Kapan Sering Lupa Dianggap Abnormal? Kenali Tandanya

Kapan Sering Lupa Dianggap Abnormal? Kenali Tandanya

15 Sep 2020

 

Dokterdigital.com - Kerap lupa menaruh barang-barang seperti kunci, ponsel atau dompet dan menuduh orang lain yang memindahkan atau mengambil? Hati-hati, bisa jadi itu pikun. Pikun alias demensia merupakan salah salah satu masalah kesehatan yang tak boleh disepelekan. 

 

Kepikunan merupakan sindroma gangguan penurunan fungsi otak yang mempengaruhi fungsi kognitif, emosi dan perilaku aktivitas sehari-hari. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut pada tahun 2019, lebih dari 50 juta orang di dunia mengalami demensia. Kasus kepikunan di Indonesia bisa dibilang cukup besar. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2013 merilis data penderita demensia mencapai satu juta orang.

 

Ciri utama demensia ditandai dengan mudah lupa alias pikun. Memang ada perbedaan antara lupa biasa dengan lupa yang bisa menjurus pada kondisi yang lebih serius. Dokter Spesialis Saraf RSCM dr. Pukovisa Prawiroharjo, Sp.S(K) mengatakan ada sejumlah cara untuk mendeteksi apakah lupa normal atau harus dipertimbangkan sebaai hal serius, dalam hal ini demensia. “Caranya dengan mendeteksi frekuensi lupa. Jika ada peningkatan frekuensi lupa setiap bulannya, maka ada kemungkinan demensia,” ujar Pukovisa dalam webinar #ObatiPikun, Senin (14/9).

 

Selain frekuensi lupa, penting juga mengidentifikasi dampak dari lupa. Contohnya, seseorang mungkin telah memiliki janji dengan teman, namun lupa sehingga tidak datang. Contoh lain, sedang masak lalu lupa hingga makanan gosong atau bahkan kompornya meledak. “Kalau dampaknya mengarah ke hal-hal yang merugikan untuk diri sendiri maupun orang lain, artinya itu tidak normal,” ujarnya.

 

Pukovisa menandaskan, usia  bisa menjadi patokan. Menurut Visa, demensia umumnya dialami oleh orang-orang usia lanjut alias di atas 65 tahun. Namun Pukovisa menandaskan, kalau masih muda dan suka lupa, bukan demensia melainkanmungkin penurunan kognitif biasa yang bisa diperbaiki. 

 

Demensia membutuhkan perawatan dokter. Tanpa perawatan yang tepat demensia bisa mengarah ke kondisi lebih parah, misalnya demensia Alzheimer. Berdasarkan data dari Alzheimers Disease International dan WHO, terdapat lebih dari 20 juta orang di dunia mengalami demensia dengan hampir 10 juta kasus baru setiap tahunnya. Dari banyaknya kasus tersebut, Alzheimer menyumbang 60-70 persen kasus.

 

Ketua Studi Neurobehaviour PERDOSSI dr. Astuti, Sp.S(K) mengatakan bahwa demensia merupakan payung dari berbagai jenis demensia. “Demensia adalah penyakit degeneratif yang menyerang otak, sebagian besar terjadi pada usia tua. 60-80 persen menyebabkan gangguan kognitif antara lain kepikunan, tidak mampu melakukan aktivitas dan hubungan sosial memburuk. Ini juga merupakan penyebab penyakit dan kematian pada usia lanjut,” ujarnya.

 

10 gejala umum pada demensia Alzheimer mencakup gangguan daya ingat, sulit fokus, sulit melakukan kegiatan familiar, disorientasi, sulit memahami visual spasial, gangguan komunikasi, meletakkan barang tidak pada tempatnya, salah membuat keputusan, menarik diri dari pergaulan hingga perubahan perilaku dan kepribadian

 

Astuti mengatakan, cara pencegahan pikun antara lain dengan mengurangi stres seperti mengembangkan hobi, kesenian, kegiatan sosial atau mengikuti pendalaman spiritual. Lakukan pola makan sehat, misalnya konsumsi antioksidan, vitamin C dan lainnya. Latihan fisik teratur, aerobik yang adekuat, menghindari rokok dan alkohol dan mengendalikan faktor risiko yakni darah tinggi, kencing manis dan kolesterol juga bisa mencegah pikun.

 

 

2020 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check