Fenomena Badai Sitokin Pasien Covid-19 dan Daya Tahan Tubuh

Fenomena Badai Sitokin Pasien Covid-19 dan Daya Tahan Tubuh

09 Jul 2020

Dokterdigital.com - Di musim pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, masyarakat dituntut untuk menjaga daya tahan tubuh tetap prima, selain disiplin menerapkan 3M, yaitu memakai amsker, menjaga jarak sosial dan mencuci tangan pakai sabun. untuk mencegah penularan virus corona. 

 

Memasuki New Normal, sudah banyak masyarakat yang kembali beraktivitas, karenanya kita dituntut untuk selalu menjaga kesehatan. Mengingat belum tersedia vaksin Covid-19, maka hal yang bisa kita lakukan di antaranya mempehatikan dan menjaga daya tahan tubuh dengan konsumsi makanan bergizi, olahraga teratur, cukup istirahat, rajin berjemur dan jika diperlukan konsumsi suplemen penunjang daya tahan tubuh. 

 

“Di situasi New Normal, masyarakat dituntut untuk disiplin menjalankan protokol kesehatan agar terhindar dari risiko penularan Covid-19,” ujar dr. Adityo Susilo, SpPD-KPTI, Divisi Penyakit Tropik dan Infeksi, Departemen Penyakit Dalam FKUI/RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo sekaligus Tim Pakar Gugus Tugas Covid-19 di acara webinar Kalbe Farma menandai peluncuran Prove D3 dengan tema “New Normal: Masih Perlu Minum Vitamin?” Kamis (9/7).

 

Adtyo menyoroti tentang fenomena badai sitokin pada pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit. Badai sitokin (cytokine storm) merupakan istilah yang merujuk pada reaksi berlebih sistem kekebalan tubuh. Ketika SARS-CoV-2 (virus penyebab Covid-19)memasuki tubuh, sel-sel darah putih akan merespons dengan memproduksi sitokin. Sitokin adalah protein yang dihasilkan sistem kekebalan tubuh untuk melakukan berbagai fungsi penting dalam penanda sinyal sel. 

 

Sitokin tersebut lalu bergerak menuju jaringan yang terinfeksi dan berikatan dengan reseptor sel tersebut untuk memicu reaks peradangan. Pada kasus Covid-19, sitokin bergerak menuju jaringan paru untuk melindunginya dari serangan virus corona penyebab Covid-19.

 

Normalnya, sitokin hanya berfungsi sebentar dan akan berhenti saat respons kekebalan tubuh tiba di daerah infeksi. Nah, pada kondisi badai sitokin, sitokin terus mengirimkan sinyal sehingga sel-sel kekebalan tubuh terus berdatangan dan bereaksi di luar kendali. Akibatnya, paru bisa mengalami peradangan parah karena sistem kekebalan tubuh berusaha keras membunuh virus. 

 

Selama peradangan, sistem imun juga melepas molekul bersifat racun bagi virus dan jaringan paru. Tanpa penanganan yang tepat, fungsi paru pasien Covid-19 bisa menurun hingga membuat pasien sulit bernapas. Kondisi inilah yang kemudian bisa membuat pasien gagal bertahan dan kemudian meninggal.

 

Adityo menambahkan, tidak semua pasien Covid-19 mengalami badai sitokin. Mereka yang memiliki sistem kekebalan kuat umumnya bisa mengatasi situasi ini. “Namun belum tentu juga yang sistem imunitas kuat tidak akan megalami badai sitokin. Para ahli masih terus mendalami fenomena ini,” ujarnya.

 

Faktor risiko lain, misalnya penyakit penyerta, seperti sakit jantung, gagal ginjal dan atau autoimun juga tidak menjamin pasien yang dirawat akibat Covid-19 bakal mengalami badai sitokin yang menakutkan itu. “Namun demikian adanya komorbid (penyakit penyerta) merupakan alarm agar dokter lebih berhati-hati, dengan mengawasi parameter klinis pasien secara ketat,” ujar Adityo. “Harus uji lab, evaluasi fisik dan melihat sejumlah penanda.”

 

Apabila pasien Covid-19 menunjukkan koagulasi berlebih, ini tanda ia rentan mengalami badai sitokin, demikian juga mereka yang rentan terhadap peradangan. “Biasanya pasien diberikan antikoagulan dan obat antiperadangan. Selain itu diupayakan daya tahan tubuh pasien agar lebih prima,” urai dokter yang setiap hari berhadapan dengan pasien Covid-19 dan mengenakan baju hazmat.

 

Lantas apakah badai sitokin bisa direm? “Belum bisa dipastikan hingga sekarang. Kadang meski sudah diupayakan dicegah, badai sitokin tetap saja terjadi. Ini tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga di luar negeri yang teknologi medisnya jauh lebih maju. Badai sitokin ini kompleksitas dari infeksi dan masih terus dipelajari,” tandas Adityo.

 

2020 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check