Kehilangan Penciuman? Bisa Jadi Tanda Infeksi COVID-19

Kehilangan Penciuman? Bisa Jadi Tanda Infeksi COVID-19

03 Apr 2020

Dokterdigital.com - Kasus global COVID-19 telah menembus angka 1 juta, setidaknya telah menginfeksi lebih dari 1.015.000 orang dan menewaskan lebih dari 53.000, menurut Universitas Johns Hopkins. Negara yang paling terpukul adalah Amerika Serikat, yang melaporkan lebih dari 245.000 kasus dan menewaskan  5.900 jiwa.

 

Terkait dengan pandemi global ini, sebuah penelitian mengungkapkan bahwa selain gejala umum yang dapat diperoleh seseorang akibat terinfeksi virus corona, mereka yang positif COVID-19  juga dapat mengalami kehilangan indera perasa dan penciuman. Dan sekarang, sebuah penelitian baru berhasil menarik penjelasan yang mungkin untuk itu.

 

Mengapa COVID-19 bisa membuat orang yang terinfeksi tak bisa membaui aroma? Lebih dari seminggu yang lalu, dokter telinga, hidung, dan tenggorokan Inggris membunyikan alarm untuk dua kemungkinan gejala coronavirus yang kurang diketahui, yaitu hilangnya indera pengecap dan penciuman. Menurut dokter Inggris, setidaknya dua spesialis dari Inggris telah terinfeksi dengan virus corona setelah memeriksa dua pasien COVID-19 yang melaporkan mereka tiba-tiba kehilangan indra penciuman. Sayangnya, kedua dokter sekarang dalam kondisi kritis.

 

Di Wuhan, Cina, ada juga laporan spesialis telinga, hidung dan tenggorokan yang terinfeksi virus corona dalam keadaan mencurigakan.

 

“Jenis coronavirus sebelumnya (bukan penyebab COVID-19) dianggap bertanggung jawab atas 10-15 persen kasus. Oleh karena itu mungkin tidak mengherankan bahwa virus COVID-19  juga akan menyebabkan anosmia pada pasien yang terinfeksi. Sudah ada bukti yang baik dari Korea Selatan, Cina dan Italia bahwa sejumlah besar pasien dengan infeksi COVID-19 yang terbukti telah mengalami anosmia (kehilangan kemampuan membaui aroma),” demikian menurut pernyataan dari ENT UK.

 

Dengan demikian, sekelompok peneliti dari Departemen Neurobiologi di Harvard Medical School memutuskan untuk menyelidiki fenomena misterius ini, memilih untuk mempelajari kumpulan data genetik untuk mengidentifikasi jenis sel mana yang memungkinkan virus corona menginfeksi sel itu dan menyebabkan hilangnya fungsi penciuman.

 

Para peneliti kemudian menemukan bahwa sel pendukung dan sel punca yang ditemukan dalam jaringan penciuman mengekspresikan kedua gen yang memungkinkan SARS-CoV-2 menginfeksi sel, yang kemudian mengarah pada hilangnya bau, yang dikenal sebagai anosmia.

 

"Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan mekanisme yang memungkinkan melalui jalur mana infeksi CoV-2 dapat menyebabkan anosmia atau bentuk lain dari disfungsi penciuman," kata para peneliti. Temuan ini masih belum ditinjau oleh sejawat, dan belum divalidasi oleh eksperimen, demikian Medical Daily.

2020 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check