Ilmuwan Temukan Alasan Ilmiah Stres Percepat Munculnya Uban

Ilmuwan Temukan Alasan Ilmiah Stres Percepat Munculnya Uban

29 Jan 2020

Dokterdigital.com - Sebuah studi baru telah menemukan alasan mengapa orang kehilangan warna rambut mereka selama masa-masa stres, sehingga membuahkan uban. Para peneliti di Universitas Harvard mengatakan rambut yang mulai memutih terjadi karena kerusakan permanen yang disebabkan oleh stres pada sel-sel induk regenerasi pigmen dalam folikel rambut.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature, bertujuan untuk membantu komunitas medis memahami dampak langsung dari stres pada kesehatan manusia. Orang-orang mendapati rambut mereka beruban ketika stres mengaktifkan saraf tertentu yang berperan dalam respons fight-or-flight.

Para peneliti menganalisis bagaimana stres mempengaruhi sistem organ individu, dari interaksi sel ke sel dan dinamika molekul. Mereka menggunakan berbagai metode yang melibatkan memanipulasi organ, saraf, dan reseptor sel.
Tim peneliti awalnya berpikir bahwa stres menyebabkan perubahan dalam tubuh karena serangan kekebalan pada sel-sel yang memproduksi pigmen. Tetapi tes pada tikus di laboratorium menunjukkan bahwa rambut beruban terjadi bahkan pada hewan yang tidak memiliki sel kekebalan dan hormon kortisol.

"Stres selalu meningkatkan kadar hormon kortisol dalam tubuh, jadi kami berpikir bahwa kortisol mungkin berperan," ujar Ya-Chieh Hsu, penulis studi senior dari Alvin and Esta Star Associate Professor of Stem Cell and Regenerative Biology di Harvard.

"Tapi yang mengejutkan, ketika kita menghilangkan kelenjar adrenalin dari tikus sehingga mereka tidak bisa menghasilkan hormon seperti kortisol, rambut mereka masih berubah menjadi abu-abu karena stres," imbuhnya.

Para peneliti kemudian melihat ke sistem saraf simpatik, yang terhubung ke setiap folikel rambut pada kulit. Ini juga memainkan peran penting dalam respons fight-or-flight. Ketika subjek mengalami stres, saraf simpatik menghasilkan norepinefrin kimia, yang bergerak ke sel induk regenerasi pigmen. Bahan kimia tersebut secara langsung mempengaruhi sel-sel batang yang mewarnai rambut dan menyebabkan perubahan pada folikel rambut.

"Setelah hanya beberapa hari, semua sel induk regenerasi pigmen hilang," tambah Hsu. "Begitu mereka pergi, kita tidak bisa membuat ulang pigmen lagi. Kerusakannya permanen. "

Studi ini akan membantu membimbing para ilmuwan dalam upaya memahami efek stres yang lebih luas pada organ individu dan bahkan jaringan, kata para peneliti. Mereka berharap bahwa temuan ini juga akan membantu dalam pengembangan perawatan atau metode untuk memodifikasi atau memblokir efek stres yang merusak, demikian Science Daily.

2020 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check