Persalinan Caesar Pengaruhi Sistem Kekebalan Anak, Begini Cara Menguatkannya

Persalinan Caesar Pengaruhi Sistem Kekebalan Anak, Begini Cara Menguatkannya

29 Aug 2020

Dokterdigital.com - Persalinan caesar masih dipandang negatif oleh sebagian orang. Ada yang menyebut ibu hamil yang menjalani persalinan caesar sebagai ‘sosok manja’ yang tidak mau memilih persalinan alami melalui vagina. Padahal persalinan caesar bisa jadi dilakukan karena indikasi medis, bukan semata preferensi. Data Riskesdas 2018 menyebut, prevalensi tindakan persalinan caesar di Indonesia mencapai 17,6 persen. 

 

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Konsultan Fetomaternal DR. dr. Ali Sungkar, SpOG(K) mengatakan setiap ibu memiliki kondisi yang berbeda. Dalam banyak kasus, operasi caesar adalah prosedur yang menyelamatkan jiwa dan merupakan pilihan tepat. “Ada sejumlah faktor medis yang membuat seorang ibu hamil harus melahirkan caesar, misalnya panggul sempit, persainan macet, bayi besar, ketuban pecah dini,” ujar Ali Sungkar dalam webinar  “Optimalkan Imunitas Anak Kelahiran Caesar dengan Mikrobiota Sehat” yang diselenggarakan oleh Nutriclub, baru-baru ini.

 

Faktor lain yang membuat persalinan caesar menjadi pilihan aman ketimbang persalinan per vaginam adalah kehamilan kembar, posisi bayi sungsang/melintang, pre-eklampsia, serta faktor non medis seperti kondisi psikis ibu. Ali Sungkar menandaskan, keputusan tindakan persalinan caesar harus melalui prosedur medis, juga perlunya edukasi mengenai manfaat dan risiko operasi caesar kepada para bu.

 

Harus diakui, persalinan caesar meski aman, namun memilki risiko, misalnya ada ibu yang merasakan nyeri bekas jahitan bisa bertahan lama, namun sebaliknya ada juga yang tidak merasakannya. Yang perlu menjadi perhatian adalah, persalinan caesar dapat mempengaruhi sistem imun anak. “Jalan lahir atau persalinan lewat vagina dapat mempengaruhi kolonisasi bakteri dan mikrobiota saluran cerna yang penting untuk perkembangan imunitas anak,” beber Ali Sungkar

 

Riset telah menunjukkan  bahwa metode persalinan dapat menentukan jenis mikrobiota yang nantinya akan menghuni usus anak. Bayi yang lahir melalui vagina akan dikolonisasi oleh bakteri vagina dan feses Ibu, termasuk Lactobacillus dan Bifidobacterium. Sedangkan anak yang lahir secara caesar, proses kolonisasi

mikrobiotanya terpengaruh faktor eksternal sehingga terjadi ketidakseimbangan mikrobiota usus. 

 

Bayi yang lahir melalui operasi caesar memiliki bakteri usus yang berbeda dengan yang lahir melalui vagina - tetapi perbedaan tersebut sebagian besar menghilang pada saat bayi berusia antara 6 dan 9 bulan. Hal ini diketahui dari penelitian terbesar tentang efek cara kelahiran pada mikrobioma yang dipublikasikan di jurnal Nature.

 

Penelitian menunjukkan bahwa bayi yang lahir dengan operasi caesar lebih mungkin memiliki koloni bakteri yang didapat di rumah sakit saat mereka lahir, sementara mereka yang lahir melalui vagina membangun koloni mikroba dari ibunya. 

 

Mengapa kolonisasi mikrobiota usus merupakan hal yang krusial dalam menjaga kesehatan bayi? “Alasannya tak lain karena paparan pertama dengan komunitas mikrobiota maternal (vagina, feses, ASI, mulut dan kulit) akan menentukan kematangan usus, perkembangan metabolik dan imunologi serta konsekuensi status kesehatan jangka pendek dan jangka panjang,” urai Ali Sungkar.

 

Peran Mikrobioma Usus

 

Karena mikrobioma usus dianggap terkait erat dengan kesehatan, perbedaan kolonisasi ini - menurut penelitian - membuat bayi yang dilahirkan caesar lebih mungkin mengembangkan obesitas, asma dan eksim. Hipotesisnya adalah bahwa momen kelahiran mungkin merupakan momen termostatis bagi sistem kekebalan - yang menetapkan sistem kekebalan untuk kehidupan di masa depan seorang anak.

