Sindroma Patah Hati Mirip Serangan Jantung Naik di Masa Pandemi Covid-19

Sindroma Patah Hati Mirip Serangan Jantung Naik di Masa Pandemi Covid-19

13 Jul 2020

Dokterdigital.com - Peneliti telah menemukan peningkatan yang signifikan pada pasien yang mengalami stres kardiomiopati, juga dikenal sebagai sindroma patah hati, selama pandemi Covid-19. Stres kardiomiopati terjadi sebagai respons terhadap tekanan fisik atau emosional dan menyebabkan disfungsi atau kegagalan pada otot jantung. 

 

Pasien biasanya mengalami gejala yang mirip dengan serangan jantung, seperti nyeri dada dan sesak napas, tetapi biasanya tidak memiliki arteri koroner yang tersumbat akut. Namun, ventrikel kiri jantung mungkin menunjukkan pembesaran. Gejala lain termasuk detak jantung tidak teratur, pingsan, tekanan darah rendah dan syok kardiogenik (ketidakmampuan jantung untuk memompa cukup darah untuk memenuhi kebutuhan tubuh karena dampak hormon stres pada sel-sel jantung).

 

"Pandemi Covid-19 telah membawa berbagai tingkat stres dalam kehidupan orang-orang di seluruh negeri dan dunia. Orang-orang tidak hanya khawatir tentang dirisendiri atau keluarga mereka menjadi sakit, mereka berhadapan dengan masalah ekonomi dan emosional, masalah sosial dan potensi kesepian dan isolasi,” kata Ankur Kalra, MD, seorang ahli jantung Cleveland Clinic di Bagian Kardiologi Invasif dan Intervensi dan Kedokteran Kardiovaskular Regional, yang memimpin penelitian. 

 

"Stres dapat memiliki efek fisik pada tubuh dan jantung kita, sebagaimana dibuktikan oleh meningkatnya diagnosis stres kardiomiopati yang kita alami,” imbuhnya.

 

Penyebab stres kardiomiopati, juga dikenal sebagai kardiomiopati Takotsubo, tidak sepenuhnya dipahami. Namun, dokter percaya bahwa reaksi seseorang terhadap peristiwa stres secara fisik atau emosional menyebabkan pelepasan hormon stres yang sementara mengurangi kemampuan jantung untuk memompa — menyebabkannya berkontraksi dengan kurang efisien atau tidak teratur dibandingkan dengan pola yang stabil dan normal.

 

Untuk penelitian ini, ahli jantung mengamati 258 pasien yang datang ke Cleveland Clinic dan Cleveland Clinic Akron General dengan gejala jantung yang dikenal sebagai sindrom koroner akut (ACS) antara 1 Maret hingga 30 April dan membandingkannya dengan empat kelompok kontrol pasien ACS sebelum pandemi. Mereka menemukan peningkatan yang signifikan pada pasien yang didiagnosis dengan stres kardiomiopati, mencapai 7,8% dibandingkan dengan kejadian pra-pandemi 1,7%. 

 

Pasien dengan stres kardiomiopati selama pandemi Covid-19 memiliki durasi perawatan di rumah sakit yang lebih lama dibandingkan dengan mereka yang dirawat di rumah sakit pada periode pra-pandemi; Namun, tidak ada perbedaan yang signifikan dalam mortalitas (kematian) antara kelompok. Semua pasien yang didiagnosis dengan stres kardiomiopati dites negatif untuk Covid-19, demikian menurut studi yang dipublikasikan di JAMA Network Open.

 

"Sementara pandemi terus berevolusi, perawatan diri selama masa sulit ini sangat penting bagi kesehatan jantung kita, dan kesehatan kita secara keseluruhan," kata Grant Reed, MD, M.Sc., direktur program STEMI (ST-elevation myocardial infarction)  Cleveland Clinic dan penulis senior untuk penelitian ini. "Bagi mereka yang merasa kewalahan oleh stres, penting untuk menjangkau penyedia layanan kesehatan. Olahraga, meditasi dan menjalin relasi dengan keluarga dan teman-teman, sambil menjaga jarak fisik dan langkah-langkah keamanan, juga dapat membantu meredakan kecemasan."

 

Pasien dengan stres kardiomiopati umumnya ungsi jantungnya akan pulih dalam hitungan hari atau minggu, meskipun kondisi ini kadang-kadang dapat menyebabkan gangguan jantung dan serebrovaskular yang merugikan, namun arang berakibat fatal. Stres kardiomiopati biasanya dirawat dengan obat jantung untuk menurunkan tekanan darah dan memperlambat detak jantung. Obat lain mungkin diresepkan untuk membantu mengelola stres. Para peneliti menandaskan butuh lebih banyak penelitian di bidang ini.

2020 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check