Kesadaran Deteksi Dini Kanker di Indonesia Masih Rendah

Kesadaran Deteksi Dini Kanker di Indonesia Masih Rendah

01 Mar 2020

Dokterdigital.com - Hari Kanker Sedunia diperingati pada 4 Februari, dan Hari Kanker Anak Internasional pada 15 Februari.  Ini merupakan momentum untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya pengenalan penyakit kanker

 

Indonesia juga tak luput dari kanker. Kasus kanker yang paling banyak terjadi di Indonesia adalah kanker payudara, yakni 58.256 kasus atau 16,7% dari total 348.809 kasus kanker. Kanker serviks (leher rahim) merupakan jenis kanker kedua yang paling banyak terjadi di Indonesia sebanyak 32.469 kasus atau 9,3% dari total kasus, demikian menurut Global Cancer Observatory 2018 dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

 

Jika ditemukan di stadium dini, harapan hidup pasien kanker meningkat. Namun sayangnya mayoritas pasien kanker di Indonesia datang di stadium lanjut sehingga peluang hidupnya juga menipis. Data menyebut, sebanyak 70 persen kanker serviks ditemukan pada stadium lanjut dan menjadi penyebab kematian nomor tiga karena kanker pada wanita di Indonesia. Human papilomavirus (HPV) adalah penyebab kanker serviks dan ditularkan melalui kontak seksual.

 

Wanita harus melakukan deteksi dini terkait kanker. Upaya deteksi dini kanker payudara dan kanker leher rahim dapat dilakukan dengan menggunakan metode Pemeriksaan Payudara Klinis (SADANIS) untuk payudara dan Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) untuk leher rahim pada perempuan usia 30-50 tahun. 

 

Wanita sebaiknya mengenali dan aware terhadap gejala kanker serviks stadium lanjut, antara lain nyeri panggul atau perut bagian bawah saat kontak seksual, cairan vagina tidak normal seperti bau menyengat atau diserai darah, perdarahan di antara 2 siklus haid atau setelah menopause  atau setelah kontak seksual.

 

Pentingnya Nutrisi untuk Pasien Kanker

 

Pasien kanker membutuhkan asupan nutrisi yang baik selama perawatan. Kebutuhan gizi penderita kanker harus terpenuhi agar tidak mengalami kekurangan gizi alias malnutrisi yang justru bisa menjadi bumerang untuk dirinya.

 

Pasien kanker rentan dan daya tahan tubuhnya lemah. Pasien kanker yang malnutrisi membuat pengobatan menjadi tidak efektif, kata dokter spesialis gizi klinik, Maria Inggrid Budiman.

 

Data menyebut, ada sekitar 80-90 persen penderita kanker yang menunjukkan tanda dan gejala kekurangan gizi. Dari jumlah itu, sebanyak 20 hingga 40 persen pasien kanker mungkin meninggal dunia karena kekurangan gizi, selain komplikasi. 

 

“Pasien kanker rentan malnutrisi. Kebutuhan kalori mereka besar, namun di saat yang sama mereka sulit makan. Padahal makanan bergizi baik penting untuk membantu pengobatan. Status gizi buruk di sisi lain, bisa membuat efek terapi obat kurang. Badan juga bisa turun imunitasnya,” ujar Inggrid di sela temu komunitas survivor kanker di Karawaci yang dihelat Kalbe Farma dan ICCC, Sabtu (29/2).

 

Michael Buyung Nugroho, direktur Kalbe Farma di kesempatan sama menandaskan, pasien yang terdiagnosis kanker sebaiknya jangan menunda sampai gejalanya kian parah. “Ada benjolan, batuk-batuk dan BAB darah masih santai namun begitu dikonsultasikan ke dokter sudah staadium lanjut dan menyebar. Hal ini harus dihindari. Lakukan deteksi dini dan bila ada kanker, segera berobat,” ujarnya.

 

“Lebih dini penyakit kanker ditemukan, dan mendapat penanganan sejak awal, maka peluang untuk sembuh pun jauh lebih besar,” tandas Michael.

 

2020 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check