Pria yang Bekerja Bagai Kuda Rentan Botak

Pria yang Bekerja Bagai Kuda Rentan Botak

30 Oct 2019

Dokterdigital.com - Pekerja 'zaman now' banyak menghabiskan waktu di kantor demi 'kejar setoran' untuk melunasi cicilan atau membeli rumah impian. Kerja dalam durasi panjang dikaitkan dengan stres, kurang tidur, sakit kepala migrain, dan depresi. Riset terkini menunjukkan kerja keras bagai kuda dalam jam panjang juga diakitkan dengan masalah kebotakan.

Para ilmuwan di Korea Selatan telah menemukan bahwa stres karena bekerja berjam-jam dapat merusak folikel rambut pria. Ini merupakan studi pertama yang mengaitkan jam kerja panjang dengan risiko kebotakan. Para ilmuwan dari Universitas Sungkyunkwan menganalisis 13.391 laki-laki bekerja antara 2013 hingga 2017. Para peserta berusia antara 20 dan 59 tahun. Perempuan tidak dimasukkan dalam penelitian ini.

Peserta dibagi menjadi tiga kelompok: pekerja "normal" yang bekerja selama 40 jam seminggu, pekerja "lama" yang menghabiskan waktu hingga 52 jam di kantor dan pekerja "lebih lama" yang bekerja keras selama lebih dari 52 jam selama tujuh hari.

Para ilmuwan menemukan bahwa mereka yang berusia 20-an atau 30-an yang bekerja setidaknya 52 jam seminggu dua kali lebih mungkin mengembangkan alopecia (kebotakan) daripada rekan-rekan mereka yang kurang 'fanatik' dalam bekerja. Alopecia (istilah umum untuk kerontokan rambut) meningkat hampir 4 persen pada kelompok pekerja yang masuk kategori "lebih lama" dibandingkan dengan 3 persen pada kelompok "lama", dan 2 persen di antara pekerja "normal". Hasil ini bahkan tetap konsisten setelah para ilmuwan menyesuaikan dengan pendapatan, merokok dan status perkawinan.

Studi ini menemukan bahwa terlalu banyak waktu di kantor menyebabkan stres hebat, yang dianggap merusak folikel rambut. Stres mungkin juga mendorong folikel rambut memasuki fase "catagen" atau tahap transisi antara ketika rambut aktif tumbuh dan ketika "beristirahat".

Alasan lain meningkatnya risiko kerontokan rambut adalah karena testosteron (hormon seks pria utama) yang menghasilkan produk sampingan yang disebut dihidrotestosteron yang menyebabkan folikel rambut menyusut. "Hasil penelitian ini menunjukkan jam kerja yang panjang secara signifikan terkait dengan peningkatan perkembangan alopecia pada pekerja laki-laki," demikian menurut penulis utama Dr. Kyung-Hun Son.

Selain itu, peneliti menemukan bahwa kekuatan hubungan meningkat secara linear seiring waktu kerja yang semakin lama. Batasan jam kerja untuk mencegah perkembangan alopecia mungkin diperlukan pekerja yang lebih muda, misalnya mereka yang berusia dua puluhan dan tiga puluhan, di mana gejala kerontokan rambut mulai muncul

Dr. Son mengatakan banyak penelitian sebelumnya telah mengungkapkan mekanisme perkembangan alopecia oleh stres. Dia mengatakan percobaan tikus telah menunjukkan stres secara signifikan terkait dengan penghambatan pertumbuhan rambut, aktivasi siklus catagen dan kerusakan pada folikel rambut. "Kami dengan hati-hati mengasumsikan hubungan antara jam kerja yang panjang dan pengembangan alopecia kemungkinan dimediasi oleh stres terkait pekerjaan," kata Dr. Son.

Dari hasil Penelitian ini para ilmuwan menyerukan aturan yang lebih ketat untuk melakukan kerja lembur. “Intervensi preventif untuk mempromosikan jam kerja yang sesuai dan wajar diperlukan dalam masyarakat,” tandas Dr. Son.

 

2021 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check