Waspadai 'Hidden Hunger' Tidak Kentara Namun Mematikan

Waspadai 'Hidden Hunger' Tidak Kentara Namun Mematikan

12 Aug 2019

Dokterdigital.com - Indonesia masih menghadapi pekerjaan rumah terkait masalah gizi. Negara tercinta saat ini menghadapi beban ganda (double burden), di satu sisi menghadapi masalah gizi kurang (pendek/stunting, dan kurus), di sisi lain dihadapkan pada masalah obesitas  atau kegemukan.

Selain beban ganda masalah gizi, Indonesia juga dihadapkan pada masalah kekurangan gizi mikro, yang kerap disebut dengan istilah hidden hunger. Ada yang bilang, Indonesia menghadapi masalah gizi lengkap.

Hidden hunger alias kelaparan tersembunyi merupakan bentuk kekurangan gizi mikro (vitamin dan mineral) berupa defisiensi zat besi, yodium, asam folat, vitamin A dan beberapa jenis vitamin B. Hidden hunger memiliki dampak serius karena dari luar tidak menampakkan gejala, namun sebenarnya masalah itu ada.

Kelaparan tersembunyi terjadi ketika kualitas makanan yang dimakan tidak memenuhi persyaratan gizi, sehingga makanan tersebut kekurangan zat gizi mikro seperti vitamin dan mineral yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekira 2 miliar orang menderita kekurangan vitamin dan mineral.

Laporan yang dirilis oleh lembaga nirlaba global yang berbasis di Washington, Penelitian Kebijakan Pangan Internasional, bersama dengan Welthungerhilfe & Concern Worldwide, menunjukkan bahwa satu dari tiga orang kehilangan vitamin dan mineral esensial. Defisiensi gizi mikro ini dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh, menghambat pertumbuhan fisik dan intelektual, dan bahkan dapat menyebabkan kematian.

Laporan itu menyebut, kelaparan tersembunyi juga melanggengkan siklus kemiskinan, gizi buruk, kehilangan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi yang buruk. Defisiensi gizi mikro menyebabkan sekitar 1,1 juta dari 3,1 juta kematian terkait dengan kekurangan gizi yang terjadi setiap tahun. Kelaparan tersembunyi tertinggi banyak dialami oleh negara-negara di Afrika sub-Sahara dan Asia Selatan.

Prof. Martin W Bloem,  Professor of John Hopkins Bloomberg School of Public Health dan Director of Center for Livable Future dalam pemaparan di  plenary session yang mengusung tema “Accelerating The End of Hunger/Malnutrition” sebagai bagian dari ajang Asian Congress of Nutrition (ACN) 2019, bertemakan ‘Nutrition and Food Innovation for Sustained Well-being’ yang diselenggarakan 4 - 7 Agustus 2019 di Bali, menyoroti tentang tantangan global yang dihadapi sejumlah negara di dunia saat ini.

Sejumlah negara di dunia (termasuk Indonesia) menghadapi sejumlah tantangan, antara lain mencakup pengurangan kemiskinan, perlunya memperbaiki sumber daya manusia yang dapat dilakukan antara lain dengan mencegah stunting, akses pendidikan dan sistem kesehatan yang lebih baik, serta sistem pangan berkelanjutan.

Prof Bloem mengatakan, populasi global tengah menghadapi krisis yang saling terkait, mencakup  kemiskinan, masalah gizi buruk (gizi kurang dan kegemukan), juga masalah kesehatan (mortalitas dan morbiditas anak). Bloem menyebut ada lima miliar orang tinggal di kawasan di mana gizi buruk dan kematian anak masih menjadi masalah kesehatan masyarakat.

Kemiskinan Jadi Pemicunya

Wanita dan anak-anak dalam keluarga dengan pendapatan rendah sering tidak mendapatkan cukup vitamin a, yodium dan zat besi, dan nutrisi penting lainnya. ini membatasi pertumbuhan, perkembangan, kesehatan dan kapasitas kerja mereka.

Pola makan yang buruk adalah sumber umum dari kelaparan tersembunyi. Makanan yang sebagian besar mengandalkan pada makanan pokok, seperti jagung, gandum, beras, dan singkong, memang menyediakan banyak energi, tetapi  hanya mengandung sedikit vitamin dan mineral esensial, sering kali menyebabkan kelaparan tersembunyi.

Laporan juga menunjukkan kompleksitas kelaparan tersembunyi di negara-negara berkembang saat mereka beralih dari makanan tradisional ke makanan olahan tinggi yang padat energi dan miskin gizi nutrisi. Pola makan semacam ini menimbulkan obesitas dan penyakit.

Kemiskinan adalah faktor utama yang menghambat akses ke diet bergizi seperti unggas, buah-buahan dan sayuran, kata laporan itu. Untuk memerangi kelaparan yang tersembunyi, laporan itu menyarankan untuk memungkinkan produksi beragam tanaman dan memastikan ketersediaan makanan yang kaya gizi, termasuk buah-buahan dan sayuran.

