Pangan Fungsional, Cara Mudah Jaga Imunitas Tubuh di Tengah Pandemi Covid-19

Pangan Fungsional, Cara Mudah Jaga Imunitas Tubuh di Tengah Pandemi Covid-19

21 Oct 2020

Dokterdigital.com - Dunia menghadapi potensi krisis pangan akibat pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung sejak Desember 2019 dan belum menunjukkan tanda-tanda segera berakhir. Langkah penanganan pandemi yang dilakukan banyak negara dengan membatasi aktivitas masyarakatnya, telah mengganggu rantai pasokan pangan karena kekurangan tenaga kerja untuk memproduksi dan memproses pangan, demikian peringatan Badan Pangan dan Pertanian Dunia (FAO). 

 

Adanya  kesulitan akses ke pasar bagi petani kecil, pembatasan transportasi dan berkurangnya pasokan komoditas yang mudah rusak yang juga menyebabkan terlalu banyak food loss juga menambah masalah. Oleh karenanya, setiap negara dituntut untuk menjaga pasokan pangannya sekaligus menangani wabah virus corona di negara masing-masing.

 

Tak bisa dimungkiri, di masa pandemi Covid-19, ketahanan pangan jadi hal penting yang perlu diperhatikan untuk memastikan kebutuhan gizi masyarakat.  Dikatakan Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, MSc, Guru Besar IPB & Tim Pakar Indofood Riset Nugraha (IRN), gangguan sistem distribusi di masa pandemi bisa mempengaruhi pola konsumsi dan status gizi, khususnya bagi populasi rentan. “Stres pada sistem pangan bisa berakibat serius. Hubungan langsungnya, asupan pangan yang baik akan berikan gizi baik  yang berguna bagi peningkatan daya tahan tubuh yang sangat perlu di masa pandemi sekarang ini,” ujar Prof. Purwiyatno di acara simposium daring yang mengangkat tema “Covid-19 & Sistem Pangan Berkelanjutan : Dampak, Tantangan & Peluang Bagi Industri Pangan” yang dihelat Indofood Sukses Makmur, Rabu (21/10).

 

Menurut Prof Purwiyatno, Tim Satgas Covid-19 telah mengidentifikasi bahwa daya tahan tubuh yang baik merupakan prasyarat pada penanganan Covid-19. “Daya tahan tubuh yang baik juga meningkatkan peluang sembuh bagi mereka yang sakit Covid-19,” ujarnya.

 

Ditambahkan Guru Besar IPB, gangguan pasokan pangan berpotensi mengganggu stabiltas sosial dan ekonomi sehingga penanganan pandemi juga akan terganggu, bahkan berlarut-larut. “Terganggunya sistem pangan di sisi produksi, distribusi, konsumsi akan ganggu upaya mitigasi pandemi sehingga perlu dikelola risikonya yang mungkin ada pada sistem pangan,” beber Prof. Purwiyatno seraya nenambahkan kaum milenial bisa membantu memperbaiki ketahanan pangan agar makin kokoh.

 

Waspadai HIdden Hunger

 

Hal senada diungkapkan oleh Prof. Dr. Ir. Bustanul Arifin, MS., Guru Besar Universitas Lampung & Tim Pakar IRN yang menekankan perlunya mewaspadai hidden hunger di masa pandemi. Hidden hunger merupakan bentuk kekurangan gizi mikro berupa defisiensi zat besi, yodium, asam folat, vitamin A dan beberapa jenis vitamin B yang tersembunyi. Disebut hidden hunger (kelaparan tersembunyi), karena dari luar tidak menampakkan gejala, tapi sebenarnya penderitanya jadi gampang sakit.

 

Kondisi ini disebabkan karena rendahnya asupan zat gizi mikro. Hal ini merupakan salah satu pemicu tingginya angka kematian ibu dan anak, penyakit akibat infeksi, rendahnya kecerdasan anak serta dapat menurunkan produktivitas kerja. Pada ibu hamil, dampak dari hidden hunger bisa menurun kepada anaknya. Ibu yang kekurangan gizi bisa mengalami anemia dan melahirkan anak yang berisiko tinggi mengalami kekurangan gizi dan terhambat pertumbuhan (stunting).

 

Anak milenial bisa berkontribusi pada ketahanan pangan dengan melakukan digital farming. “Mereka pakai jari, bisa hubungkan antara petani dengan konsumen secara digital dan meningkatkan nilai pangan lokal,” ujar Prof Bustanul. 

 

Harus diakui, pangan lokal tidak akan berkembang hanya melalui himbauan. “Harus ada peningkatan nilai tambah, dari sini akan mengubah perilaku konsumsi. Misalnya menepungkan makanan sehingga lebih efisien dan menjadi pangan alternatif. Hal ini bisa dikaitkan dengan dikaitkan dengan  kuliner makanan khas lokal yang terintegrasi dengan pariwisata,” beber Prof Bustanul. “Misalnya Bebek Sinjay di Madura. Ini bukti nilai tambah pada kuliner. Dikaitkan dengan kearifan lokal, maka industri pangan akan maju. Dikemas dengan cara yang baik sehingga membuat orang mau mengonsumsi.”

 

Peran Pangan Fungsional

 

Di kesempatan yang sama, Dr. Widjaya Lukito, SpGK., PhD tim panelis IRN menambahkan, pangan fungsional bisa menjadi cara mudah untuk menjaga imunitas tubuh di tengah pandemi Covid-19. Konsep pangan fungsional mulai berkembang saat kandungan zat gizi atau fitonutrien pada makanan punya fungsi biologis sehinggga bisa perbaiki gangguan metabolik dan sebagainya. “Dari situ berkembang konsep pangan fungsional. Ikan misalnya, termasuk pangan fungsional karena banyak mengandung asam lemak omega 3 yang memiliki fungsi yang baik dalam menjaga kesehatan pembuluh darah,” ujarnya menjawab pertanyaan dokterdigital.

 

Widjaya mencontohkan di Ambon, sagu dianggap sebagai makanan pokok namun kurang dihargai.”Padahal sagu ini memiliki kelebihan, indeks glikemik rendah namun tinggi serat sehingga baik bagi kesehatan usus,” bebernya. Sagu bisa menjadi prebiotik yang memberi makanan untuk bakteri baik (mikrobiota) di usus. Demikian juga dengan pisang, yang tingkat kematangan berbeda maka beda pula fungsinya. 

 

Tim panelis IRN yang juga spesialis gizi klinik dari Universitas Indonesia menekankan harus ada terobosan promosi nutrisi kesehatan dengan pendekatan terbaru. “Pangan fungsional bisa direkayasa sehingga kandungan gizinya bisa naik, misalnya telur diperkaya dengan omega 3,” ujarnya. Indonesia, lanjut Widjaya, memiliki miliki kekayaan pangan fungsonal yang luar biasa. “Pihak berwenang harus punya novel approach dengan pola mindset yang baru untuk mengoptimalkan potensi ini.”

 

Widjaya menyarankan agar masyarakat tidak euforia dengan datangnya vaksin Covid-19. Alternatif terbaik adalah dengan pendekatan pangan dan gizi untuk menghadapi pandemi, karena itulah yang kita konsumsi sehari-hari. “Covid-19 menjadi momentum terbaik untuk membangun kesadaran konsumsi pangan bergizi dan diversifikasi pangan lokal. Pendekatan pangan dan gizi tampaknya lebih baik untuk tangani masalah pandemi,” pungkas Widjaya.

 

2020 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check