Ilmuwan Temukan Vaksin Flu Efektif Lawan Kanker

Ilmuwan Temukan Vaksin Flu Efektif Lawan Kanker

16 Jan 2020

Dokterdigital.com - Ada harapan baru dalam pengobatan kanker. Eksperimen terbaru yang dilakukan padamodel tikus menunjukkan bahwa menyuntikkan virus flu yang tidak aktif ke dalam tumor kanker membuat ukurannya menyusut dan meningkatkan efektivitas imunoterapi.

Bicara tentang tumor kanker, banyak faktor yang mempengaruhi apakah penyakit ini bakal menanggapi pengobatan atau tidak. Salah satunya adalah apakah tumornya "panas" atau "dingin." Apa artinya? Dalam beberapa tahun terakhir, jenis baru terapi antikanker telah mulai populer: imunoterapi. Bentuk terapi ini bekerja dengan meningkatkan respons kekebalan tubuh sendiri terhadap tumor kanker.

Namun, agar imunoterapi bisa bekerja dengan optimal, maka harus diterapkan pada tumor "panas" - artinya harus mengandung sel-sel kekebalan. Jika tumor tidak mengandung (cukup) sel imun, atau mengandung sel imunosupresan, maka disebut tumor "dingin".

Satu pertanyaan yang sedang dipecahkan peneliti adalah bagaimana cara mengubah tumor dingin menjadi tumor panas yang akan menanggapi imunoterapi? Sebuah tim peneliti dari Rush University Medical Center di Chicago, IL, sekarang mungkin telah menemukan cara yang efektif untuk melakukan hal itu dengan menggunakan virus flu yang tidak aktif - pada dasarnya vaksin flu - dalam percobaan model tikus. Para peneliti menjelaskan proses serta temuan mereka dalam sebuah makalah studi yang sekarang ditampilkan di jurnal PNAS.

Para peneliti mendapat ide untuk studi baru ini dengan melihat data dari National Cancer Institute. Data menunjukkan bahwa orang-orang dengan kanker paru-paru yang juga berada di rumah sakit dengan infeksi paru-paru yang berhubungan dengan influenza cenderung hidup lebih lama daripada mereka yang menderita kanker paru-paru yang tidak memiliki virus flu. Ketika peneliti menciptakan kembali skenario ini dalam model tikus, para peneliti mengonfirmasi bahwa pasien dengan  tumor kanker dan infeksi terkait influenza cenderung hidup lebih lama.

Ke depan, tim peneliti ingin memahami bagaimana tanggapan kekebalan tubuh yang kuat terhadap patogen seperti influenza dan komponennya dapat meningkatkan tanggapan kekebalan yang jauh lebih lemah terhadap beberapa tumor, demikian menurut penulis penelitian senior Dr. Andrew Zloza. "Namun, ada banyak faktor yang kita tidak mengerti tentang infeksi hidup. Dan efek ini tidak berulang pada tumor di mana infeksi influenza tidak terjadi secara alami, seperti kulit," ujar Zioza.

Jadi, para peneliti menyuntikkan virus influenza yang tidak aktif ke dalam tumor melanoma pada model tikus. Mereka menemukan bahwa "vaksin" ini mengubah tumor dari dingin menjadi panas dengan meningkatkan konsentrasi sel dendritik dalam tumor. Sel-sel ini dapat merangsang respon imun, dan sel-sel itu dapat memicu peningkatan sel T CD8 +, yang dapat mengenali dan menghancurkan sel-sel kanker. Akibatnya, tumor melanoma tikus tumbuh lebih lambat atau mulai menyusut.

Juga, para peneliti melihat bahwa pemberian vaksin flu ke dalam tumor melanoma di satu sisi tubuh tikus menyebabkan pengurangan tidak hanya pada pertumbuhan tumor yang disuntikkan, tetapi juga pada pertumbuhan lebih lambat dari tumor lain, pada sisi yang berbeda dari tubuh, yang mereka tidak disuntikkan. Para peneliti melihat hasil yang sama ketika memberikan vaksin flu untuk tumor kanker payudara triple-negative metastatik pada model tikus.

"Berdasarkan hasil ini, kami berharap bahwa pada [manusia], menyuntikkan satu tumor dengan vaksin influenza [akan] mengarah pada tanggapan kekebalan pada tumor mereka yang lain juga," imbuh Zloza.

Dengan keberhasilan vaksin flu dalam melawan kanker, para peneliti bertanya-tanya apakah vaksin flu musiman yang sudah disetujui  FDA [Food and Drug Administration] dapat disetujui untuk digunakan sebagai pengobatan kanker. "Karena (vaksin) ini telah digunakan pada jutaan orang dan telah terbukti aman, kami pikir menggunakan suntikan flu untuk mengobati kanker dapat diberikan kapada pasien dengan cepat," tandas Zloza.

2020 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check