Gemuk saat Hamil Bisa Hambat Perkembangan Otak Bayi

Gemuk saat Hamil Bisa Hambat Perkembangan Otak Bayi

13 Aug 2020

Dokterdigital.com - Hati-hati dalam menjaga berat badan terutama saat hamil. Studi terkini menyebut, obesitas pada ibu hamil dapat menghambat perkembangan otak bayi sejak trimester kedua.

 

Dipimpin oleh para peneliti di NYU Grossman School of Medicine, penyelidikan tersebut mengaitkan indeks massa tubuh (BMI) yang tinggi, sebuah indikator obesitas, dengan perubahan di dua area otak, korteks prefrontal dan insula anterior. Wilayah ini memainkan peran kunci dalam pengambilan keputusan dan perilaku - dikaitkan dengan gangguan attention-deficit/hyperactivity (ADHD), autisme, dan makan berlebihan.

 

Dalam studi yang diterbitkan secara online 11 Agustus di Journal of Child Psychology and Psychiatry, para peneliti memeriksa 197 kelompok sel saraf yang aktif secara metabolik di otak janin. Menggunakan jutaan perhitungan, penulis studi membagi kelompok menjadi 16 subkelompok bermakna berdasarkan lebih dari 19.000 kemungkinan koneksi antara kelompok neuron. Mereka menemukan hanya dua area otak di mana koneksinya satu sama lain secara statistik sangat terkait dengan BMI ibu.

 

"Temuan kami menegaskan bahwa obesitas pada ibu mungkin berperan dalam perkembangan otak janin, yang mungkin menjelaskan beberapa masalah kesehatan kognitif dan metabolik yang terlihat pada anak yang lahir dari ibu dengan BMI lebih tinggi," kata Moriah Thomason, Ph.D., Barakett. Associate Professor di Departemen Psikiatri Anak dan Remaja di NYU Langone Health.

 

Karena tingkat obesitas terus meningkat di Amerika Serikat, penting untuk memahami bagaimana kondisi tersebut dapat mempengaruhi perkembangan otak awal, kata Thomason, yang juga seorang profesor di Departemen Kesehatan Populasi di NYU Langone.

 

Studi sebelumnya yang menunjukkan hubungan antara obesitas dan perkembangan otak sebagian besar melihat fungsi kognitif pada anak-anak setelah lahir. Penyelidikan baru ini diyakini sebagai yang pertama mengukur perubahan aktivitas otak janin di dalam rahim, dan paling cepat enam bulan setelah kehamilan.

 

Thomason mengatakan pendekatan ini dirancang untuk menghilangkan pengaruh potensial dari menyusui dan faktor lingkungan lain yang terjadi setelah kelahiran dan untuk memeriksa asal mula efek negatif BMI ibu pada otak janin yang sedang berkembang.

 

Dalam risetnya, tim peneliti merekrut 109 wanita dengan BMI mulai dari 25 hingga 47. Menurut National Institutes of Health, wanita dianggap kelebihan berat badan jika mereka memiliki BMI 25 atau lebih tinggi dan obesitas jika BMI mereka adalah 30 dan lebih tinggi. Semua wanita hamil antara enam dan sembilan bulan.

 

Tim peneliti menggunakan pencitraan MRI untuk mengukur aktivitas otak janin dan memetakan pola komunikasi antara sejumlah besar sel otak yang berkumpul bersama di berbagai wilayah otak. Kemudian, peneliti membandingkan peserta penelitian untuk mengidentifikasi perbedaan dalam bagaimana kelompok neuron berkomunikasi satu sama lain berdasarkan BMI.

 

Para peneliti mengingatkan bahwa penelitian mereka tidak dirancang untuk menarik hubungan langsung antara perbedaan yang mereka temukan dan masalah kognitif atau perilaku akhir pada anak-anak. Studi tersebut hanya mengamati aktivitas otak janin. Tapi, kata Thomason, mereka sekarang berencana untuk mengikuti anak-anak partisipan dari waktu ke waktu untuk menentukan apakah perubahan aktivitas otak menyebabkan ADHD, masalah perilaku, dan risiko kesehatan lainnya, demikian dilaporkan MedicalXpress.

2020 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check