Kejar Tayang Vaksin Covid-19: Memangkas Proses 15 Tahun Jadi 1,5

Kejar Tayang Vaksin Covid-19: Memangkas Proses 15 Tahun Jadi 1,5

29 Jul 2020

Dokterdigital.com - Produsen vaksin Moderna memulai ujicoba terakhir, Fase 3 untuk  vaksin coronavirus di Amerika Serikat awal pekan ini, dan ini merupakan tahap krusial yang tidak dapat dipercepat prosesnya, kata seorang ahli vaksin terkemuka.

 

Pengembangan vaksin coronavirus sejauh ini sangat cepat, kata Dr. Paul Offit, Direktur Pusat Pendidikan Vaksin dan profesor pediatri di Divisi Penyakit Menular di Children's Children's Hospital of Philadelphia. “Biasanya program pengembangan vaksin rata-rata memakan waktu 15 tahun. Program pengembangan vaksin ini mungkin akan memakan waktu satu setengah tahun,” kata Offit dilaporkan CNN.

 

Tetapi bagian terakhir, ujicoba Tahap 3, harus diperlakukan dengan hati-hati dan tak bisa dipercepat. “Buktinya ada di puding (hidangan penutup). Uj coba Fase 3 adalah puding dan sekarang vaksin akan diuji di tahap ini, semoga 10, 15 atau 20 ribu orang yang akan mendapatkan vaksin ini, 15.000 orang yang akan mendapatkan plasebo (kontrol) dan kita akan melihat sejauh mana vaksin ini benar-benar aman dan akan lkita ihat sejauh mana itu efektif.”

 

Data tentang apakah vaksin Moderna mencegah infeksi Covid-19 bakal diketahui pada akhir tahun, dan, jika semuanya berjalan dengan baik. Selanjutnya jika lolos uji klinis maka vaksin bisa mulai diproduksi pada awal 2021, meskipun proses vaksinasi akan memakan waktu berbulan-bulan. "Saya bersedia menunggu untuk melihat data," kata Offit.

 

Offit mengatakan ujicoba Fase 3 membantu mengurangi risiko. "Jika mengujinya pada 10.000 atau 15.000 orang dan menemukan bahwa vaksin tu aman, maka dapat dikatakan vaksin itu tidak memiliki masalah efek samping yang tidak biasa," katanya. Tetapi efek samping yang sangat jarang tidak akan menjadi jelas sampai setelah vaksin ada di pasaran.

 

Pfizer dan mitranya, BioNTech, juga mengatakan bahwa mereka akan memulai uji coba Fase 2/3 vaksin eksperimental coronavirus mereka di AS.

 

Vaksin investigasi dikembangkan oleh perusahaan bioteknologi Moderna dan National Institute of Allergy and Infectious Diseases, bagian dari National Institutes of Health. Uji coba itu akan dilakukan di hampir 100 lokasi penelitian AS, menurut Moderna. Pasien pertama diberi dosis di sebuah situs di Savannah, Georgia.

 

Percobaan ini diharapkan untuk mendaftarkan sekitar 30.000 sukarelawan dewasa dan mengevaluasi keamanan vaksin Moderna/NIH dan apakah vaksin itu dapat mencegah gejala Covid-19 setelah diberikan dalam dua dosis ke relawan. Relawan akan menerima dua 100 mikrogram suntikan vaksin atau plasebo sekitar 28 hari terpisah. Peneliti  dan peserta tidak akan tahu siapa yang telah menerima vaksin dan siapa yang hanya disuntik plasebo.

 

Hasil pada Fase 1 ditemukan tanggapan kekebalan: Hasil dari percobaan Fase 1 terhadap vaksin yang diterbitkan awal Juli di New England Journal of Medicine menemukan vaksin tersebut menginduksi tanggapan kekebalan pada semua relawan dan umumnya aman. Vaksin diklaim memiliki efek samping ringan, termasuk kelelahan, kedinginan, sakit kepala, nyeri otot, nyeri di tempat suntikan.

 

Sebuah studi Fase 1 biasanya mempelajari sejumlah kecil orang dan berfokus pada apakah vaksin itu aman dan memunculkan respons kekebalan. Dalam Fase 2, studi klinis diperluas dan vaksin diberikan kepada orang-orang yang memiliki karakteristik - seperti usia dan kesehatan fisik - mirip dengan orang-orang yang menjadi sasaran vaksin baru, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC).  Pada Fase 3, vaksin diberikan kepada ribuan orang dan diuji untuk kemanjuran dan keselamatan lagi.

 

Vaksin Moderna/NIH adalah satu dari 25 dalam uji klinis di seluruh dunia, menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Moderna adalah salah satu dari beberapa perusahaan yang menerima dukungan dari Operation Warp Speed, program vaksin Covid-19 pemerintah federal Amerika. 

 

Minggu lalu (26/7), Moderna mengumumkan telah menerima tambahan US$472 juta dari Biomedical Advanced Research and Development Authority untuk studi Tahap 3 dan pengembangan vaksin Covid-19, sehingga totalnya menjadi US$955 juta. Sejauh ini lebih dari 16,2 juta kasus coronavirus telah dicatat di seluruh dunia, termasuk setidaknya 648.000 kematian, menurut Johns Hopkins University.

2020 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check