Morning Sickness Parah saat Hamil Tingkatkan Risiko Baby Blues dan Depresi

Morning Sickness Parah saat Hamil Tingkatkan Risiko Baby Blues dan Depresi

22 Oct 2020

Dokterdigital.com - Sebagian ibu hamil mungkin lumrah mengalami mual muntah selama trimester pertama kehamilan. Sebuah studi baru menemukan bahwa mual di pagi hari yang parah dikaitkan dengan depresi - sebuah hubungan yang mungkin bertahan setelah kehamilan. Banyak orang mengetahui tentang hiperemesis gravidarum ketika Catherine, Duchess of Cambridge, dirawat di rumah sakit karena kondisi yang dia alami pada ketiga kehamilannya.

 

Para peneliti di Imperial College London menemukan bahwa wanita dengan hiperemesis gravidarum, suatu bentuk mual di pagi hari yang parah yang terjadi pada tahap awal kehamilan, memiliki risiko depresi yang lebih besar selama dan setelah kehamilan. Tim tersebut mengamati kaitan tersebut dalam uji klinis terhadap lebih dari 200 wanita dan mempublikasikan temuan mereka di jurnal medis online BMJ Open.

 

Kehamilan menyebabkan banyak perubahan pada wanita, dari tingkat hormon hingga perubahan suasana hati. Terkadang efek ini bertahan lama setelah bayi dilahirkan. Salah satu keluhan kehamilan yang paling umum adalah morning sickness yang paling sering terjadi pada trimester pertama. Kondisi Ini dapat menyebabkan mual dan muntah, sering kali dipicu oleh bau atau makanan tertentu.

 

Berbeda dengan istilahnya, ibu hamil bisa mengalami mual di pagi hari kapan saja, sepanjang hari, atau bahkan sepanjang hari - bukan hanya di pagi hari. Walaupun mungkin tidak menyenangkan bagi ibu, mual di pagi hari tidak membahayakan bayi. Umumnya  mual di pagi hari hilang pada minggu ke 16 hingga 20 kehamilan. Namun sejulah wanita mungkin mengembangkan versi morning sickness yang parah.

 

Para peneliti menyelidiki efek hiperemesis gravidarum pada 214 wanita hamil dari tiga rumah sakit London. Separuh wanita menunjukkan tanda-tanda hiperemesis gravidarum, sedangkan separuh lainnya tidak mengalami mual atau muntah yang berarti. Tak satu pun dari peserta menerima perawatan untuk kondisi kesehatan mental dalam satu tahun terakhir. 

 

Para peneliti melakukan penilaian psikologis partisipan pada trimester pertama dan enam minggu setelah melahirkan. Penilaian psikologis menunjukkan bahwa 49% wanita dengan hiperemesis gravidarum mengalami depresi selama kehamilan. Hanya 6% wanita tanpa hiperemesis gravidarum mengalami hal yang sama. Setelah melahirkan, 29% wanita dengan hiperemesis gravidarum masih dilaporkan mengalami depresi, dibandingkan dengan 7% wanita tanpa kondisi tersebut.

 

Tingkatkan Risiko Baby Blues dan Depresi

 

Nicola Mitchell-Jones, MD, penulis utama studi mengatakan bahwa wanita dengan hiperemesis gravidarum memiliki risiko depresi delapan kali lebih besar selama kehamilan. Setelah hamil, mereka berisiko empat kali lebih besar mengalami depresi. Tingkat risiko menunjukkan perlunya dukungan kesehatan mental tidak hanya dari profesional perawatan kesehatan, tetapi dari pasangan, keluarga dan teman. “Kerap didengar bahwa pasangan, kerabat, atau rekan kerja mereka tidak memberikan dukungan yang mereka butuhkan karena mereka gagal untuk memahami parahnya apa yang dialami para wanita ini," kata Dr. Mitchell-Jones, spesialis di bidang kebidanan dan ginekologi.

 

Para peneliti juga melihat ikatan antara ibu dan bayinya. Tampaknya tidak ada hubungan atau dampak langsung dari hiperemesis gravidaru pada ikatan itu. Namun, penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa depresi dapat berdampak negatif. Para penulis mencatat bahwa delapan wanita dengan hiperemesis gravidarum memilih mengakhiri kehamilan mereka. Sebelumnya, para wanita ingin mempertahankan bayinya, jadi depresi mungkin berperan dalam pengambilan keputusan.

 

Wanita yang mengalami depresi selama kehamilan mungkin terus merasa tertekan setelah melahirkan. Ini mungkin terkait dengan fenomena “baby blues" emosi berbeda yang terkadang terkait dengan hadirnya bayi baru, seperti kecemasan, mantra menangis, dan perubahan suasana hati.

 

Para ahli mengingatkan anggota keluarga harus mengawasi ibu baru jika dia menunjukkan tanda-tanda baby blues, karena ini dapat menunjukkan depresi pascapersalinan, gangguan mood yang lebih parah yang sebagian terkait dengan fluktuasi hormon. Para ibu yang mengalami depresi pascapersalinan harus berkonsultasi dengan dokter. Anak-anak dari ibu dengan depresi pascapersalinan yang tidak diobati mungkin mengalami masalah perilaku dan emosional.

 

Morning sickness parah yang tidak ditangani sengan baik dapat menyebabkan depresi. Pengalaman yang tidak menyenangkan dapat berdampak parah pada kualitas hidup ibu dan keluarga secara keseluruhan.

 

Jika ibu hamil mengalami mual di pagi hari yang parah, bicarakan dengan dokter. Diagnosis dini hiperemesis gravidarum dapat mengarah pada pengobatan dini. Semakin banyak pilihan pengobatan yang tersedia, semakin banyak pilihan yang dimiliki seorang wanita untuk menyesuaikan dengan situasinya, demikian Medical Daily.

2020 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check