Satgas IAI Teliti Bahan Herbal untuk Terapi Covid-19

Satgas IAI Teliti Bahan Herbal untuk Terapi Covid-19

06 Jun 2020

Dokterdigital.com - Indonesia memiliki kekayaan bahan alam yang luar biasa yang patut untuk dilakukan uji klinis sehingga dapat ditingkatkan dari produk jamu menjadi fitofarmaka. Dengan begitu, maka akan lebih mudah diterima oleh tenaga kesehatan untuk digunakan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesehatan masyarakat, terutama dalam upaya menghadapi pandemi Covid-19 sekarang ini.

 

Para ilmuwan Indonesia telah meneliti jamu yang berkhasiat obat. Jangan sampai produk jamu asli Indonesia 'dijajah' oleh jamu dari Cina yang pada umumnya menggunakan tulisan Cina yang tidak bisa dipahami apa artinya. “Saya kira sudah saatnya Pemerintah untuk mengangkat martabat jamu tidak dalam tataran lip service tetapi langkah nyata membina perusahaan jamu, meregulasi perusahaan jamu dan berpihak kepada jamu, termasuk mendorong dan membiayai uji klinis jamu sehingga mendapatkan evidence-based untuk pengobatan yang bisa dijajarkan dengan sediaan farmasi/obat," kata Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Nurul Falah Eddy Pariang dalam keterangan persnya, Sabtu (6/6).

 

Nurul menambahkan, selanjutnya jamu yang memiliki kualifikasi tertentu diharapkan juga dapat masuk dalam Formularium Nasional untuk pengobatan.

 

Sementara itu, Satgas Covid-19 Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia (PP IAI) mengajukan tiga proposal penelitian dalam Program Konsorsium Riset dan Inovasi untuk Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) yang diselenggarakan oleh Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional serta Lembaga Pengelola Dana Pendidikan Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Di bawah koordinasi Prof Keri Lestari, tiga proposal tersebut merupakan hasil kolaborasi berbagai  Institusi Pemerintah, Perguruan Tinggi, Perusahaan Farmasi, Perusahaan Jamu dan Perusahaan Teknologi Informasi.

 

Program ini merupakan salah satu upaya Pemerintah untuk mengakselerasi pengembangan riset dan inovasi teknologi di Indonesia melalui pendanaan riset dan inovasi bagi para peneliti dan perekayasa dari berbagai lembaga Penelitian, Pengembangan, Pengkajian dan Penerapan (Litbangjirap) dan industri untuk melakukan kegiatan hilirisasi hasil-hasil litbangjirap yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. ‘’Kami mengkolaborasikan Perguruan Tinggi Farmasi, Perusahaan Jamu, GP Jamu, GP Farmasi, Perusahaan IT, BPOM dan Ditjen Farmalkes Kementerian Kesehatan RI dan dalam 2 minggu menghasilkan 3 proposal yang telah dikirimkan ke Kemristek BRIN," ujar Prof Keri, yang menjabat sebagai Wakil Ketua Bidang Apoteker Advance Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia.

 

Tiga proposal tersebut meliputi Uji Klinik Multisenter: Potensi Bahan Alam Indonesia sebagai Imunomodulator untuk Ajuvan Terapi Pasien Covid-19. Tim pengusul untuk proposal ini diketuai oleh Ajeng Diantini didukung oleh IAI, GP Jamu, GP Farmasi, BPOM, Fakultas Farmasi Universitas Pad, Fakultas Kedokteran Unhas, Fakultas Farmasi Unhas, PT Cendo Pharmaceutical dan PT Royal Medicalink Pharmalab.

 

Dalam proposal diajukan dua produk yaitu TehDia dan VipAlbumin. TehDia yang mengandung Camellia sinensis dan Stevia diketahui memiliki aktivitas farmakologi sebagai antidiabetik, antihipertensi, antihiperlipidemia, antiobesitas, antikanker, antioksidan, antiinflamasi, antimikroba, antivirus, dan mampu meningkatkan fungsi hati dan ginjal. Sedangkan VipAlbumin yang berisi ekstrak ikan gabus memiliki aktivitas farmakologi sebagai antiinflamasi, khususnya menurunkan sitokin proinflamasi.

 

Tujuan penelitian untuk mengetahui manfaat pemberian TehDia dan VipAlbumin sebagai pengobatan ajuvan pada pasien Covid-19, khususnya dalam menurunkan sitokin proinflamasi, mempercepat perbaikan klinis, mengurangi tingkat kematian dan memperpendek masa rawat inap dan mengurangi risiko penularan Covid-19.

 

Proposal kedua adalah Uji Klinik ‘Innamed-Cov’: Herbal Imunomodulator Pendukung Terapi Covid-19’ dengan Tim Pengusul dari UGM, UNAIR, IAI, GP Jamu, PT Deltomed Laboratories, PT Agaricus Sido Makmur, PT Harvest Gorontalo Indonesia (HGI), BPOM, diketuai oleh Prof Zullies Ikawati. Penelitian itu akan melakukan uji klinis untuk mengeksplorasi tiga produk herbal asli Indonesia, yang memiliki keunikan masing-masing, baik dalam bentuk maupun kandungannya, sebagai imunomodulator yang dapat mendampingi terapi standar Covid-19. Tiga produk tersebut adalah OB Herbal dari PT Deltomed Laboratories, Soman-2 produksi PT Harvest Gorontalo Indonesia dan Power Zip dari PT Agaricus Sido Makmur Sentosa.

 

Sementara proposal ketiga ‘InaTeP (Indonesia TelePharmacy) : Inovasi Telepharmacy dalam Pelayanan Apoteker di Masa Pandemik Covid-19 di Indonesia’. Adapun Tim pengusul adalah IAI, ITB, Unpad dengan mitra CV Channa Striatas Mediatek ( SIAP), PT Mensa Medika Investama (Halodoc) dan PT Medika Teknologi Group (PSEF) diketuai oleh Prof Ketut Adnyana.

 

Nurul Falah mengatakan langkah-langkah yang diambil oleh Satgas Covid-19 PP IAI tersebut merupakan  lanjutan dari upaya yang telah dilakukan dalam menghadapi pandemi Covid-19, diantaranya memberikan vitamin, APD, masker, hand sanitizer kepada tenaga kesehatan dan para Apoteker yang praktik melalui Pengurus Daerah IAI.

 

2020 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check