Covid-19 Bukan Hanya Satu Penyakit Namun 6 Jenis Berbeda

Covid-19 Bukan Hanya Satu Penyakit Namun 6 Jenis Berbeda

30 Jul 2020

Dokterdigital.com - Covid-19 mungkin bukan hanya satu penyakit, melainkan enam jenis berbeda, demikian klaim sebuah penelitian baru di Inggris. Karenanya, setiap jenis berbeda dalam hal tingkat keparahan dan kebutuhan akan dukungan pernapasan selama dirawat di rumah sakit.

 

Batuk, demam, dan kehilangan kemampuan membaui aroma adalah gejala Covid-19 umum, tetapi berbagai gejala lain dapat menyertainya, antara lain sakit kepala, nyeri otot, kelelahan, diare, kebingungan, kehilangan nafsu makan, sesak napas, dan banyak lagi. Untuk penelitian ini, para peneliti menganalisis data pada 1.600 orang yang melaporkan gejala mereka ke dalam suatu aplikasi.

 

Enam kelompok gejala dalam urutan dari yang paling rendah sampai paling parah adalah:

 

1. Sakit kepala, kehilangan kemampuan membaui aroma (anosmia), nyeri otot, batuk, sakit tenggorokan, sakit dada, tidak ada demam.

 

2. Sakit kepala, kehilangan kemampuan membaui aroma (anosmia), batuk, sakit tenggorokan, suara serak, demam, hilang nafsu makan.

 

3. Sakit kepala, kehilangan kemampuan membaui aroma (anosmia), hilang nafsu makan, diare, sakit tenggorokan, sakit dada, tidak ada batuk.

 

4. Sakit kepala, kehilangan kemampuan membaui aroma (anosmia), batuk, demam, suara serak, nyeri dada, kelelahan.

 

5. Sakit kepala, kehilangan kemampuan membaui aroma (anosmia), hilang nafsu makan, batuk, demam, suara serak, sakit tenggorokan, nyeri dada, kelelahan, kebingungan, nyeri otot.

 

6. Sakit kepala, kehilangan kemampuan membaui aroma (anosmia), hilang nafsu makan, batuk, demam, suara serak, sakit tenggorokan, nyeri dada, kelelahan, kebingungan, nyeri otot, sesak napas, diare, sakit perut.

 

Tiga jenis terakhir terkait dengan penyakit paling parah, ditekankan para peneliti. Pasien yang memiliki gejala parah yang membutuhkan bantuan pernapasan berkisar dari sekitar 9% hingga 20%, sementara pasien yang memiliki gejala lebih ringan yang membutuhkan bantuan pernapasan berkisar antara 2% hingga 3%.

 

Hampir setengah dari pasien dengan gejala paling parah berakhir dengan perawatan di rumah sakit, dibandingkan dengan 16% dari mereka dengan gejala kurang parah.

 

Menggunakan campuran gejala, berat badan dan faktor lain, para peneliti mengembangkan model yang memprediksi pasien mana yang perlu dirawat di rumah sakit dan membutuhkan bantuan pernapasan. "Temuan ini memiliki implikasi penting untuk perawatan dan pemantauan orang yang paling rentan terhadap Covid-19 parah," kata peneliti Dr. Claire Steves, dari King's College London.

 

"Jika dapat memprediksi di posisi mana pasien ini pada hari kelima, maka dokter punya waktu untuk memberi mereka dukungan dan intervensi awal seperti memantau kadar oksigen dan gula darah, dan memastikan pasien terhidrasi dengan baik. Juga perawatan sederhana yang bisa diberikan di rumah, mencegah rawat inap. dan menyelamatkan hidup,” ujar Steves.

 

Laporan ini telah diterbitkan  medRxiv, server pracetak yang belum mendapat tinjuan dari sejawat, Selasa (28/7).

2020 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check