Penting Perkuat Antioksidan di Masa Pandemi Covid-19, Ini Alasannya

Penting Perkuat Antioksidan di Masa Pandemi Covid-19, Ini Alasannya

03 Jun 2020

Dokterdigital.com - Covid 19 merupakan suatu virus pandemi yang  menimbulkan ketakutan banyak orang. Untuk meningkatkan daya tahan tubuh agar tidak mudah terserang kuman, masyarakat harus melakukan sejumlah cara-cara pencegahan, misalnya konsumsi makanan bergizi seimbang, istirahat yang cukup, kelola stres, dan konsumsi vitamin jika perlu. “Bagi mereka yang  tidak begitu yakin apakah makanan yang dikonsumsi sudah cukup mengandung vitamin, maka bisa melengkapinya dengan mengonsumsi produk vitamin atau suplemen,” kata Dr.dr. Erlina Burhan, SpP, spesialis paru RSUP Persahabatan dalam acara webinar yang dihelat Soho Global Health, Rabu (3/6).

 

Di masa pandemi Covid-19, suplemen yang disarankan adalah antioksidan. Alasannya, karena proses di dalam tubuh, seperti makanan dan segala macam, akan menimbukan oksidan. “Antioksidan adalah salah satu yang meningkatkan imun sistem. Antioksidan ada di vitamin A, C, dan E.,” kata Prof. Dr. dr. Iris Rengganis, SpPD, KAI, spesailis alergi imunologi FKUI RSCM.

 

Di masa pandemi Covid-19, setiap orang butuh sistem imun yang baik.  Prof Iris mengatakan, cara kerja antioksidan adalah menetralkan molekul radikal bebas di dalam tubuh. “Antioksidan adalah suatu substansi yang dapat menetralkan atau menghancurkan radikal bebas, yaitu zat-zat yang dapat menimbulkan racun di dalam tubuh. Dengan antioksidan, radikal bebas dapat ditangkal, sehingga tubuh kita juga dapat menangkal peradangan,” ujarnya.

 

Antioksidan banyak terdapat dalam buah dan sayur. Namun jika kita tidak cukup mengonsumsi buah dan sayur,dapat ditambahkan dengan mengonsumsi suplemen, misalnya suplemen yang mengandung astaxhantin (antara lain terdapat dalam salmon dan telur) yang mengandung antioksidan kuat.

 

Potensi antioksidan astaxanthin ternyata menakjubkan, yaitu 6000 kali lebih kuat bila dibandingkan dengan vitamin C, 500 kali lebih kuat bila dibandingkan dengan vitamin E, 550 kali lebih kuat bila dibandingkan dengan EGCG (kandungan pada teh hijau), 800 kali lebih kuat bila dibandingkan dengan Coenzyme Q10, 75 kalilebih kuat bila dibandingkan dengan asam α-lipoat. (Govind, 2016; Ekpe,2018).

 

Terkait asupan buah dan sayur, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan asupan sayur dan buah sebanyak 400 gram per hari. Sedangkan rata-rata  orang Indonesia hanya konsumsi 173 gram perhari (data BPS 2016). Padahal, bila antioksidan dalam tubuh bagus, maka orang akan lebih fit, lebih bergairah, lebih bersemangat, tidak lemah dan lesu, dan sebagainya.Antioksdan juga baik untuk kulit, menjadikannya tampil glowing.

 

Cegah Badai Sitokin

 

Mengomentari tentang suplemen antioksidan, VP Research & Development SOHO Global Health DR. Raphael Aswin Susilowidodo, M.Si, mengatakan Asthin merupakan rangkaian suplemen kesehatan yang mengandung astaxanthin sebagai sumber antioksidan. Suplementasi Asthin sering digunakan sebagai terapi suportif yang berfungsi untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh.

 

Terkait pandemi Covid 19, Aswin menambahkan, astaxanthin dapat memainkan peran utama dalam regulasi respon imun, penurunan regulasi komponen proinflamasi dan mempertahankan stres oksidasi, menghasilkan pengurangan badai sitokin. 

 

Astaxanthin juga dapat memberikan dukungan untuk pasien dengan ALI (Acute Lung Injury)/ARDS (Acute respiratory distress syndrome) dan yang terkait komplikasi (Talukdar et al, 2020). Dari berbagai penelitian in vitro, in vivo dan uji klinis, astaxanthin memiliki efek imunomodulasi, anti-inflamasi, dan antioksidan. Efek imunomodulasi astaxanthin sebagai ajuvan pada Covid-19 dapat melalui modulasi respons imun seperti neutrofil, limfosit, sel T, macrofag dan pembunuh alami sel. Astaxanthin juga berperan dalam memodulasi sitokin inflamasi (peradangan) seperti IL-1, IL-6, IL-8, IL-10, IFN-γ, TNF-α. 

 

“Modulasi terhadap respon imun,sitokin inflamasi dan juga kondisi oksidatif, sangat berperan dalam pengendalian patogensis dari Covid-19 yakni dengan mencegah terjadinya badai sitokin,” tandas Aswin.

 

Badai sitokin terjadi karena produksi sitokin yang berlebihan. Alih-alih melawan infeksi, kondisi ini justru dapat menyebabkan kerusakan organ dan berakibat fatal, misalnya pada pasien Covid-19.

 

Sitokin normalnya hanya berfungsi sebentar dan akan berhenti saat respons kekebalan tubuh tiba di daerah infeksi. Pada kondisi badai sitokin, yang terjadi adalah sitokin terus mengirimkan sinyal sehingga sel-sel kekebalan tubuh terus berdatangan dan bereaksi di luar kendali: Paru mengalami peradangan parah karena sistem kekebalan tubuh berusaha keras membunuh virus. Bahkan peradangan pun bisa terus terjadi meski infeksi sudah selesai. 

 

Selama peradangan, sistem imun juga melepas molekul bersifat racun bagi virus dan jaringan paru. Dampak badai sitokin begitu drastis dan cepat. Tanpa penanganan yang tepat, fungsi paru pasien dapat menurun hingga membuat pasien sulit bernapas, sementara infeksi terus bertambah parah dan mengakibatkan kegagalan organ.

 

2020 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check