Begini Tahapan Serangan Virus Corona dan Dampaknya bagi Organ Tubuh

Begini Tahapan Serangan Virus Corona dan Dampaknya bagi Organ Tubuh

27 Sep 2020

Dokterdigital.com - Para pakar kesehatan terus mempelajari tentang efek jangka pendek dan jangka panjang Covid-19 pada tubuh.  Bagi sebagian orang, infeksi Covid-19 dimulai dengan gejala flu dasar. Tapi akhirnya bisa mempengaruhi paru-paru, hati, ginjal, dan bahkan otak.

 

Bagaimana  Covid-19 menyebar? Biasanya virus melakukan kontak dengan seseorang ketika orang yang terinfeksi di dekatnya mengirimkan tetesan ke udara melalui batuk, bersin, atau berbicara. Virus corona menyebar dengan mudah di antara orang-orang dalam jarak sekitar 2 meter. Orang yang terinfeksi dapat menyebarkan tetesan ini, meskipun mereka tidak merasa sakit. Virus dapat menginfeksi seorang individu setelah ia menyentuh objek, seperti gagang pintu, yang mengandung virus. 

 

Begitu virus masuk ke dalam tubuh, biasanya kuman ini menetap di sel yang melapisi hidung, rongga sinus, dan tenggorokan. Bagi kebanyakan orang, ini adalah tempat virus bersemayam. Gejala sering mengikuti setelahnya, tetapi mungkin ada juga orang yang tidak merasakan apa-apa hingga 2 minggu, karena virus mulai menyerang sel sehat dan berkembang biak. Orang yang tidak menunjukkan gejala dapat menularkannya kepada orang lain.

 

Gejala pertama yang biasanya muncul akibat infeksi virus corona antara lain demam, sakit kepala, sakit tenggorokan, dan batuk kering. Tapi apa yang dirasakan bisa sangat bervariasi pada tahap awal, termasuk merasakan gejala sesak napas, menggigil, demam, nyeri tubuh, kehilangan indra penciuman atau pengecap, kelelahan yang tidak biasa, hidung tersumbat atau berair, mual atau diare.

 

Jika sistem kekebalan tubuh tidak dapat menundukkan Covid-19 pada minggu pertama atau lebih, virus dapat berpindah ke paru-paru. Di sana, ia menyerang sel yang melapisi organ napas. Cairan dan lendir menumpuk dan membuatnya lebih sulit untuk mendapatkan oksigen ke darah. Sulit bernapas merupakan gejala pneumonia. Kebanyakan orang pulih dalam satu atau dua minggu, tetapi bisa memakan waktu lebih lama.

 

Pada sindrom gangguan pernapasan akut (ARDS), pneumonia akibat Covid-19 bisa memburuk dengan cepat, dan respons tubuh dapat lebih merusak paru. Kantung udara kecil dan halus (disebut alveoli) yang mentransfer oksigen ke darah mulai terisi dengan kotoran. Sinar-X dan CT scan dapat menunjukkan bahwa sebagian besar paru-paru tidak ada udara sama sekali. Kadar oksigen dalam darah menjadi sangat rendah, dan sebagian besar orang mungkin memerlukan ventilator untuk membantu bernapas.

 

Masalah Sistem Kekebalan Tubuh

 

Banyak dokter mengira respons imun yang berlebihan menyebabkan banyak konsekuensi yang lebih serius dari Covid-19. Kadar zat pemberi sinyal kimiawi yang disebut sitokin menjadi sangat tinggi sehingga sel kekebalan mulai menyerang jaringan sehat. Dokter mungkin menyebutnya sebagai badai sitokin, yang dapat menyebabkan hal-hal seperti tekanan darah rendah, kegagalan organ, dan kerusakan pembuluh darah.

 

Dokter juga telah menemukan sejumlah masalah jantung pada pasien Covid-19, terutama pada mereka yang sakit parah, antara lain aritmia (irama jantung tidak teratur atau berdebar kencang), kardiomiopati (jantung melemah karena jaringan jantung yang menebal dan menegang), cedera jantung akut (tubuh melepaskan protein tingkat tinggi yang disebut troponin -  biasanya terjadi ketika jantung rusak), dan syok, yang terjadi ketika jantung tidak dapat memompa cukup darah untuk tubuh.

 

Covid-19 tampaknya juga dapat menyerang sel yang melapisi pembuluh darah. Selain masalah jantung, Covid juga dapat menyebabkan pembekuan darah yang menyebabkan stroke atau emboli paru. Pasien Covid-19 yang sakit parah sering kali memiliki lebih banyak zat yang oleh dokter disebut "D-dimer" dalam darah - yang menandakan lebih banyak pembekuan darah.

 

Covid-19 juga menyebabkan masalah pada sistem saraf, termasuk kejang. Virus corona bisa memicu  pembengkakan di otak atau pembengkakan sistem saraf pusat.  Gejala lain yang mungkin terkait dengan otak mencakup kehilangan kesadaran, hilangnya indra penciuman (anosmia), dan stroke.

 

Covid-19 juga berdampak pada hati. Hampir separuh orang di rumah sakit karena Covid-19 memiliki tingkat enzim dalam darah yang menandakan kerusakan hati. Mungkin bukan virus itu sendiri yang menyebabkannya, karena bisa jadi obat atau sistem kekebalan yang bekerja terlalu keras dapat menyebabkan hal semacam ini.

 

Covid juga memicu munculnya msalah mata. Sekitar sepertiga orang di rumah sakit karena Covid-19 menderita konjungtivitis, yang mungkin dikenal sebagai mata merah. Hal itu terjadi ketika virus, bakteri, atau alergen mengiritasi jaringan yang menutupi mata dan bagian dalam kelopak mata.

 

Kerusakan ginjal umum terjadi pada orang yang sakit parah akibat Covid. Obat-obatan, sistem kekebalan yang tidak berfungsi dengan baik, tekanan darah rendah, dan kondisi yang dialami sebelum terkena virus semuanya dapat berkontribusi dalam msalah ginjal.

 

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa hingga 40% orang dengan Covid-19 tidak menunjukkan gejala. Itu artinya mereka tidak merasa sakit atau memiliki gejala. Tapi virus masih bisa menyerang tubuh Sinar-X dan CT scan dari beberapa orang tanpa gejala menunjukkan kerusakan paru-paru termasuk "kekeruhan kaca tanah" lesi paru-paru yang khas pada orang dengan Covid-19, demikian dirangkum dari WebMD. 

 

2020 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check