Orangtua Milenial Mulai Minati Pola Asuh Organik

Orangtua Milenial Mulai Minati Pola Asuh Organik

03 Dec 2019

Dokterdigital.com - Orangtua milenial menghadapi beragam tantangan dalam pengasuhan anak. Tak bisa dimungkiri, gawai menjadi alat yang tak bisa dipisahkan dari kehidupan modern. Sayangnya bukan hanya orang dewasa yang mulai bergantung pada piranti pintar ini, bahkan juga anak-anak.

Dalam membina keterikatan orangtua dan anak, gawai bisa menjadi pedang bermata dua. Orangtua milenial dituntut untuk bisa memilih pola asuh yang sesuai dengan karakteristik keluarga. Belakangan ini pola asuh organik (organic parenting) menjadi pilihan menarik bagi orangtua milenial dalam mendidik anak, dengan fokus pada membangun relasi atau kedekatan, fisik maupun emosi.

Pengasuhan organik diterjemahkan orangtua menggunakan gaya alami dalam membesarkan dan mendidik anak-anak mereka, misalnya dengan meninggalkan kebiasaan bermain gawai dengan lebih sering beradaptasi dengan lingkungan, juga termasuk mengenalkan anak dengan produk makanan berbahan organik. Selain itu pola asuh organik yang berfokus mengajak anak melakukan lebih banyak kegiatan fisik di luar ruang bersama orangtua juga dapat merangsang dan mengembangkan sistem sensori anak secara matang.

"Kematangan sensori anak merupakan hal yang fundamental bagi perkembangan otak, baik secara fisik- motorik, kecerdasan berpikir, dan juga sosial-emosional anak," ujar psikiater Prof. DR. dr. Tjhin Wiguna Sp.KJ(K) dalam diskusi media terkait pengasuhan organik yang dihelat Arla Indofood di Jakarta, Senin (2/12).

Prof Thjin menambahkan, pola asuh organik merupakan sebuah gaya pengasuhan orangtua kepada anak yang bersifat alami, dan sesuai dengan fungsi yang seharusnya. "Uuntuk menerapkan pola asuh ini memerlukan keterikatan emosional yang kuat antara orangtua dan anak," bebernya. Dia menambahkan, kedekatan orangtua dengan anak merupakan cara ideal untuk meningkatkan rasa aman, mandiri, dan rasa empati anak.

Pola asuh organik semacam ini paling dibutuhkan oleh anak-anak untuk perkembangan otak di masa krusialnya (0-3 tahun). "Pola asuh organik merupakan gaya pengasuhan yang bersifat alami, kembali kepada kodrat yang seharusnya. Harus ada hubungan keterdekatan emosi antara ibu dan anak," tandas Prof Tjhin.

Sayangnya, gadge alias gawait kadang menjadi penghalang untuk membina kedekatan dan interaksi antara orangtua dan anak. Gadget, sebut Prof Thjin, membuat ikatan batin antara ibu dan anak semakin berjarak.

Video call nyatanya bukan solusi untuk membina kedekatan dan membangun bonding dengan anak. "Konektivitas di dunia maya tidak akan menyelesaikan masalah. Perlu ada emotional connectivity yang dilakukan secara langsung tanpa melalui gadget," imbuhnya.

Hubungan emosional yang baik antara orangtua dan anak, secara langsung dapat merangsang perkembangan kognitif pada otak anak. Prof Thjin menganjurkan kepada orangtua agar menjalin hubungan emosional kepada anak sedini mungkin, bahkan saat bayi masih berada dalam kandungan. Alasannya, bayi di dalam kandungan otaknya mulai berkembang, jadi perlu dirangsang agar perkembangannya optimal.

Bicara soal pola asuh organik, Caca Tengker berusaha menerapkan pengasuhan ini untuk buah hatinya. Di sela jadwalnya yang sibuk, Caca berusaha menghabiskan waktu bersama anak. "Saat bersama dia, gadget ditaruh dulu. Saya pilih ngobrol bersama dia, ngajak bermain. Mengenalkan alam, kebetulan kami ada taman di dalam rumah," ujarnya.

Caca juga terlibat bermain dengan boneka yang dimiliki sang anak untuk memperkenalkan banyak jenis-jenis binatang. Dia mengajari anaknya belajar empati dengan cara berpikir anak-anak. "Berempati sambil bermain. Misalnya bangun tidur bonekanya (pura-pura) dikasih makan, dikasih susu. Seperti bermain peran. Ini organic parenting dari cara sederhana menurutku," pungkasnya.

2020 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check