Kerap Diderita Perempuan Sindroma Sjogren Sulit Didiagnosis

Kerap Diderita Perempuan Sindroma Sjogren Sulit Didiagnosis

10 Aug 2020

 

Dokterdigital.com - Pernah dengar tentang penyakit Sjogren's syndrome alias sindroma Sjogren? Mungkin masih terdengar asing dan sulit diucapkan. Sindroma Sjogren merupakan salah satu penyakit autoimun yang bersifat kronik dan sistemik yang mayoritas (90%) dialamii oleh wanita - umumnya di atas usia 40 tahun.

 

Meski banyak dialami perempuan, namun data penyakit sindroma Sjogren di Indonesia tidak banyak diketahui, demikian disampaikan Dr. dr. Alvina Widhani, SpPD, K-AI, Divisi Alergi Imunologi Klinik Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM/RSUI dan Dewan Pembina Yayasan Sjogren’s Syndrome Indonesia dalam diskusi daring yang dihelar Kalbe Farma, baru-baru ini.

 

Diagnosis penyakit juga sulit ditegakkan karena  penyakit ini memiliki banyak gejala yang mirip dengan penyakit lain. "Gejala juga dapat muncul tidak dalam satu waktu sehingga pasien kadang tidak menyadari dan tidak menganggapnya sebagai suatu masalah yang perlu diobati," beber Alvina.

 

Sindroma Sjogren masuk dalam kelompok penyakit autoiimun, dimana terdapat gangguan fungsi kekebalan tubuh sehingga sel imun menyerang tubuh sendiri. Penyakit autoiumun ini umumnya menyerang kelenjar tubuh, misalnya air liur (sehingga membuat mulut kering) dan kelenjar air mata (yang memunculkan keluhan mata kering).. Selain itu, berbagai organ lain dapat terkena, seperti saraf, paru, ginjal, dan saluran cerna.

 

Alvina menjelaskan, penyakit sindroma Sjogren juga dipengaruhi oleh produksi hormon. Karena itu kebanyakan menyerang saat usia lanjut di mana hormon di dalam tubuh mulai menurun. "Dengan bertambahnya usia pada perempuan  terjadi pengurangan hormon seperti estrogen," ujarnya.

 

Penyebab penyakit ini masih tidak jelas. Namun, sejumlah faktor genetik dan lingkungan dapat meningkatkan risiko penyakit. Namun demikian, sindroma Sjogren tidak menular. 

 

Dilaporkan Mayoclinic.org, sindroma Sjogren sering terkait dengan kelainan sistem kekebalan tubuh lainnya, seperti rheumatoid arthritis dan lupus. Pada penyakit autoimun ini, membran lendir dan kelenjar sekresi mata yang lembap (lacrimal) dan mulut adalah daerah yang kali pertama terpengaruh – dengan akibat menurunnya jumlah air mata dan air liur.

 

Gejala sindroma Sjogren paling umum adalah mata kering dan mulut kering. Mata kering dapat membuat bagian bawah kelopak mata seolah-olah terkena pasir, mata terasa terbakar, semakin sensitif terhadap cahaya, keluarnya air mata, dan terdapat bisul.  Mulut kering dapat menyebabkan kesulitan dalam mengunyah dan menelan makanan kering, meningkatkan risiko pembusukan gigi, penyakit gusi, dan infeksi mulut.

 

Selain gejala umum, kemungkinan sindroma Sjogren juga memunculkan gejala lain, misalnya mata gatal dan merah, penglihatan kabur,  bibir dan tenggorokan kering, sakit pada mulut atau haus, demam dan ruam, nyeri sendi, pembengkakan kelenjar pada pipi dan node limfa hingga kekeringan pada vagina. “Kekeringan pada vagina menyebabkan sakit saat berhubungan seksual,” kata Alvina.

 

Sayangnya, belum ada obat yang dapat menyembuhkan sindroma Sjogren, namun ada obat-obatanyang dapat membantu mengendalikannya, misalnya untuk menjaga kelembaban mata, mulut dan vagina.

 

2020 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check