Mekanisme Kegemukan dalam Memicu Kanker

Mekanisme Kegemukan dalam Memicu Kanker

09 Oct 2019

Dokterdigital.com - Obesitas alias kegemukan dipandang sebagai epidemi yang perlu diwaspadai. Banyak penyakit tidak menular yang muncul akibat kegemukan, termasuk meningkatkan risiko terkena kanker. Proporsi lemak berlebih di tubuh dapat mengganggu keseimbangan hormon, fungsi tubuh dan  memicu peradangan yang meningkatkan peluang terkena kanker.

Kita tahu, kanker merupakan penyakit kompleks dan dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya berat badan berlebih. Menurut Ketua Yayasan Kanker Indonesia (YKI) dan Perhimpunan Onkologi Indonesia (POI) Prof Dr dr Aru Wisaksono Sudoyo, SpPD-KHOM, kegemukan dapat merasangsang perkembangan sel kanker. Sel lemak berpengaruh langsung terhadap kerja hormon dan senyawa hormone tumor growth factor dalam memicu kanker. "kegemukan bisa memicu terjadinya kanker. Apalagi jika sudah sampai terkena diabetes. Hal ini berkaitan dengan tingginya kadar insulin pada orang kegemukan," kata Prof Aru dalam diskusi  Kalbe Academia for Media di Rancamaya Bogor Jawa Barat, Selasa (8/10).

Kadar insulin berlebih dalam darah dan resistensi insulin sering ditemukan pada individu yang mengalami obesitas dan kondisi ini dapat memicu berbagai sel kanker pada organ tertentu. Selain itu, pada mereka yang kegemukan bisa memicu produksi hormon estrogen berlebih yang dapat memicu kanker terutama meningkatkan risiko kanker payudara dan kanker rahim (ovarium) pada perempuan.

Terkait kegemukan bisa memicu kanker, peneliti dari Trinity College Dublin, Irlandia, beberapa waktu mengungkap bahwa lemak pada pengidap obesitas dapat menyumbat tipe sel khusus yang digunakan tubuh untuk melawan kanker. Akibatnya, sel yang melawan kanker tersebut tidak berfungsi dan membuat sel kanker berkembang bebas.

Para ilmuwan sebelumnya memperkirakan bahwa lemak mengirimkan sinyal pada tubuh yang bisa membahayakan sel sehat, termasuk memicu sel kanker dan membuatnya lebih cepat membelah diri. Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Nature Immunology, peneliti dari Trinity menunjukkan bagaimana sel yang berfungsi melawan kanker tersumbat oleh lemak.

Salah satu cara untuk meminimalkan kanker akibar kegemukan adalah dengan menurunkan berat badan. Riset menunjukkan obesitas meningkatkan risiko 13 tipe kanker, namun ilmuwan mengaku belum sepenuhnya paham mekanisme keterkaitan itu.

Pentingnya Deteksi Dini
    
Angka kematian akibat kanker di kawasan Asia bisa dibilang mencemaskan, mencapai 57,3% menjadi yang tertinggi dalam Global Cancer Mortality berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Angka tersebut cukup besar, khususnya untuk Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar ketiga di Asia setelah Cina dan India.

Gaya hidup menjadi faktor terbesar penyebab seseorang mengidap kanker, kontribusinya mencapai hingga 95 persen. Pola makan yang tidak sehat, obesitas, infeksi, hingga konsumsi alkohol menjadi penyebab utama, sedangkan sisanya diakibatkan faktor genetik/keturunan. Prof Aru menambahkan, mengelola berat badan ke kisaran ideal, membangun pola makan yang sehat, serta melakukan aktivitas fisik yang teratur dapat mencegah peluang terkena kanker hingga 35 persen.

Untuk menurunkan angka kematian akibat kanker, maka deteksi dini memiliki peran penting. "Deteksi dini pada kanker penting karena dapat membantu mencegah sel kanker menjadi lebih ganas," bebernya.

Deteksi dini terbukti berhasil dalam menurunkan  kanker serviks yang sempat menjadi nomor satu di Indonesia. "Angka kejadian kanker serviks sekarang turun menjadi nomor dua hal ini karena adanya program deteksi dini yang juga didukung pemerintah," ujarnya.

Deteksi dini, dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain pemeriksaan darah dalam tinja atau darah samar (FOBT), endoskopi atau kolonoskopi, pemeriksaan rektal dengan jari (digital rectal exam), pemeriksaan rontgen dengan barium enema, virtual colonoscopy/CT Scan, hingga pemeriksaan DNA tinja.

Hal lain yang dapat dilakukan untuk meminimalkan terkena kanker adalah mengaja pola makan sehat, misalnya mengurangi makanan yang dapat memicu karsinogenik, seperti daging merah yang dimasak terlalu lama atau sampai gosong, dan daging olahan. Batasi konsumsi gula dan lemak karena bisa meningkatkan berat badan. Lakukan olahraga teratur 5 kali dalam sepekan sekitar 30 hingga 60 menit setiap sesi. "Hindari merokok maupun terpapar asap rokok atau perokok pasif. Banyak zat dalam rokok yang bersifat karsinogenik. Kanker tidak terbentuk secara instan. Jika gaya hidup sehat tidak diterapkan sejak dini atau berlangsung dalam waktu lama, risiko kanker pun meningkat," pungkas Prof Aru. (DD)

 

Newsletter
Daftarkan alamat email anda untuk mendapatkan informasi terkini tentang kesehatan.
2019 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check