Fortifikasi, Cara Menambal Kekurangan Gizi Mikro

Fortifikasi, Cara Menambal Kekurangan Gizi Mikro

06 Aug 2019

Dokterdigital.com - Indonesia masih menghadapi masalah malnutrisi yang harus lekas ditanggulangi. Kesulitan mengonsumsi makanan berkualitas bergizi seimbang yang disebabkan oleh kemiskinan menjadi salah satu penyebab malnutrisi pada anak, yang antara lain ditandai dengan perawakan pendek (stunting), akibat kekurangan gizi kronis.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan prevalensi stunting menurun  menjadi 30,8% dari 37,2% di 2013. Unicef Global Nutrition Report (2013) memperkirakan sekitar 7,6 juta juta balita di Indonesia mengalami stunting, turun dari 2013 lalu sebanyak 9 juta. Namun meski angka stunting menurun, masih belum memenuhi syarat yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yaitu di ambang batas 20 persen.

Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, M.Sc, ahli pangan dan Ketua Pusat Pangan SEAFAST IPB mengatakan, di Indonesia kasus kekurangan gizi mikro menunjukkan tren naik. Masyarakat kekurangan mikronutrien seperti yodium, vitamin A, zat besi, hingga mineral lainnya. Prof Purwiyatno menyebut, kemiskinan memang merupakan faktor utama penyebab kasus malnutrisi di Indonesia, termasuk gizi buruk dan gizi kurang. Karena miskin, tidak semua lapisan masyarakat bisa mendapatkan makanan sehat dengan mudah.

Kebutuhan zar gizi bisa dipenuhi berbagai cara, antara lain dengan mengonsumsi makanan beragam makanan tapi tidak berlebihan. Namun faktanya untuk konsumsi makanan bergizi seimbang masih dulit dilakukan. Faktornya mungkin karena memang tidak tersedia atau ketidaktahuan. Dan tidak semua segmen masyarakat bisa menjangkau, maka itu perlu dilakukan fortifikasi pangan.

Fortifikasi pangan diyakini bisa menjadi salah satu upaya atau solusi untuk mengurangi masalah kekurangan gizi mikro masyarakat. Kita tahu, kekurangan gizi mikro menjadi salah satu masalah malnutrisi yang memiliki dampak serius pada anak.

"Untuk mengatasi malnutrisi, perlu dilakukan fortifikasi, yaitu  metode untuk menitipkan senyawa penting yang diperlukan ke makanan untuk meningkatkan nilai gizinya, sehingga lebih mudah didapatkan masyarakat," kata Prof Purwiyatno usai menjadi pembicara di Asian Congress of Nutrition 2019 di Nusa Dua, Bali, Senin (5/8).

Masyarakat kekurangan mikronutrien seperti yodium, vitamin A, zat besi, hingga mineral lainnya. "Fortifikasi pangan dilakukan dengan memasukkan senyawa-senyawa tersebut ke dalam bahan pangan lain. Vitamin A misalnya, lazim dimasukkan ke produk margarin dan minyak goreng. Sementara yodium dimasukkan ke dalam garam," imbuhnya.

Prof Purwiyatno menambahkan, fortifikasi akan bermanfaat jika tujuannya jelas. "Misalnya fortifikasi vitamin A untuk populasi yang memang kekurangan. Fortifikasi vitamin A bisa dititipkan pada minyak goreng. Agar tidak berlebih maka harus dihitung dulu kebutuhannya berapa banyak," ujarnya.

Untuk melihat apakah fortifikasi ini efektif maka harus dimonitor. "Dilihat lagi apakah semua parameter naik. Jika terjadi kenaikan, maka bisa dianggap fortifikasi itu bermanfaat," bebernya.

Hasil pemantauan Kementerian Kesehatan terhadap konsumsi gizi pada ibu hamil dan balita menunjukkan kekurangan gizi mikro cukup tinggi. Untuk mengatasinya, selain dengan dengan konsumsi pangan lokal, maka fortifikasi pangan untuk meningkatkan kualitas gizi pada makanan perlu dilakukan.

Sejumlah bahan pangan sudah difortifikasi, seperti tepung terigu yang ditambahkan dengan zat besi untuk mengatasi anemia. Hal ini menjadi perhatian karena ibu hamil yang anemia berpotensi melahirkan anak stunting dan menyebabkan angka kematian ibu maupun bayi tinggi.

Anemia pada ibu hamil di Indonesia masih tinggi. Data Riskesdas 2018 menunjukkan, anemia pada ibu hamil mencapai 48,9%, naik dari posisi 37,1% pada 2013. Kondisi ini disebabkan karena 70% sampai 80% ibu hamil belum tercukupi konsumsi energi dan proteinnya.

Peran Industri dalam Pengentasan Malnutrisi

WHO masih menetapkan Indonesia  sebagai negara dengan status gizi buruk. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) potensi kerugian ekonomi negara akibat stunting sebesar 2-3 persen dari PDB Indonesia per tahun.

Pengentasan malnutrisi tidak hanya dilakukan pemerintah, namun juga menjadi tanggung jawab para pihak dalam hal ini perusahaan swasta/industri. Global Co Chair of Scaling Up Nutrition Business Network (SBN), Axton Salim mengatakan peran industri makanan sangat besar dalam pemenuhan pangan sehat dengan harga yang terjangkau.

SBN dibentuk untuk memobilisasi dan mengintensifkan upaya bisnis dalam mendukung Scaling Up Nutrition (SUN) Movement dan memastikan setiap orang memperoleh hak mendapatkan makanan yang baik dan bergizi. SUN Movement melibatkan bisnis, badan PBB, donor dan masyarakat lokal untuk mendukung pemerintah. Axton menyebut, ada tiga pilar yang menjadi fokus, yaitu 1.000 Hari Pertama Kelahiran dan Adolescence, Balanced Nutrition, dan Health & Sanitation.

Axton yang juga menjabat sebagai Direktur PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, mengatakan industri memiliki peran penting dalam mengatasi malnutrisi, antara lain dengan menciptakan makanan sehat yang terjangkau masyarakat. "Caranya menggunakan bahan pangan lokal dengan biaya produksi yang tidak mahal sehingga bisa dijual dengan harga yang terjangkau masyarakat," ujarnya.

Di Indofood sudah dilakukan sejumlah upaya untuk mendukung SUN Movement, antara lain dengan melakukan fortifikasi produk pada Bogasari dan Indomie. Produk terigu Bogasari misalnya, ditambahkan vitamin B dan zat besi untuk memenuhi kebutuhan gizi mikro guna mengatasi malnutrisi.

Axton mencontohkan, Indofood belum lama ini meluncurkan Govit, snack sereal yang mengandung  11 vitamin dan 4 mineral yang dihargai Rp500 per sachet. Untuk makanan pendamping ASI (MPASI), Indofood merilis SUN yang difortifikasi dengan aneka sumber gizi mikro namun harga tetap terjangkau.

Axton menyebut, perusahaan bisa berkontribusi dalam pengentasan masalah nutrisi di Indonesia, antara lain dengan bergabung di SBN. "Perusahaan bisa berkontribusi sesuai expertise masing-masing. Semua bisa terlibat dan mencari inovasi baru untuk menjawab masalah malnutrisi di Indonesia," tandasnya.

2019 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check