Laporan tersebut merekomendasikan keragaman makanan sebagai cara paling efektif untuk mencegah kelaparan yang tersembunyi, yang memerlukan hadirnya makanan dan buah-buahan dan sayuran tradisional yang bersumber dari kebun dapur, yang justru ditinggalkan oleh orang-orang di negara berkembang.

Berbagai sereal, kacang-kacangan, buah-buahan, sayuran, dan makanan hewani menyediakan gizi yang cukup bagi kebanyakan orang, meskipun populasi tertentu, seperti wanita hamil, mungkin memerlukan suplemen. Dengan kata lain masyarakat diminta untuk mengonsumsi keanekaragaman pangan lokal.

Sedangkan Bloem menekankan untuk memutus mata rantai gizi buruk, maka konsumsi makanan bergizi harus berkelanjutan. "Pelaku usaha dalam hal ini dapat berkontribusi dengan menyediakan makanan bergizi, antara lain dengan fortifikasi," ujarnya.

Senada dengan Prof Bloem, Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, M.Sc, ahli pangan dan Ketua Pusat Pangan SEAFAST IPB, mengamini bahwa masyarakat Indonesia masih mengalami kekurangan gizi mikro, seperti yodium, vitamin A, zat besi, hingga mineral lainnya. "Kemiskinan masih menjadi faktor utama penyebab munculnya masalah gizi ini. Karena miskin, tidak semua lapisan masyarakat bisa mendapatkan makanan sehat dengan mudah, sehingga harus dicarikan solusinya, antara lain fortifikasi pangan oleh dunia usaha," kata Prof Purwiyatno yang juga menjadi pembicara di simposium Asian Congress of Nutrition 2019.

Fortifikasi pangan merupakan  metode untuk menitipkan senyawa penting yang diperlukan ke makanan untuk meningkatkan nilai gizinya, sehingga lebih mudah dijangkau masyarakat. "Vitamin A misalnya, lazim dimasukkan ke produk margarin dan minyak goreng. Sementara yodium dimasukkan ke dalam garam," beber Prof Purwiyatno.

Peran Dunia Usaha dalam Pengentasan Malnutrisi

Pengentasan malnutrisi tidak hanya dilakukan pemerintah, namun juga menjadi tanggung jawab para pihak dalam hal ini perusahaan swasta/pelaku usaha. Axton Salim, Global Co Chair of Scaling Up Nutrition Business Network (SBN), mengatakan peran industri makanan sangat besar dalam pemenuhan pangan sehat dengan harga yang terjangkau. Scaling Up Nutrition (SUN) diinisiasi oleh PBB memungkinkan business network berkontribusi nyata untuk meningkatkan gizi di negara masing-masing.

SBN dibentuk untuk memobilisasi dan mengintensifkan upaya bisnis dalam mendukung Scaling Up Nutrition (SUN) Movement dan memastikan setiap orang memperoleh hak mendapatkan makanan yang baik dan bergizi. SUN Movement melibatkan pelaku usaha/bisnis, badan PBB, donor dan masyarakat lokal untuk mendukung pemerintah. Ada tiga pilar yang menjadi fokus SBN, yaitu 1.000 Hari Pertama Kelahiran dan Adolescence, Balanced Nutrition, dan Health & Sanitation.

Axton yang juga menjabat sebagai Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk, mengatakan dunia usaha memiliki peran penting dalam mengatasi malnutrisi, antara lain dengan menciptakan makanan sehat (fortifikasi pangan), menggunakan bahan pangan lokal dengan biaya produksi yang tidak mahal sehingga bisa dijual dengan harga yang terjangkau masyarakat.

"Indofood sudah melakukan sejumlah upaya untuk mendukung SUN Movement, antara lain dengan fortifikasi produk pada tepung Bogasari dan Indomie. Produk terigu Bogasari misalnya, ditambahkan vitamin B dan zat besi untuk memenuhi kebutuhan gizi mikro guna mengatasi malnutrisi," beber Axton yang juga menjadi pembicara di sesi plenary Asian Congress of Nutrition 2019.

Indofood juga meluncurkan Govit, jajanan sehat yang mengandung  11 vitamin dan 4 mineral dengan harga terjangkau, yaitu Rp500 per sachet. Untuk makanan pendamping ASI (MPASI), Indofood merilis SUN MPASI yang difortifikasi dengan aneka sumber gizi mikro, juga dengan harga terjangkau Rp500 per sachet.

Selain melakukan fortifikasi pangan, sejumlah inisiatif yang dilakukan Indofood antara lain program Nutrition for Workforce, edukasi remaja melalui aplikasi mobile agar semakin banyak remaja menyadari pentingnya gizi dan tubuh yang sehat, mendorong tumbuhnya start up lokal bidang pangan, gizi dan kesehatan sehingga terbentuk mekanisme yang akan memutus rantai malnutrisi dan kemiskinan. (DD)

2019 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check