Beban Ganda Malnutrisi di Indonesia, Apa yang Harus Dilakukan?

Beban Ganda Malnutrisi di Indonesia, Apa yang Harus Dilakukan?

05 Aug 2019

Dokterdigital.com - Indonesia masih menghadapi beban ganda terkait masalah gizi. Di satu sisi, Indonesia menghadapi gizi kurang, pendek dan stunting, sementara di sisi lain juga muncul masalah obesitas atau kegemukan.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan menunjukkan bahwa berbagai indikator pembangunan kesehatan mengalami perbaikan, tapi tetap masih ada indikator yang perlu terus diperbaiki dan ditingkatkan. Angka stunting balita turun dari 37,2% pada 2013 menjadi 30,8% pada 2018.

Data Riskesdas juga menyebut proporsi status gizi buruk dan gizi kurang mencapai 17,7 persen (turun dari 19,6 persen dari 2013), namun angka itu belum mencapai target yang diharapkan.

Staf Khusus Menteri Kesehatan Bidang Peningkatan Pelayanan Kesehatan Prof. Dr. dr. Akmal Taher, Sp.U, menyebut malnutrisi antara lain dipicu oleh kemiskinan dan kurangnya akses layanan kesehatan. "Memang orang sakit juga bisa mengalami malnutrusi, namun hal ini bisa karena kemiskinan dan kurangnya akses terhadap pelayanan kesehatan," ujar Akmal usai membuka acara Asian Congress of Nutrition 2019 di Bali, Minggu (4/8).

Pengentasan malnutrisi di Indonesia perlu memperhatikan aspek kesejahteraan yang berkelanjutan. "Kesejahteraan yang rendah berdampak langsung pada risiko malnutrisi," imbuhnya.

Akmal menambahkan, well-being (kesejahteraan) kerap dikaitkan dengan kemampuan ekonomi. Menurutnya apabila mau sehat dan sejahtera namun biayanya mahal hal itu berpotensi tidak sustain (berlanjut). "Suatu saat akan berhenti. Harus dicari cara supaya bisa sehat, namun efektif dan efisien. Demikian juga dengan akses layanan kesehatan, jika semua bisa dijangkau, maka bisa sustain," tandasnya.

Kegemukan dan Penyakit Tidak Menular

Kurangnya asupan buah dan sayur menjadi salah satu penyebab meningkatnya Penyakit Tidak Menular di Indonesia, selain gaya hidup sedentari (kurang gerak). Hasil Riskesdas 2018 menunjukkan bahwa perilaku makan buah dan sayur yang cukup - 5 porsi per hari sesuai anjuran Organisasi Kesehatan Dunia - baru mencapai 5%. Terkait aktivtas fisik, sekira 33,5% penduduk di atas 10 tahun masih kurang melakukan olahraga.

Data Riskesdas 2018 menyebut, terjadi kenaikan Penyakit Tidak Menular, prevalensi diabetes melitus berdasarkan pemeriksaan darah - naik dari 6,9% pada 2013 menjadi 8,5% pada 2018. Hipertensi berdasarkan pengukuran tekanan darah juga meningkat dari 25,8% pada 2013 menjadi 34,1% pada 2018.

Ketua Pergizi Pangan Prof. Dr. Ir. Hardinsyah, MS, menyebut terkait malnutrisi yang dihadapi Indonesia saat ini, tak lepas dari nutrisi yang bisa masuk ke tubuh. Banyak faktor yang mempengaruhi hal tersebut yang memicu munculnya kasus malnutrisi seperti gizi buruk, kurang gizi, stunting (anak tumbuh pendek/kerdil) dan wasting (anak sangat kurus).

Menurut Hardinsyah yang menjabat sebagai Chairman Asian Congress of Nutrition 2019, kegemukan menjadi beban yang tak boleh diabaikan. Kegemukan yang dibiarkan bisa memicu beragam PTM seperti hipertensi, diabetes melitus yang bisa mengarah stroke hingga penyakit jantung. "Pola makan yang salah, kurang serat dan malas gerak menjadi penyebab kegemukan. Semua bisa didapatkan dengan mudah, hanya di ujung jari menggunakan telepon genggam. Kalau dulu malas masak tidak makan, sekarang dengan layanan antar maka mendapat makanan jauh lebih gampang," bebernya.

Guru Besar IPB ini menyebut, kasus kegemukan di Indonesia sekitar 18 persen dan trennya menunjukkan kenaikan. "Ini harus dicegah agar tidak naik. Korea dan Jepang mampu menahan kenaikan masalah kegemukan," ujar Hardinsyah seraya berharap ACN 2019 akan menjadi ajang pertukaran informasi ilmiah di antara peneliti serta profesional di bidang gizi.

Asian Congress of Nutrition 2019 yang berlangsung 4-7 Agustus di Nusa Dua, Bali, mengusung tema Nutrition and Food Innovation for Sustained Wellbeing diikuti oleh 32 negara d Asia, juga Afrika dan Amerika. Sekitar 85 persen riset Asia dikeluarkan dalam kegiatan kongres.

2019 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check