan perusahaan itu merekrut lebih dari 1.000 orang setiap hari untuk uji klinis vaksinnya dan berharap mencapai target 60.000 peserta pada akhir tahun ini. “Bukan hanya kemanjurannya. Ini juga menyangkut keamanan vaksin, ”kata Stoffels. “Kami membutuhkan setengah dari orang-orang yang terpapar vaksin selama dua bulan - seperti yang mungkin Anda ketahui dari pedoman FDA - sehingga itu akan membawa kami sekitar akhir tahun, atau awal tahun depan untuk mendapatkan semua datanya.”

 

Stoffels mengatakan Johnson & Johnson juga bekerja keras untuk memenuhi tujuan keragaman untuk uji klinisnya. Johnson & Johnson menghentikan uji coba pada Oktober silam karena penyakit yang tidak dapat dijelaskan pada peserta ujicoba vaksin. Stoffels, Dewan Keamanan dan Pemantauan Data independen  (DSMB) menetapkan bahwa penyakit tidak terkait dengan vaksin, dan perusahaan tidak mengalami kejadian tak terduga sejak saat itu.

 

“DSMB sedang mencermati,” tambahnya. “Kami memiliki ulasan rutin tentang keamanan, dan sejauh ini, sangat bagus.”

2021 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check