Mengintip Hubungan Hipertensi dan Keparahan COVID-19

Mengintip Hubungan Hipertensi dan Keparahan COVID-19

15 Oct 2020

Dokterdigital.com - Dunia saat ini sedang menderita ‘demam’ wabah yang disebabkan oleh virus corona sindrom pernapasan akut parah - SARS-CoV-2 - yang menyebabkan penyakit COVID-19. Wabah ini pertama kali dilaporkan di Wuhan, Provinsi Hubei, Cina pada 31 Desember 2019. Hingga 14 Oktober, tak kurang dari 38 juta populasi global dilaporkan terinfeksi COVID-19 dengan menelan korban jiwa lebih dari sejuta nyawa.

 

Fitur klinis dan epidemiologis COVID-19 telah berulang kali dipublikasikan. Menariknya, komorbiditas spesifik yang terkait dengan peningkatan risiko infeksi dan hasil keparahan penyakit termasuk kematian telah dilaporkan. Komorbiditas (penyakit penyerta), yang paling umum dalam laporan ilmiah adalah hipertensi (30%), diabetes (19%), dan penyakit jantung koroner (8%, dilaporkan American Journal of Hypertension. Laporan lain menunjukkan bahwa komorbiditas paling sering terjadi pada pasien COVID-19 yang mengalami sindrom gangguan pernapasan akut adalah hipertensi (27%), diabetes (19%), dan penyakit kardiovaskular (6%).

 

Hipertensi disebut-sebut sebagai komorbid paling kuat dikaitkan dengan COVID-19. Hal ini tidak terlalu mengejutkan, namun demikian keduanya tidak selalu menyiratkan hubungan kausal antara hipertensi dan COVID- 19 atau tingkat keparahannya. Alasannya, hipertensi sangat sering terjadi pada orang tua, dan orang tua tampaknya memiliki risiko tertentu untuk terinfeksi virus SARS-CoV-2 dan mengalami bentuk dan komplikasi COVID-19 yang parah.

 

Tidak jelas apakah tekanan darah yang tidak terkontrol merupakan faktor risiko tertular COVID-19, atau apakah tekanan darah yang terkontrol di antara pasien dengan hipertensi merupakan faktor risiko atau tidak. Namun, beberapa organisasi telah menekankan fakta bahwa pengendalian tekanan darah tetap menjadi pertimbangan penting untuk mengurangi beban penyakit, meskipun tidak berpengaruh pada kerentanan terhadap infeksi virus SARS-CoV-2.

 

Namun demikian, fakta bahwa hipertensi, dan bentuk lain dari penyakit kardiovaskular yang juga sering ditemukan pada pasien COVID-19, sering diobati dengan inhibitor angiotensin-converting enzyme (ACE) dan penghambat reseptor angiotensin (ARB), dan SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan COVID-19, mengikat ACE2 di paru-paru untuk memasuki sel, telah memunculkan sejumlah pertanyaan mengenai kemungkinan bahwa agen ini dapat bermanfaat atau benar-benar  berdampak ‘jahat’ pada pasien COVID-19. 

 

Riset menunjukkan bahwa ACE inhibitor dan ARB meningkatkan ACE2, yang secara teoritis dapat meningkatkan pengikatan SARS-Cov-2 ke paru dan efek patofisiologisnya yang menyebabkan cedera paru yang lebih besar. Namun, ACE2 sebenarnya telah terbukti melindungi dari cedera paru dalam studi eksperimental. ACE2 membentuk angiotensin 1-7 dari angiotensin II, dan dengan demikian mengurangi aksi inflamasi angiotensin II, dan meningkatkan potensi efek anti-inflamasi angiotensin 1 –7. 

 

Dengan mengurangi pembentukan angiotensin II dalam kasus penghambat ACE, atau dengan melawan aksi angiotensin II dengan memblokir reseptor angiotensin AT1 dalam kasus ARB, agen ini sebenarnya dapat berkontribusi untuk mengurangi peradangan secara sistemik dan terutama paru, jantung, dan ginjal. Dengan demikian, ACE inhibitor dan ARB dapat mengurangi potensi perkembangan sindrom gangguan pernapasan akut, miokarditis, atau cedera ginjal akut, yang dapat terjadi pada pasien COVID-19. 

 

Faktanya, ARB telah disarankan sebagai pengobatan untuk COVID-19 dan komplikasinya. Riset menemukan, peningkatan ACE2 terlarut dalam sirkulasi dapat mengikat SARS-CoV-2, mengurangi kemampuannya untuk melukai paru dan organ pembawa ACE2 lainnya. Menggunakan ACE2 rekombinan disebut-sebut bisa menjadi pendekatan terapeutik pada COVID-19 untuk mengurangi viral load dengan mengikat partikel virus SARS-CoV-2 yang beredar dan mengurangi potensi keterikatannya ke jaringan ACE2. 

 

Terkait dengan pemberian obat pada pasien hipertensi yang diklaim dapat meningkatkan ikatan virus COVID-19 dengan sel tubuh, dokter perlu bersikap hati-hati dalam hal ini.  Menurut Ketua Umum InaSH (Indonesian Society of Hypertension - Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia ), dr. Tunggul D. Situmorang, Sp.PD-KGH, pasien hipertensi sebaiknya jangan buru-buru menghentikan pengobatan tanpa seizin dokter. “Menghentikan obat tanpa konsultasi dengan dokter malah bisa berbahaya, tekanan darah bisa melonjak tak terkendali dan hal ini dekat dengan risiko terkena stroke yang bisa mengancam nyawa,” ujar Tunggul dalam diskusi daring yang dihelat OMRON Healthcare Indonesia, baru-baru ini.

 

Tekanan darah tinggi adalah kondisi yang serius. Jika tidak ditangani, ini dapat menyebabkan banyak masalah kesehatan lainnya. Risiko kesehatan yang terkait dengan tekanan darah tinggi termasuk penyakit jantung, stroke, dan demensia.

 

Bukti terbaru menunjukkan bahwa orang dengan tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol atau tidak diobati mungkin berisiko sakit parah dengan COVID-19. Penting juga untuk dicatat bahwa orang dengan tekanan darah tinggi yang tidak diobati tampaknya lebih berisiko mengalami komplikasi dari COVID-19 daripada mereka yang tekanan darah tingginya ditangani dengan obat-obatan.

 

Riset menyebut, belum ada bukti bahwa pengobatan penghambat ACE atau penggunaan ARB berbahaya, atau bahkan bermanfaat, selama pandemi COVID-19. Penggunaan agen ini harus dipertahankan untuk mengontrol tekanan darah, dan tidak boleh dihentikan, setidaknya berdasarkan bukti saat ini.

2020 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check