Kasus Covid-19 Melejit, Jalankan Protokol Kesehatan dan Perkuat Daya Tahan Tubuh

Kasus Covid-19 Melejit, Jalankan Protokol Kesehatan dan Perkuat Daya Tahan Tubuh

09 Jul 2020

Dokterdigital.com - Pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) membawa implikasi tersendiri. Data positif infeksi Covd-19 di Indonesia cenderung menunjukkan tren naik.  Berdasarkan data terbaru hingga Kamis (9/7),  pasien positif bertambah 2.657 - terbanyak dalam sehari sejak kasus pertama diumumkan awal Maret silam - sehingga, total pasien positif corona menjadi 70.736.

 

Menurut Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto, kasus positif diperoleh berdasarkan uji PCR (polimerase chain reaction). Hingga harai ini, jumlah pasien yang dinyatakan sembuh menjadi 32.651 orang, atau bertambah 1.066 orang. Pasien yang meninggal dunia juga bertambah sebanyak 58 orang, sehingga totalnya menjadi 3.417.

 

Kebijakan melonggarkan PSBB bisa menjadi peluang penyebaran virus corona, karena dilakukan ketika penyebaran Covid 19 belum melemah, tapi masyarakat sudah beraktivitas di luar rumah - yang membuat mereka  berhadapan langsung dengan potensi terpapar virus.

 

Untuk meminimalkan penularan virus corona, masyarakat diimbau untuk menerapkan protokol kesehatan, yang dikenal dengan 3M, yaitu memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan. Sayangnya, protokol kesehatan yang seharusnya dilakukan tersebut kadang dilanggar.

 

Masyarakat tampaknya mulai jenuh setelah 3 bulan menahan diri dengan lebih banyak di rumah. Seiring dibukanya perkantoran, pusat belanja dan restoran, di sejumlah tempat terlihatn adanya kerumunan orang, lupa menjaga jarak sosial dan banyak di antara mereka tidak memakai masker atau pelindung wajah.

 

Pelanggaran protokol kesehatan seperti tidak mengenakan masker, membawa ancaman penyebaran virus, karena bisa jadi di antara orang yang tidak bermasker itu membawa virus corona namun tidak menunjukkan gejala (OTG), demikian dikatakan Dr. Budhi Antariksa Ph.(D), SpP(K), dari Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FKUI dan RS Persahabatan dalam webinar yang dihelat Soho Global Health, Kamis (9/7).

 

“Dalam situasi pandemi seperti sekarang ini, untuk mencegah tertular dan menularkan virus corona adalah dengan taat pada protokol kesehatan. Virus ini mudah menular dari orang ke orang. Saat tidak disiplin menerapkan protokol kesehatan, maka ketika PSBB diperlonggar, angka kasus positif akan naik,” kata Budhi. “Yang tadinya sudah sempat menurun, lalu naik lagi. Ini sudah kejadian. Hal itu menjadi pertanda kalau virus berpindah ke orang lain, maka virus itu bermutasi dan bertambah banyak.”

 

Selain menerapkan 3M untuk mencegah penularan virus, hal lain yang perlu dilakukan adalah meningkatkan daya tahan tubuh. Budhi menjelaskan, daya tahan tubuh berhubungan erat dengan asupan dan makanan bergizi, dan pola istirahat. “Kalau pola tidur kurang, lalu istirahat kurang, maka daya tahan tubuh akan menurun,” ujarnya.

 

Bagi mereka yang tidak bisa memastikan asupan makanan bergizi seimbang di tengah pandemi, asupan suplemen multivitamin dan immunomodulator mungkin dibutuhkan. “Kita belum tahu  virusnya ini akan sampai kapan. Begitu pula penemuan vaksin, mungkin masih lama. Jadi cara yang bisa dilakukan adalah memastikan daya tahan tubuh tetap prima,” ujar Budhi.

 

Budhi menambahkan, terkait vaksin, tidak semua virus RNA itu bisa dibuatkan vaksinnya. “Contohnya, HIV tidak ada vaksinnya, Hepatitis C juga tidak ada vaksinnya. Ada beberapa virus memang tidak ada vaksinnya. Dan kebetulan, corona itu masuk virus RNA, jadi belum tentu bisa dibentuk vaksinnya, meski sekarang ini masih diupayakan,” bebernya.

 

Amunisi Hadapi New Normal

 

Di kesempatan yang sama, DR (Cand) dr. Inggrid Tania, M.Si., Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI) mengatakan, memasuki adaptasi kenormalan baru (New Normal) di tengah pandemi yang belum reda, saat semua orang dituntut kembali beraktivitas, maka daya tahan tubuh yang kuat menjadi keharusan.

