Deteksi 'Si Pembunuh Senyap' dengan Calcium Scoring, Apa Kelebihannya

Deteksi 'Si Pembunuh Senyap' dengan Calcium Scoring, Apa Kelebihannya

18 Feb 2020

Dokterdigital.com - Kabar duka datang dari keluarga Bunga Citra Lestari. Pagi ini,  suami penyanyi yang akrab disapa BCL, Ashraf Sinclair, meninggal di usia 40 tahun akibat serangan jantung.

 

Penyakit kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah) masih menjadi ancaman dunia dan merupakan penyakit yang berperan utama sebagai penyebab kematian nomor satu di seluruh dunia. Penyakit ini tak mengenal usia. Bahkan di usia yang terbilang muda, bisa terkena serangan jantung. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut, lebih dari 17 juta orang di dunia meninggal akibat penyakit jantung dan pembuluh darah. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, angka kejadian penyakit jantung dan pembuluh darah semakin meningkat dari tahun ke tahun. Setidaknya, 15 dari 1000 orang, atau sekitar 2.784.064 individu di Indonesia menderita penyakit jantung.

 

Penyakit jantung ada bermacam jenisnya, antara lain penyakit jantung koroner, katup, bawaan, hipertensi, gagal jantung, irama jantung dll. Masing-masing mempunyai gejala dan tanda yang berbeda. 

 

Yang paling menakutkan adalah penyakit jantung koroner karena tingkat fatalitas yang tinggi (mematikan). Sayangnya tidak pada semua penderita memberikan tanda atau gejala, oleh karena itu penyakit jantung koroner sering disebut "silent-killer" (pembunuh senyap).

 

“Karenanya, kita harus selalu cek kondisi jantung untuk dapat mengetahui kondisinya, terutama pada orang yang mempunyai risiko,” demikian saran DR. Dr. Raja Adil C. Siregar, SpJP(K), FIHA, FICA, FESC, FACC, FAPSIC, FSCAI, spesialis jantung dan pembuluh darah sub-ahli kardiologi intervensi konsultan Bethsaida Hospital Gading Serpong.

 

Penyakit jantung koroner merupakan sakit jantung yang mengenai sistem pembuluh darah koroner (sistem pembuluh darah yang memberi darah/mensuplai energi dan oksigen) ke otot jantung. 

 

Agar bisa menjalankan tugas dengan optimal, otot jantung memerlukan suplai darah melalui pembuluh darah koroner. Bila ada yang menghalangi suplai darah ke otot jantung - misalnya karena ada sumbatan di pembuluh darah koroner sehingga mengganggu jalannya darah - maka darah yang sampai ke otot jantung akan berkurang. “Akibatnya tampilan kerja otot jantung akan berkurang,” ujar Raja Adil. Dilihat dari derajatnya, sumbatan ini mulai ringan hingga berat (tersumbat total pada serangan jantung akut).

 

Raja Adil menjelaskan, sejauh ini ada beberapa cara untuk memeriksa kondisi pembuluh darah koroner, ada yang memeriksa secara fungsional (tidak langsung), misalnya: EKG, treadmill, dan echocardiography. Sedangkan yang secara langsung ke anatomi pembuluh darah koroner, seperti: CT-Scan/calcium scoring dan kateterisasi. 

 

“Untuk mengetahui kondisi pembuluh darah koroner, pemeriksaan secara langsung ke anatominya tentu lebih baik. Tetapi kendalanya pemeriksaan tersebut invasif (melukai pasien), lama, mahal, sehingga sulit digunakan untuk skrining,” ujarnya.

 

Namun ada pemeriksaan - disebut calcium scoring - merupakan bagian dari pemeriksaan CT-Scan yang mempunyai beberapa kelebihan sehingga dapat digunakan untuk penapisan. Raja Adil menjabarkan, calcium scoring merupakan pemeriksaan nilai kalsium pada pembuluh darah jantung menggunakan CT Scan. “Ini merupakan cara non invasif untuk memperoleh informasi tentang keberadaan, lokasi dan kadar sumbatan di arteri koroner,” ujarnya.

 

Nilai kalsium yang didapat merupakan indikator yang berguna untuk melihat seberapa banyak sumbatan di pembuluh darah koroner jantung dan seberapa besar risiko seseorang terkena serangan jantung.

 

Raja Adil lebih lanjut menjabarkan, terbentuknya sumbatan diawali oleh penimbunan lemak yang menumpuk di pembuluh darah koroner. Dalam proses aterosklerosis (proses terbentuknya sumbatan), kalsium akan ikut dalam proses yang diawali dengan pembentukan lemak. “Makin besar sumbatan, akan makin banyak pula jumlah kalsiumnya dan tidak tergantung pada konsumsi kalsium ataupun kadar kalsium dalam darah,” urainya.

 

Menurut Raja Adil, calcium scoring memiliki sejumlah kelebihan dibandingkan metode lain, di antaranya efektif, langsung ke anatomi koroner, hasil cukup informatif untuk penapisan, non-invasif sehingga tidak melukai pasien, pemeriksaan cepat demikian juga perolehan hasilnya, tidak melelahkan pasien dan harganya relatif terjangkau.  “Calcium scoring tidak banyak radiasi, tidak perlu cek laboratorium untuk fungsi ginjal (ureum kreatinin), juga pasien tidak perlu puasa,” ujarnya.

 

Modifikasi gaya hidup dapat  menurunkan risiko PJK, antara lain konsumsi makanan bergizi seimbang, enyahkan asap rokok, kelola stres, awasi tekanan darah dan olahraga teratur.

2020 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check