Kuman yang Tidak Mempan Antibiotik Makin Merajalela

Kuman yang Tidak Mempan Antibiotik Makin Merajalela

18 Nov 2019

Dokterdigital.com - Penggunaan antibiotik yang tidak tepat di sektor peternakan, pertanian, perikanan dan kesehatan masyarakat mempercepat laju resistensi bakteri yang telah menjadi ancaman serius terhadap keamanan global, ketahanan pangan, serta menjadi tantangan pembangunan berkelanjutan dengan dampak yang signifikan terhadap stabilitas ekonomi. Untuk mengingatkan bahaya nyata resistensi terhadap antibiotik, 18-24 November 2019 ditetapkan sebagai Pekan Kesadaran Penggunaan Antibiotik Sedunia (World Antibiotic Awareness Week).

Resistensi antimikroba atau antimicrobial resistance (AMR) telah dinyatakan sebagai salah satu permasalahan kesehatan paling mengancam populasi dunia. Tanpa upaya pengendalian global, di tahun 2050 diperkirakan AMR menjadi pembunuh nomor satu di dunia, dengan angka kematian mencapai 10 juta jiwa. Tingkat kematian tertinggi diperkirakan terjadi di kawasan Asia (4,7 juta).

Saat ini, tiap tahunnya kurang lebih 25 ribu nyawa melayang di Eropa, 23 ribu di Amerika Serikat, 38 ribu di Thailand, dan 58 ribu bayi di India. Semua itu akibat terinfeksi bakteri yang sudah kebal terhadap antibiotik.

Menanggapi hal ini, pendiri dan dewan penasihat Yayasan Orang Tua Peduli (YOP), Purnamawati Sujud, menekankan bahwa antibiotik merupakan sumber daya yang tidak terbarukan, dan saat ini persediaannya sudah menipis. "Sudah makin banyak bakteri yang menjadi kebal dan tidak lagi mempan dengan antibiotik yang tersedia. Jika akses kita terhadap antibiotik sudah tidak ada lagi, beban penyakit infeksi akan semakin berat untuk ditanggung, dan layanan kesehatan pun akan menjadi sangat mahal dengan hasil yang tidak efektif," kata Purnamawati dalam temu media di Jakarta, baru-baru ini.

Untuk alasan inilah, kita semua perlu bertindak mengendalikan penggunaan antibiotik di semua sektor agar tidak kehilangan akses terhadap antibiotik dan tidak kembali ke era sebelum antibiotik ditemukan, ketika infeksi bakteri dan penyakit ringan tidak lagi bisa ditangani dan dapat berujung pada kematian.'

Bahaya resistensi antimikroba juga erat kaitannya dengan perilaku pencegahan dan pengobatan, dan sistem keamanan produksi pangan dan lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan “One Health” yang melibatkan sektor kesehatan, pertanian (termasuk peternakan dan kesehatan hewan) serta lingkungan untuk mengendalikan AMR secara holistik. Menanggapi hal ini, Drh. Wayan Wiryawan, pengurus dan anggota Asosiasi Dokter Hewan Perunggasan Indonesia (ADHI) menekankan untuk menyikapi permasalahan AMR dan tuntutan global bagi tersedianya pangan asal hewani yang sehat dan aman, Indonesia harus mampu menjadi produsen serta pengekspor produk pangan asal hewani yang aman, sehat, utuh dan halal.

"Untuk itu, peternak harus bisa menerapkan praktik-praktik peternakan yang baik - yang berfokus pada animal welfare. Salah satunya adalah dengan mengimplementasikan biosekuriti 3 zona serta dalam menjaga kesehatan hewan ternak tidak selalu tergantung menggunakan antibiotik," ujar Wayan. Dia menekankan, antibiotik diperlukan hanya untuk pengobatan bila hewan ternak mengalami sakit karena infeksi bakteri saja.

 

 

2019 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check