Stres Selama Pandemi Bisa Pengaruhi Asupan Nutrisi pada Anak

Stres Selama Pandemi Bisa Pengaruhi Asupan Nutrisi pada Anak

30 Sep 2020

Dokterdigital.com - Status gizi anak dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas makanan yang dikonsumsi. Selama harus lebih banyak tinggal di rumah, anak mungkin merasa bosan dengan menu makanan di rumah. Oleh karena itu, orangtua perlu menyediakan variasi jenis nutrisi yang mengikuti pola makan bergizi seimbang agar anak tidak kekurangan gizi yang dibutuhkannya.

 

Tinggal lebih banyak di rumah di masa pademi bisa mendatangkan stres bagi siapa saja, termasuk anak-anak. Stres yang tidak dikelola dengan baik berpotensi menurunkan nafsu makan, yang dapat mempengaruhi asupan nutrisi yang dikonsumsi anak. Selama masa pandemi, orangtua memiliki peran penuh dalam mengawasi tumbuh kembang anak yang optimal. 

 

Momen di rumah saja merupakan saat yang tepat untuk memperkenalkan anak mengenai gaya hidup sehat dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang yang sesuai dengan panduan “Isi Piringku”. Untuk mendukung pertumbuhan anak yang optimal, pastikan sebanyak 12 hingga 15 persen dari porsi makanan hariannya merupakan sumber protein. 

 

Protein berguna untuk membantu pertumbuhan, pemeliharaan dan perbaikan tubuh anak. Penelitian menyebut bahwa 95% hormon serotonin diproduksi di usus . Hal ini menandakan bahwa apa yang kita makan dan kesehatan saluran cerna dapat memengaruhi kesehatan psikis. Selain situasi hati anak bisa mempengaruhi keinginannya untuk makan bergizi seimbang, anak yang tidak menerima asupan gizi seimbang juga berpotensi mengalami kecemasan. 

 

Menurut dokter spesialis gizi klinik Juwalita Surapsari, gizi seimbang dapat dicapai apabila makanan yang dikonsumsi dalam jumlah cukup, berkualitas baik, dan beragam jenisnya untuk memenuhi berbagai nutrisi yang diperlukan oleh tubuh. Agar anak mendapatkan gizi seimbang, kebutuhan akan nutrisi makro (karbohidrat, protein, lemak) dan mikro (vitamin dan mineral) harus dipenuhi. 

 

Namun, membuat anak mau mengonsumsi makanan yang sesuai dengan kebutuhan nutrisinya juga bukan perkara mudah. Saat di rumah saja, anak cenderung cepat bosan dan memilih makanan yang mereka sukai saja. Hal ini bisa berdampak pada kurangnya asupan nutrisi yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang optimal.

 

Menurut Juwalita, selain porsi, variasi dan jadwal makan juga perlu diperhatikan untuk mengoptimalkan manfaat nutrisi yang dikonsumsi sesuai kebutuhan anak. ”Contohnya olahan protein nabati dari kacang-kacangan seperti olahan soya bisa dijadikan alternatif variasi dalam menu gizi seimbang, terutama nutrisi untuk anak berbasis soya yang difortifikasi, dapat menjadi pilihan ibu karena dapat dikonsumsi oleh siapa saja, tidak hanya terbatas pada anak dengan kondisi medis tertentu,” ujar Juwalita dalam diskusi online Bicara Gizi yang dihelat Danone Specialized Nutrition, Rabu (30/9).

 

Dukung Kondisi Pskis Anak

 

Selain dukungan gizi seimbang, kondisi psikis ibu dan anak juga harus didukung. Tanpa disadari, kondisi psikis orang tua dan anak saling berkaitan. Stres berkepanjangan yang tidak diolah dengan baik dapat mempengaruhi perilaku makan anak di rumah. Padahal asupan nutrisi adalah sumber pertahanan imun untuk saat ini.  Untuk itu, orangtua perlu memantau mood anak dengan baik di samping mengelola stresnya sendiri. 

 

Salah satu cara mengatasi rasa bosan anak adalah dengan mencoba keterampilan atau pengalaman baru dengan interaksi yang menyenangkan bersama anggota keluarga. Melibatkan anak dalam menyiapkan menu gizi seimbang sesuai dengan usia dan kemampuan anak bisa menjadi alternatif kegiatan menyenangkan yang juga edukatif, demikian disarankan psikolog anak dan keluarga  Putu Andani.

 

Putu mencontohkan untuk anak usia yang lebih kecil, bisa diajarkan mencuci buah dan sayur, memilah jenis makanan, menghitung jumlah makanan atau alat makan serta mengeksplorasi nama, warna dan aroma dari berbagai jenis makanan. Sedangkan untuk anak yang lebih besar, bisa dilibatkan untuk memotong, mencampur adonan, mengenalkan dan mencampur bahan, menentukan porsi makan dan menata peralatan makan di meja. Apabila dilakukan bersama-sama dan tanpa distraksi dapat mengasah perkembangan kemampuan kognitif, fisik, sosial dan emosional anak serta meningkatkan bonding antara ibu dan anak.

 

Sepanjang tahap kehidupannya, anak memiliki berbagai kebutuhan psikologis yang perlu dipenuhi, antara lain merasa bisa mandiri, berinisiatif, dan menghasilkan suatu karya. “Melibatkan anak pada proses dan memberikan keleluasaan untuk menentukan pilihan akan memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut sehingga kesehatan psikis anak tetap terjaga,” tandas Putu.

2020 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check