Tangkal Serangan Coronavirus, Waspadai Kelompok Rentan

Tangkal Serangan Coronavirus, Waspadai Kelompok Rentan

19 Feb 2020

Dokterdigital.com - Wabah coronavirus baru alias COVID-19 terus meluas dan belum menunjukkan tanda akan mereda. Hingga 19 Februari 2020, dilaporkan lebih dari 2.000 orang tewas akibat infeksi virus ini - sebagian besar di Cina daratan. Komisi Kesehatan Cina mengumumkan 136 kematian baru sejak Senin (17/2), menjadikan jumlah korban tewas di seluruh negeri menjadi 2.004. COVID-19 menginfeksi lebih dari 75.000 orang secara global.

 

Jepang, Singapura dan Korea Selatan telah melaporkan peningkatan kasus. Pusat Pengendalian Penyakit Korea mengonfirmasi 20 infeksi baru, menjadikan total infeksi 51 kasus.

 

Saat ini belum tercatat adanya korban virus korona di Indonesia. Meski dilaporkan infeksi coronavirus di Tanah Air masih nihil, namun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendesak Indonesia untuk berupaya lebih keras untuk mempersiapkan kemungkinan wabah coronavirus, dengan meningkatkan pengawasan, deteksi kasus, dan persiapan di fasilitas kesehatan yang ditunjuk jika wabah tiba.

 

Menanggapi wabah coronavirus COVID-19, Konsultan Paru Sub Infeksi RSUP Persahabatan dr Erlina Burhan, M.Sc, SpP (K), Konsultan Paru Sub Infeksi RSUP Persahabatan, meski berjaga-jaga namun masyarakat tidak perlu panik. “Sejauh yang diketahui virus corona hanya menular bila terjadi kontak langsung dengan orang yang sudah lebih dulu terkena virus,” ujarnya di sela-sela diskusi media Cegah Corona dengan Perkuat Sistem Kekebalan Tubuh yang dihelat Sogo Global Health di Jakarta, Rabu (19/2).

 

Coronavirus menyebar dari manusia ke manusia lewat batuk, bersin, atau kontak dekat. Namun bila seseorang memiliki antibodi yang kuat, maka coronavirus tidak bisa melumpuhkan pertahanan tubuh.

 

Tindakan pencegahan perlu dilakukan, antara lain dengan memperkuat antibodi kita sehingga kebal terhadap serangan virus, termasuk coronavirys.

Perilaku lain yang perlu dijalankan adalah menjaga kebersihan diri, mislanya rutin mencuci tangan. “Mencuci tangan secara benar dapat mengurangi risiko penyebaran virus hingga 37 persen,” ujarnya.

 

Lakukan cuci tangan setidaknya 20 detik dengan rutin sebelum memegang mulut, hidung, mata serta setelah memegang instalasi publik. Pencegahan lain adalah memakai masker ketika batuk atau berada di  keramaian. 

 

Menurut Erlina, masker merupakan salah satu cara mengantisipasi terkena droplet (muncratan) dari orang lain saat batuk atau bersin. Droplet ini bisa saja mengandung virus, termasuk Covid-19 atau bakteri. “Pakai saja masker bedah cukup, bukan N95 karena yang terakhir untuk petugas medis,” ujarnya.

 

Waspadai Kelompok Rentan

 

Terkait wabah COVID-19, riset yang dipublikasikan di Journal of the American Medical Association -  merujuk pada analisis pasien-pasien di Rumah Sakit Jinyintan di Wuhan, Cina - menemukan bahwa setengah dari semua orang yang tertular coronavirus  berusia 40 hingga 59 tahun. Hanya 10% di antara para pasien yang lebih muda dari 39 tahun. Namun jangan salah, anak-anak dan bayi juga bisa terinfeksi coronavirus.

 

Menanggapi hal ini, Konsultan Respi Anak di RSCM, Prof. dr. Bambang Supriyatno, SpA (K), menjelaskan anak-anak justru menjadi objek yang rentan terserang virus. “Sistem imunitas pada bayi dan anak masih belajar mengenali dan melindungi tubuh dari kuman yang masuk. Sedangkan pada anak remaja dan orang dewasa, sistem imunitas tubuhnya sudah langsung mengenali jenis kuman dan segera menyerangnya begitu kuman masuk ke dalam tubuh,” ujar Prof Bambang di kesempatan sama.

 

Langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah anak terserang virus adalah melengkapi imunisasi anak, menerapkan pola hidup bersih, dan meningkatkan daya tahan tubuh anak dengan asupan gizi yang dibutuhkan tubuh untuk pembentukan antibodi. “Orangtua  perlu waspaa dalam memantau kondisi anak. Amati gejala-gajala penyakit yang mungkin terjadi pada anak agar bias cepat tertangani,” imbuh Prof Bambang.

 

Terkait dengan sistem imun, pakar imunologi dari RSCM, Prof. Dr. dr. Iris Rengganis, Sp.PD-KAI, tubuh memiliki sistem imun atau sistem pertahanan, sebagai mekanisme alami untuk melawan ancaman dari masuknya benda asing dari luar, seperti virus, bakteri, jamur. Bila daya tahan tubuh lemah, maka benda asing akan mudah masuk, sehingga menyebabkan terkena infeksi dan muncul beberapa gejala misalnya bersin, demam dan lainnya.

 

“Sistem imun dapat ditingkatkan dengan memodulasi (mengatur) sistem daya tahan tubuh menggunakan imunostimulan yang berperan mengaktivasi berbagai elemen dan mekanisme berbeda pada sistem imun,” beber Prof Iris.. 

 

Imunostimulan berfungsi meningkatkan pertahanan alamiah tubuh untuk mengatasi berbagai infeksi virus dan bakteri, dan juga berbagai penyakit di mana sistem imun mengalami penurunan atau tertekan. Imunostimulan, dapat membantu sistem kerja imun dengan cara merangsang pembentukan berbagai sel-sel imun yang memiliki fungsi penting, salah satunya dengan meningkatkan pembentukan antibodi dan sitokin serta memperbaiki fungsi fagosistosis.

 

Sistem imun dapat ditingkatkan dengan mengonsumsi makanan bergizi, jika perlu tambahkan suplemen atau imunostimulan. Kelompok usia yang rentan memiliki daya tahan tubuh rendah, terutama lanjut usia atau d iatas usia 60 tahun, perlu diberikan imunostimulan. 

 

2020 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check