Mengirim Anak Kembali ke Sekolah di Tengah Pandemi Covid-19, Ini Panduannya

Mengirim Anak Kembali ke Sekolah di Tengah Pandemi Covid-19, Ini Panduannya

29 Jul 2020

Dokterdigital.com - Sejumlah sekolah diwacanakan akan dibuka kembali di tengah pandemi Covid-19. Anak-anak sekolah akan kembali masuk sekolah meskipun Covid-19 belum mereda dan angka penularan masih menunjukkan tren naik. Masalahnya, apakah para orangtua siap kembali mengirim anak-anak bersekolah meskipun sekolah yang dibuka itu hanya diizinkan di wilayah dengan zona hijau.

 

Ini masalah dilematis. Tak bisa dimungkiri anak-anak sudah bosan belajar di rumah sejak Maret, saat wabah Covid-19 dinyatakan masuk Indonesia. Orangtua juga merasa kewalahan harus bekerja sekaligus menjadi ‘guru’ bagi anak-anak selama belajar di rumah. Situasi ini membuat anak-anak dan orangtua sama-sama tertekan. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan penundaan pembukaan sekolah setidaknya hingga Desember 2020, karena kasus Covid-19 di Indonesia pada anak-anak terhitung tinggi.

 

Covid-19 di Indonesia juga banyak terjadi pada anak. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyampaikan data kematian anak akibat Covid-19 di Tanah Air,  hingga saat ini secara keseluruhan tercatat 70 persen dari kasus anak meninggal karena infeksi  virus corona berada di bawah usia  6 tahun, berdasarkan data kasus Covid-19 pada anak yang dihimpun hingga 20 Juli 2020, menurut Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI, Aman Bhakti Pulungan, di Jakarta, Kamis (23/7).

 

Dari angka itu, sebanyak 12% anak terpapar Covid-19 berusia 0 hingga 28 hari, 33% berusia 29 hari hingga 11 bulan 29 hari, dan 25% lainnya berusia satu tahun hingga lima tahun 11 bulan 29 hari. Total 70 persen kematian anak karena Covid-19 berada di kelompok ini. Sisanya, 30%, di kelompok usia enam hingga 18 tahun. Mereka terdiri dari 12 persen berusia enam tahun hingga sembilan tahun 11 bulan 29 hari, dan 18 persen berusia 10 hingga 18 tahun.

 

Persentase tersebut berasal dari jumlah seluruhnya 51 kasus anak meninggal karena virus corona sejak 17 Maret hingga 20 Juli 2020. Sedang jumlah kasus infeksi terkonfirmasi pada anak seluruhnya dalam periode yang sama mencapai 2.712. Anak yang berstatus sebagai kasus suspek sebanyak 7.633 dimana 290 di antaranya juga meninggal.

 

Angka infeksi Covid-19 pada anak di Indonesia lebih tinggi dibandingkan sejumlah negara. BBC melaporkan, Malaysia misalnya, belum mencatat kematian akibat Covid-19 untuk anak di bawah 12 tahun. Sementara, di Amerika Serikat, negara dengan kasus kematian tertinggi akibat Covid-19, angka kematian terkait Covid-19 untuk warga di bawah 25 tahun sebesar 0,15%, per 2 Juli 2020. Di Cina, sebagai negara asal wabah, angka kematian pada individu berusia 19 tahun ke bawah bahkan hanya 0,1%.

 

Mengomentari kesiapan anak-anak kembali ke sekolah, dokter spesialis anak Firza Fairuza mengatakan situasinya memang dilematis. “Di satu sisi pendidikan adalah hak anak, namun mengirim mereka kembali ke sekolah dalam situasi pandemi seperti ini memang dilematis. Saya sepakat dengan IDAI untuk menunggu setidaknya hingga Desember tahun ini membuka sekolah kembali, sambil terus dipantau situasinya, kata dokter lulusan Fakultas Kedokteran Trisakti Jakarta dalam webinar Ngovee (Ngobrol Bareng Jovee) dengan tema “Persiapan Anak Kembali ke Sekolah Saat New Normal” yang dihelat Selasa (28/7).

 

“Banyak sekali hal yang perlu dipersiapkan jika sekolah kembali dibuka. Pertama, pihak sekolah perlu mengadakan skrining berupa cek suhu dan gejala, jadi anak yang sakit dan memiliki gejala seperti demam maupun batuk tidak diperbolehkan masuk,” ujar Firza.

 

Kedua, semua orang di wilayah sekolah wajib menggunakan masker dan face shield dan harus mencuci tangan sebelum masuk kelas. Sekolah juga perlu menerapkan pembatasan jumlah siswa di dalam kelas dan setiap meja diberikan jarak. “Kalau anak tidak nyaman  pakai masker, berikan pemahaman bahwa pemakaian masker saat ni penting untuk mencegah penularan virus corona, selain perilaku mencuci tangan dan menjaga jarak,” beber Firza. Siasati dengan pemakaian masker berkarakter lucu yang disukai anak-anak agar mereka mau memakainya.

 

Firza menambahkan, mengutip Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, yang menyarankan apabila anak harus kembali belajar di sekolah, maka sekolah sebaiknya melakukan pengurangan jumlah belajar di sekolah menjadi 4 jam sehari tanpa ada jam istirahat. Selain itu, skenario lainnya mengenai mengubah jam masuk dan jam pulang sekolah untuk mencegah penumpukan jumlah siswa di satu ruangan seperti pintu masuk sekolah.

 

Orangtua sebaiknya membekali anak dengan makanan dari rumah yang terjamin higienitasnya. “Di tengah pandemi, penting untuk menjaga sistem kekebalan anak tetap kuat dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang. Jangan lupa pastikan anak cukup tidur dan ckup melakukan aktivitas fisik di luar rumah, misalnya halaman depan atau belakang,” saran Firza. 

 

Jika orangtua kurang bisa memastikan anak mendapatkan asupan gizi yang dia butuhkan dari makanan, maka perlu diberikan asupan tambahan kebutuhan multivitamin, mineral, dan omega 3 yang diperlukan oleh tubuh. “Anak sebaiknya cukup mengasup antioksidan, vitamin C serta D yang penting dalam menjaga imunitas tubuh. “Jadi persiapan dilakukan menyeluruh mencakup segala aspek dari dalam maupun luar,” tandas Firza.

 

Di kesempatan sama Rico Mardiansyah dari SehatPedia Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengatakan, penting bagi masyarakat untuk melek literasi kesehatan. “Cari informasi kesehatan yang kredibel, jangan mudah termakan hoax (berita bohong), terutama terkait kesehatan yang dragukan kebearannya. Kalau ragu terhadap informasi kesehatan tertentu, jangan ragu tanyakan kepada ahlinya,” pungkas Rico.

2020 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check