Hobi Nonton Pornografi Berkorelasi Erat dengan Fungsi Ereksi

Hobi Nonton Pornografi Berkorelasi Erat dengan Fungsi Ereksi

20 Jul 2020

Dokterdigital.com - Sebuah penelitian menunjukkan bahwa pria yang hobi nonton pornografi umumnya memiliki fungsi ereksi yang buruk. Menonton film porno juga dikaitkan dengan ketidakpuasan yang lebih besar terkait dengan hubungan intim "normal" di mana hanya 65% responden menilai seks dengan pasangan lebih merangsang daripada hubungan intim dalam film dewasa, demikian menurut riset yang dipaparkan di Kongres virtual EAU.

 

Pornografi kian mudah diakses melalui internet sejak sekitar tahun 2007. Hal ini telah menyebabkan melonjaknya konsumsi pornografi, namun hanya tersedia sedikit informasi mengenai bagaimana naiknya penggunaan materi dewasa dapat mempengaruhi fungsi ereksi. 

 

Para peneliti dari Belgia, Denmark dan Inggris membuat kuesioner online yang diiklankan terutama untuk pria di Belgia dan Denmark melalui media sosial, poster, dan selebaran. Sebanyak 3.267 pria menjawab 118 pertanyaan, merespons pertanyaan tentang masturbasi, frekuensi menonton film porno, dan aktivitas seksual dengan pasangan. 

 

Kuisioner berkonsentrasi pada pria yang melakukan hubungan seks dalam empat minggu sebelumnya, yang memungkinkan tim untuk menghubungkan efek menonton pornografi pada aktivitas seksual. Kuesioner memasukkan pertanyaan fungsi ereksi standar dan survei kesehatan seksual.

 

Kepala peneliti Profesor Gunter de Win dari University of Antwerp dan University Hospital Antwerp mengatakan survei menemukan ada sejumlah besar tanggapan. “Dalam sampel kami, pria menonton cukup banyak film porno, rata-rata sekitar 70 menit per minggu, biasanya  antara lima dan 15 menit per tayangan. Beberapa menonton sangat sedikit dan beberapa menonton dalam jumlah banyak.”

 

Survei juga menemukan bahwa sekitar 23% pria di bawah 35 yang merespons survei memiliki beberapa tingkat disfungsi ereksi saat berhubungan seks dengan pasangan. "Angka ini lebih tinggi dari yang kami perkirakan. Kami menemukan bahwa ada hubungan yang sangat signifikan antara waktu yang dihabiskan menonton film porno dan meningkatnya kesulitan dengan fungsi ereksi dengan pasangan, seperti ditunjukkan oleh fungsi ereksi dan skor kesehatan seksual,” kata Profesor De Win.

 

Responden yang menonton lebih banyak film porno juga mendapat skor tinggi dalam skala kecanduan porno. “Kita perlu memahami apa arti srvei ini dan tidak berarti sama dengan uji klinis. Bisa jadi orang-orang yang merespons tidak sepenuhnya representatif dari seluruh populasi laki-laki. Namun, karya ini dirancang untuk membongkar hubungan antara pornografi dan disfungsi ereksi, dan mengingat ukuran sampel yang besar, kita bisa cukup yakin tentang temuan ini,” imbuh Profesor De Win.

 

Peneliti menemukan bahwa 90% pria bergerak cepat untuk menonton adegan-adegan porno yang paling membangkitkan gairah. “Tidak ada keraguan bahwa pornografi mengondisikan cara kita memandang seks. Dalam survei kami, hanya 65% pria merasa bahwa seks dengan pasangan lebih menarik daripada menonton film porno. Selain itu, 20% merasa bahwa mereka perlu menonton film porno yang lebih ekstrem untuk mendapatkan tingkat gairah yang sama seperti sebelumnya,” beber Profesor de Win. 

 

“Kami percaya bahwa masalah disfungsi ereksi terkait dengan pornografi berasal dari kurangnya gairah. Langkah kami selanjutnya dalam penelitian ini adalah mengidentifikasi faktor-faktor mana yang menyebabkan disfungsi ereksi, dan untuk melakukan studi serupa tentang efek porno pada wanita. Sementara itu, kami percaya bahwa dokter yang menangani disfungsi ereksi juga harus menanyakan perilaku menonton pornografi kepada pasiennya,” urai Profesor de Win.

 

Profesor Maarten Albersen dari Universitas Leuven, Belgia, yang tidak terlibat dalam melakukan penelitian ini, mengatakan, ini adalah studi yang menarik oleh Prof. De Win dan rekan-rekannya. Sampel terdiri terutama dari pria yang lebih muda yang direkrut melalui media sosial dan poster, yang mungkin menghasilkan sampel yang bias terhadap tingkat konsumsi porno online yang lebih tinggi. 

 

“Secara keseluruhan, penelitian ini meningkatkan wawasan yang menarik, pada kenyataan bahwa konsumsi porno oleh pria dapat menyebabkan gangguan fungsi ereksi dan atau kepuasan atau kepercayaan seksual selama pasangan. Seperti yang dikatakan Profesor De Win, hipotesis yang sedang berjalan adalah bahwa jenis film porno yang ditonton dapat menjadi lebih eksplisit dari waktu ke waktu, dan seks pasangan mungkin tidak mengarah ke tingkat gairah yang sama seperti materi pornografi,” ujar Profesor Albersen.

 

Para ahli telah menyoroti bahwa porno mungkin memiliki efek positif dan negatif, dan dapat digunakan sebagai bantuan dalam pengobatan disfungsi seksual, jadi ini adalah area yang kontroversial. “Belum ada kesimpulan yang kokoh tentang topik ini,” tandas Profesor Albersen seperti dikutip MedicalXpress.

2020 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check