Bagaimana Orang dengan Penyakit Autoimun Menyikapi COVID-19?

Bagaimana Orang dengan Penyakit Autoimun Menyikapi COVID-19?

26 Mar 2020

Dokterdigital.com - Penyebaran wabah COVID-19 di seluruh dunia telah mengganggu seluruh kehidupan kita. Jelas bahwa jarak sosial merupakan komponen penting sebagai upaya untuk mengendalikan penyebaran infeksi. Sebisa mungkin jauhi tempat yang ramai. Jika harus menggunakan transportasi umum, cobalah untuk bepergian pada jam-jam tidak sibuk. Tunda pertemuan dengan teman dan keluarga. Yang terpenting, sering-seringlah mencuci tangan. 

 

Keadaan unik setiap individu akan berbeda, tetapi prinsip yang harus diterapkan untuk semua orang adalah meminimalkan kontak dengan orang lain sejauh mungkin. Kita masing-masing memiliki tanggung jawab untuk meminimalkan penyebaran virus di masyarakat.

 

CDC merekomendasikan untuk tidak mengenakan masker bagi orang sehat. Jika ada anggota keluarga sakit, dia harus memakai masker  dan hindari berada di ruangan yang sama dengan anggota keluarga yang sehat.

 

Menurut Betty Diamond, Ketua Dewan Penasihat Ilmiah The American Autoimmune Related Diseases Association (AARDA), mereka yang menggunakan obat imunosupresif (yang menekan sistem kekebalan tubuh) dan kortikosteroid lebih berisiko terkena infeksi COVID-19. “Kemungkinan juga bahwa orang yang menggunakan terapi imunosupresif yang mengembangkan virus mungkin tidak menunjukkan demam. Pasalnya, kortikosteroid dan terapi imunosupresif mengurangi aktivasi sel-sel kekebalan yang bertanggung jawab untuk demam.,” ujar Diamond.

 

Oleh karena itu, individu dengan penyakit autoimun yang membutuhkan terapi ini perlu mengetahui bahwa batuk, kelelahan, dan tentu saja kesulitan bernapas adalah alasan yang cukup untuk menghubungi dokter dengan atau tanpa demam. 

 

Menurut Public Health England, terinfeksi coronavirus dapat mengancam jiwa orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah dan mereka yang memiliki penyakit kronis, misalnya penyakit jantung, diabetes, kanker, penyakit paru-paru, dan tekanan darah tinggi.

 

Kondisi lain yang menempatkan orang memiiki sistem kekebalan tubuh lemah antara lain pasien HIV, orang yang pernah mengalami cangkok sumsum tulang atau transplantasi organ, penderita asma, dan mereka yang dirawat karena kanker atau penyakit autoimun apa pun.

 

Penyakit autoimun seperti rheumatoid arthritis, systemic lupus erythematosus (SLE), penyakit Addison, penyakit celiac, multiple sclerosis, anemia pernicious, dan psoriasis, meningkatkan risiko berkembangnya komplikasi serius yang mematikan akibat infeksi coronavirus. Penyakit autoimun lain yang termasuk dalam daftar adalah tiroiditis Hashimoto, autoimun vasculitis, diabetes tipe 1, penyakit Graves, miastenia gravis, penyakit radang usus, dan sindrom Sjogren.

 

Autoimun merupakan kondisi medis yang unik di mana sistem kekebalan menyerang tubuh sendiri.  Biasanya, sistem kekebalan akan melindungi tubuh dari virus dan bakteri. Bagi yang menderita penyakit autoimun, sistem kekebalan tubuh keliru melihat bagian tubuh normal sebagai sel asing. Kesalahan identifikasi ini menyebabkan sel imun melepaskan autoantibodi, yang kemudian menyerang sel-sel sehat. Inilah sebabnya mengapa pasien dengan penyakit autoimun berisiko lebih tinggi terinfeksi coronavirus dan mengembangkan komplikasi yang lebih serius.

 

Seringkali, pasien dengan penyakit autoimun diobati dengan obat imunosupresan. Walaupun ini dapat membantu pasien mengatasi penyakit kronis, namun di saat yang sama obat ini juga meningkatkan risiko infeksi coronavirus.

 

Lantas bagaimana cara melindungi mereka dengan kondisi autoimun dari bahaya COVID-19? Wesley Baker, CEO ANCON Medical dan ayah dari seorang bocah lelaki berusia 14 tahun dengan penyakit autoimun, mengatakan dia menganggap anaknya termasuk orang yang rentan terpapar COVID-19. Itulah  sebabnya mengapa ia memilih untuk mengisolasi putranya di kamarnya dalam upaya untuk meminimalkan risiko tertular coronavirus.

 

Baker juga memastikan lingkungan rumah bersih, menggunakan pembersih tangan dan masker berkualitas tinggi untuk mencegah penularan virus. Anak belajar melalui teknologi jarak jauh Skype alih-alih meminta gurunya mengunjunginya.

 

Sejauh ini tidak ada pengobatan atau penyembuhan untuk COVID-19 selain dari tindakan yang merespons gejala.

2020 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check