Kurang Vitamin D Lebih Gampang Terinfeksi Virus Corona

Kurang Vitamin D Lebih Gampang Terinfeksi Virus Corona

08 Sep 2020

Dokterdigital.com - Dalam studi retrospektif terhadap pasien yang dites Covid-19, para peneliti di University of Chicago Medicine menemukan hubungan antara kekurangan vitamin D dan kemungkinan terinfeksi virus corona.

 

"Vitamin D penting untuk fungsi sistem kekebalan dan suplemen vitamin D sebelumnya telah terbukti menurunkan risiko infeksi saluran pernapasan akibat virus," kata David Meltzer, MD, Ph.D., Kepala Kedokteran Rumah Sakit di UChicago Medicine dan penulis utama studi ini. "Analisis statistik kami menunjukkan bahwa ini mungkin relevan untuk infeksi Covid-19.”

 

Tim peneliti mengamati 489 pasien UChicago Medicine yang tingkat vitamin D-nya diukur dalam setahun sebelum diuji untuk Covid-19. Pasien yang kekurangan vitamin D (<20ng / ml) yang tidak ditangani hampir dua kali lebih mungkin untuk dites positif Covid-19 dibandingkan dengan pasien yang memiliki kadar vitamin yang cukup.

 

Studi bertajuk  Association of Vitamin D Status and Other Clinical Characteristics With COVID-19 Test Results, telah diterbitkan 3 September di JAMA Network Open. Temuan sebelumnya dilaporkan di medRxiv, server pracetak untuk ilmu kesehatan.

 

Separuh orang Amerika kekurangan vitamin D, dengan angka yang jauh lebih tinggi terlihat pada orang Afrika-Amerika, Hispanik dan individu yang tinggal di daerah seperti Chicago di mana sulit untuk mendapatkan cukup paparan sinar matahari di musim dingin.

 

"Memahami apakah mengobati kekurangan vitamin D mengubah risiko Covid-19 bisa menjadi sangat penting secara lokal, nasional dan global," kata Meltzer. "Vitamin D tidak mahal, umumnya sangat aman dikonsumsi, dan dapat ditingkatkan secara luas."

 

Meltzer dan timnya menekankan pentingnya studi eksperimental untuk menentukan apakah suplementasi vitamin D dapat mengurangi risiko, dan potensi keparahan Covid-19. Mereka juga menyoroti perlunya studi tentang strategi apa untuk suplementasi vitamin D yang paling tepat untuk populasi tertentu. Peneliti telah memulai beberapa uji klinis di UChicago Medicine dan dengan mitra lokal, demikian MedicalXpress.

 

2020 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check