Bekal Penting Orangtua Sebelum Melepas Anak ke Sekolah di Masa Pandemi Covid-19

Bekal Penting Orangtua Sebelum Melepas Anak ke Sekolah di Masa Pandemi Covid-19

24 Sep 2020

Dokterdigital.com - Penanaman Perilaku HIdup Bersih dan Sehat (PHBS) secara intensif dan berkelanjutan menjadi sangat krusial karena anak merupakan salah satu golongan usia yang rentan terjangkit penyakit, termasuk Covid-19.  Data Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 menyebut jumlah kematian anak (0-18 tahun) akibat Covid-19 di Indonesia tertinggi se-Asia Pasifik, angkanya 1,1% lebih tinggi dari Cina, Italia dan Amerika. Data lain juga menunjukkan bahwa Indonesia menduduki peringkat pertama terkait proporsi angka kejadian Covid-19 pada anak, yaitu sebesar 9,1%.

 

Permasalahan ini pun makin menantang karena berbagai kegiatan harus tetap berjalan, termasuk belajar mengajar. Direktur Sekolah Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Sri Wahyuningsih mengatakan hak anak untuk mendapatkan pendidikan harus tetap diprioritaskan demi masa depannya. “Namun sebelum melepas mereka kembali bersekolah, kita harus membiasakan PHBS sejak dini sebagai kunci mengendalikan penyebaran COVID-19 di lingkungan pendidikan,” ujar Sri di acara “Program Sekolah dan Pesantren Sehat” yang digelar Unilever Indonesia Doundation, Kamis (24/9).

 

"Selain memastikan seluruh sekolah menerapkan protokol kesehatan dengan ketat, Kemendikbud RI sangat mendorong peran serta para pengajar serta orang tua untuk membekali anak dengan pengetahuan PHBS tepat sejak dini sebagai modal agar mereka dapat belajar dengan aman," imbuh Sri Wahyuningsih.

 

Dokter spesialis anak Mesty Ariotedjo, menekankan pentingnya tindakan preventif untuk menekan laju Covid-19. ”Jumlah kasus Covid-19 di Indonesia masih menunjukkan tren naik, hingga kini sekitar 250 ribu orang terinfeksi virus corona. Dari jumlah itu, kasus Covid-19 pada anak mencapai sekitar 18 ribu,” ujar Mesty.

 

Masyarakat perlu memahami bahwa meski seringkali tidak menunjukkan gejala, anak yang terinfeksi SARS-CoV-2 memiliki jumlah virus dalam darah atau viral load yang tinggi di saluran napas sehingga kemungkinan mereka menularkan individu lainnya sangat besar. Meski tidak sakit meski membawa virus corona, anak-anak ini berpotensi jadi agen oenularan senyap. “Viral load pada anak lebih banyak daripada orang dewasa, jadi peluang penularan ke orang lain lebuh besar, terutama orang yang rentan, misalnya kaum lanjut usia, kakek nenek,” beber Mesty.

 

Data Dinkes Jakarta menyebut sekira 55% kasus Covid-19 tidak ada gejala. Yang mencemaskan, 1 dari 5 pasien Covid-19 di atas usia 70 tahun, akan meninggal. “Jadi kalau di rumah ada kakek nenek, anak-anak tanpa gejala ini berisiko menularkan virus ke mereka,” ujar Mesty.

 

Mengingat kondisi Covid-19 di Indonesia belum menunjukkan perbaikan, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDA) menyarankan dilakukan pembelajaran jarak jauh untuk meminimalkan penularan virus. “IDAI sarankan pembelajaran jarak jauh. Semua diawali dari rumah, termasuk melakukan kebiasaan cuci tangan dengan benar,” ujar Mesty secara menambahkan  80-90% penularan oenyakit bersumber dari tangan, maka PHBS sangat penting. diajarkan sejak dini ke anak-anak.

 

Agar anak terbiasa melakukan PHBS, orangtua harus memberikan contoh. “Berikan contoh langsung cuci tangan ke anak melalui 6 langkah cuci tangan dengan air mengalir selama 20 detik. Selain itu, berikan nutrisi lengkao dan seimbang untuk tingkatkan kekebalan tubuh. Berikan nutrisi yang mengandung vitamin C dan zinc untuk menunjang kekebalan anak,” saran Mesty. Dua butir jeruk sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan vitamin C harian.

 

Mesty menambahkan, PHBS juga melibatkan aktivitas fisik ringan hingga sedang, misalnya bermain petak umpet atau naik turun tangga. “Aktivitas fisik itu sebaiknya tidak membuat anak ngos-ngosan atau sesak napas. Aktivitas terlalu berat akan pengaruhi kekebalan tubuh,” bebernya. 

 

Pastikan anak juga cukup tidur. “IDAI menyarankan anak usia sekolah tidur 10 jam per hari. Tidur akan membantu mengeluarkan sel-sel kekebalan sehingga imunitas anak terjaga,” ujarnya.

 

Mesty menandaskan, kebiasaan cuci tangan yang rutin dijalankan di rumah akan membantuk habituasi yang baik. “Saat anak kembali ke sekolah nantinya, mereka akan menjadikan Itu sebagai kebiasaan,” urainya.

 

Guna mencegah lingkungan pendidikan menjadi klaster penyebaran Covid-19, selain mencuci tangan dengan benar, para pengajar serta orangtua harus terus menanamkan pentingnya protokol kesehatan, seperti memakai masker,  dan menjaga jarak aman agar anak dapat lebih siap ketika nanti diperbolehkan kembali bersekolah. Hal ini menjadi sangat penting karena pakar kesehatan mengatakan bahwa perubahan perilaku berkontribusi 80% dalam mengendalikan kurva pandemi.

 

“Pnggunaan masker mesti diajari di rumah, bisa dimulai untuk anak usia di atas 2 tahun sambil diberi pengertian pentingnya memakai masker di masa pandemi. Ahari anak untuk jaga jarak, sebaiknya di atas 2 meter karena droplet dari batuk bisa mencapai 2 meter, bahkan droplets dari hidung bisa mencapai 6 meter. Prinsip dalam menjaga jarak, makin jauh lebih baik,” tandas Mesty.

 

2020 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check