 

Di kesempatan yang sama, Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastro Hepatologi Prof. Dr. Moh. Juffrie, SpA(K), PhD menjelaskan mengenai pengaruh perbedaan mikrobiota usus terhadap kesehatan anak. Kelahiran merupakan titik yang menentukan sistem kekebalan tubuh untuk kehidupan di masa depan. Mikrobiota saluran cerna mengandung jutaan mikroba yang dianggap penting untuk mengembangkan sistem imunitas tubuh. “Pada persalinan caesar terjadi ketidakseimbangan mikrobiota dalam sistem gastrointestinal yang memicu risiko terjadinya gangguan imunitas, termasuk alergi terhadap makanan,” urai Prof. Juffrie.

 

Riset menunjukkan anak lahir caesar butuh waktu enam bulan untuk mencapai mikrobiota usus yang serupa dengan anak lahir normal sehingga anak lahir caesar memiliki risiko lebih tinggi terhadap berbagai gangguan sistem imunitas. Prof Juffrie menambahkan, awal kehidupan hingga usia 3 tahun merupakan jangka waktu penting pada anak untuk mengembalikan profil mikrobiota menjadi seimbang. 

 

Manfaat Prebiotik dan Probiotik Tunjang Imunitas

 

Hal yang bisa dilakukan adalah dengan pemberian ASI eksklusif, karena ASI mengandung lebih dari 200 spesies mikroorganisme yang dikenal sebagai probiotik dan human milk oligosaccharides atau yang dikenal sebagai prebiotik. “Pemberian ASI eksklusif mulai usia nol hingga enam bulan merupakan cara terbaik untuk mendukung perkembangan mikrobiota sehat untuk memperkuat sistem imunitas karena di dalam ASI terdapat berbagai macam nutrisi untuk mengembalikan keseimbangan mikrobiota sehat seperti probiotik dan prebiotik,” beber Prof. Juffrie.

 

ASI merupakan cairan biologis kompleks spesies spesifik yang disesuaikan secara sempurna memenuhi gizi dan kebutuhan imunologi bayi yang baru lahir. Berbagai data menunjukkan bahwa ASI memberikan perlindungan terhadap berbagai penyakit infeksi, sehingga bayi yang minum ASI terjadi penurunan angka kejadian infeksi dan diare. 

 

Fakta menunjukkan bahwa 70% sel imunitas bayi terdapat pada sistem saluran cernanya. Kesehatan saluran cerna ditentukan oleh lapisan dinding usus yang dibentuk oleh bakteri baik yang hidup secara alami di saluran cerna bayi. ASI memiliki efek prebiotik karena pemberian ASI dapat membuat bakteri baik di dalam usus bayi berkembang optimal dan memberi perlindungan terhadap tubuh bayi baru lahir. Meningkatnya jumlah bakteri baik di dalam usus besar bayi memberikan perlindungan terhadap kekebalan tubuh bayi.

 

Sejak lama diketahui bahwa ASI juga sumber bakteri baik (probiotik) bagi bayi. Sejumlah penelitian menunjukan bahwa bakteri termasuk Bifidobakteria dan Laktobacillus juga di ransfer dari saluran pencernaan ibu ke ASI sehingga memperkaya komposisi dan kolonisasi bakteri bakteri baik pada bayi yang mendapatkan air susu ibu.

 

Prebiotik secara alami terkandung di dalam ASI. Prebiotik yang membantu perkembangan bakteri baik di dalam tubuh adalah karbohidrat yang disebut fructo-oligosaccharides (FOS). ASI merupakan sumber prebiotik pertama terbaik yang dapat diperoleh oleh bayi pada awal kehidupannya. Prebiotik berperan penting bagi bayi, terutama saat sistem imunnya masih dalam tahap berkembang. 

 

Kombinasi probiotik dan prebiotik yang bekerja sinergis dan memberikan efek, dikenal juga dengan istilah sinbiotik, dapat membantu mempercepat kolonisasi bakteri baik dan meningkatkan jumlah bakteri baik seperti Bifidobacterium pada bayi yang dilahirkan secara caesar. “Hal ini dapat membantu meningkatkan sistem imun selama dua tahun pertama kehidupan serta menurunkan risiko anak mengidap penyakit alergi,” tandas Prof Juffrie.

 

Jadi berikan ASI eksklusif untuk anak selama enam bulan pertama kehidupannya dan lanjutkan pemberian ASI hingga usianya 2 tahun, tentu dengan makanan pendamping ASI sesuai tahapan usia untuk mengoptimalkan sistem imunitasnya.

2020 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check