WHO Sebut Tidak Ada Serangan Gelombang Kedua Covid-19

WHO Sebut Tidak Ada Serangan Gelombang Kedua Covid-19

01 Aug 2020

Dokterdigital.com - Untuk ‘menyudahi’ wabah Covid-19 pemerintah dan  masyarakat perlu memberikan "tekanan berkelanjutan" pada virus corona, demikian diutarakan Dr. Mike Ryan, Direktur Eksekutif dari Program Darurat Kesehatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

 

Ketika ditanya apakah sejumlah negara telah melihat serangan virus gelombang kedua, Ryan mengatakan dalam tanya jawab di media sosial ada persepsi bahwa penyakit ini akan berperilaku sedikit seperti influenza, dan itu akan memiliki puncak alami dan kemudian akan menghilang untuk sementara, dan kemudian itu akan kembali di belahan bumi utara di musim gugur. “Saya pikir kita selalu mengatakan bahwa kita belum mengetahuinya,” ujarnya.

 

Ryan membandingkan perilaku virus corona dengan pegas. "Ketika kita menekan virus ke bawah, kita menekan penularan. Saat tekanan itu dilepas, maka akan memantul  kembali. Sekarang Anda bisa menyebutnya puncak kedua, gelombang kedua, sebutlah apa saja. Artinya bagi saya adalah [virus] ini membutuhkan tekanan berkelanjutan untuk mengurangi penularan, dan itu membutuhkan komitmen berkelanjutan untuk mengurangi paparan,” bebernya.

 

"Saya akan mengatakan bahwa tidak ada gelombang kedua seperti itu. Yang kami lihat adalah virus muncul kembali secara alami ketika kita melepas tekanan," imbuh Ryan.

 

Pejabat WHO meminta pemerintah semua negara untuk berupaya menekan penularan melalui pengujian, pelacakan kontak dan karantina, sementara masyarakat dan individu perlu melakukan segala yang mereka bisa untuk mengurangi paparan virus.

 

Sementara itu pakar penyakit menular terkemuka Amerika, Dr. Anthony Fauci, menekankan bahwa kepatuhan terhadap lima prinsip dapat membantu menghentikan lonjakan virus corona yang terjadi di sejumlah negara. Prinsip itu adalah memakai masker, menghindari kerumunan, menjaga jarak fisik minimal 2 meter, mencuci tangan dan menghindari bar (menutupnya jika memungkinkan).

 

Fauci menyoroti negara-negara Selatan yang telah mengalami kebangkitan seperti Kentucky, Tennessee, Ohio dan Indiana. "Jika kita tidak mulai menerapkan kepatuhan yang ketat terhadap lima prinsip yang baru saja saya sebutkan, yang pasti akan terjadi adalah bahwa negara-negara yang belum dalam kesulitan kemungkinan akan mendapat masalah,” bebernya.

 

Fauci menambahkan, tanpa upaya nasional untuk mematuhi langkah-langkah pencegahan, tidak mungkin untuk memprediksi berapa lama pandemi Covid-19 akan bertahan di Amerika Serikat. AS mengalami  kebangkitan infeksi coronavirus setelah negara-negara mulai membuka kembali ekonomi mereka. Jumlah kasus Covid-19 di AS kini mencapai sekarang lebih dari 4,4 juta dan jumlah kematian di 152.075, menurut data dari Universitas Johns Hopkins. Institute for Health Metrics and Evaluation bahkan meningkatkan perkiraannya menjadi 219.864 kematian total pada November mendatang, sebagian karena AS terus memperdebatkan langkah-langkah seperti memakai masker dan menjaga jarak sosial.

 
2020 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check