 

Selain asupan makanan bergizi, istirahat cukup, cukup minum, olahraga dan hindari stres, Inggrid menekankan pentingnya suplemen untuk penunjang daya tahan tubuh. Suplemen immunomodulator misalnya, merupakan zat atau substansi yang dapat mempengaruhi sistem imun. Artinya, sistem tubuh diaktivasi dan dimodulasi. Immunomodulator terbagi dua, yakni immunosupresan (yang berefek menekan) dan immunostimulan (berefek meningkatkan) respons imun.

 

“Ketika tubuh membutuhkan peningkatkan daya tahan tubuh, maka dibutuhkan immunomodulator yang bersifat immuno stimulan atau imun booster. Jadi, fungsinya untuk meningkatkan aktivitas sel-sel imun tubuh. Misalkan, kemampuan sel makrofag dalam melakukan fagositosis terhadap bakteri atau virus,” ujar Inggrid. 

 

Selanjutnya juga ada aktivitas anti-peradangan dengan menghambat enzim siklo-oksigenase, juga stimulasi dengan meningkatkan produksi sitokin. “Seperti itu contoh-contoh mekanisme kerja dari immunomodulator,” imbuhnya.

 

Immunomodulator, kata Inggrid, bisa dari subtansi yang natural atau subtansi yang sitentik. “Kalau ingin mendapatkan perlindungan imun yang maksimal atau komplet, kita perlu mengonsumsi keduanya, baik yang immunomodulator yang natural contohnya Echinacea maupun yang sintetik,” ujarnya. Contoh yang sintetik misalnya vitamin C, vitamin D. "Yang dari bahan natural umumnya lebih mudah diterima oleh tubuh sehingga, kita berharap lebih mudah diserap." 

 

Inggrid menjelaskan bahwa immunomodulator yang bersifat immuno stimulan kuat atau imun booster kuat, bisa di konsumsi setiap harinya antara 8 minggu sampai 16 minggu. “Biasanya, jeda dua minggu sudah cukup. Setelah itu, kita bisa konsumsi kembali suplemen immunomodulator itu. Hal ini untuk menghindari kemungkinan timbulnya efek samping, seperti imuno supresan, dan sebagainya. Meskipun sebenarnya belum ada bukti-bukti kuat bisa memicu itu. Ini azas kehati-hatian saja,” bebernya.

 

Konsumsi suplemen immunomodulator menjadi penting, karena saat PSBB diperlonggar, banyak orang termasuk OTG yang juga sama-sama beraktivitas. OTG ini sebenernya positif Covid-19 namun tanpa gejala sehingga orang tersebut tak mengetahui kecuali saat dites swab/PCR. 

 

“Walaupun tanpa gejala, tetap saja OTG memiliki potensi untuk menularkan orang di sekitarnya. Orang dengan daya tahan yang lemah bisa tertular. Terkadang gejalanya tidak ringan, atau bisa sedang hingga berat,. Makanya daya tahan tuuh perlu diperkuat sembari tetap menjalankan protokol kesehatan,” ujar Inggrid.

 

Di kesempatan yang sama, DR. Raphael Aswin Susilowidodo, M.Si, VP Research & Development and Regulatory Soho Global Health mengatakan, kandungan ekstrak Echinacea purpurea pada produk Imboost telah terbukti secara klinis dapat memodulasi atau mengatur sistem daya tahan tubuh dan mencegah penyebaran infeksi lebih lanjut. Sementara zinc picolinate berperan aktif dan bekerja sinergis pada sistem imun tubuh. “imboost memodulasi peningkatan sistem imun tubuh dengan cara meningkatkan produksi monosit, yaitu bagian darah putih yang berperan dalam sistem imun tubuh, sehingga akan mempercepat proses penyembuhan bagi orang yang sudah sakit karena terinfeksi virus,” ujar Aswin.

 

Terdaftar dan mendapatkan izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), produk suplemen dari Soho ini dinyatakan aman untuk dikonsumsi dan bermanfaat bagi daya tahan tubuh. “Kami mengedapankan prinsip kehati–hatian terkait anjuran pemakaian dan perhatian untuk mencegah terjadinya kontra indikasi. Gunakan suplemen sesuai dengan saran pada kemasan,” ujarnya.

 

Aswin menyebut, penelitian oleh Jawad et al., yang melakukan studi klinis acak, terkontrol plasebo, dan double-blind pada 755 pasien dengan dosis ekstrak echinacea 2400 mg/hari selama 4 bulan, terlihat bahwa tidak ada kejadian efek samping yang serius pada pemberian ekstrak cchinacea sehingga dapat disimpulkan bahwa ekstrak echinacea memiliki profil keamanan yang baik.

 

2020 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check