Hati-hati, Stres Bisa Memicu Kanker

Hati-hati, Stres Bisa Memicu Kanker

30 Apr 2019

Dokterdigital.com - Stres kronis diketahui berdampak negatif pada tubuh, bisa memicu perkembangan peradangan dan penyakit kardiometabolik. Stres juga dapat berkontribusi pada perkembangan kanker. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa hal itu dapat mempercepat perkembangan dan memperburuk penyakit yang masih ditakuti ini.

Tetapi bisakah stres menjadi penyebab utama kanker? National Cancer Institute melaporkan bahwa saat ini ada sejumlah kecil studi yang membuktikan hubungan langsung antara kanker dan stres. Tetapi bagi Shelley Tworoger, seorang profesor ilmu kependudukan di Pusat Kanker Moffitt di Tampa, Fla, ada sejumlah faktor yang mengaitkan risiko kanker dan stres. Stres kronis dan tekanan mengaktifkan jalur yang mendukung produksi hormon stres dengan cara yang tidak dirancang oleh tubuh.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa aktivasi terus menerus dari jalur ini dapat menyebabkan perubahan dalam tubuh, seperti perubahan metabolisme, peningkatan kadar hormon tertentu dan pemendekan telomer (tutup pada ujung DNA yang mencegah kerusakan), demikian dilaporkan Live Science.

Perubahan ini kemudian dapat berkontribusi pada pertumbuhan dan perkembangan kanker, kata Tworoger. Stres kronis juga melemahkan sistem kekebalan tubuh, yang juga memungkinkan sel kanker untuk terus menyebar ke seluruh tubuh karena kurangnya perlindungan alami.

"Ada bukti yang berkembang bahwa stres kronis dapat memengaruhi risiko dan perkembangan kanker melalui kesalahan regulasi kekebalan," kata Elisa Bandera, seorang profesor dan kepala Cancer Epidemiology and Health Outcomes di the Rutgers Cancer Institute, New Jersey,

Tworoger dan timnya baru-baru ini melakukan penelitian yang menemukan orang-orang yang secara sosial terisolasi memiliki sekitar 1,5 kali lipat peningkatan risiko kanker ovarium. Kelompok yang memiliki lebih banyak gejala gangguan stres pasca-trauma juga memiliki peningkatan risiko terkena penyakit yang sama.

Studi lain menunjukkan bahwa stres kerja berpotensi berkontribusi terhadap peningkatan risiko kanker kolorektal, paru-paru, atau esofagus.

Tworoger mencatat ada semakin banyak bukti yang menunjukkan bagaimana penurunan stres dapat membantu meningkatkan kelangsungan hidup dan kualitas hidup pasien yang didiagnosis menderita kanker. Dia menambahkan beberapa klinik sudah menggunakan intervensi yoga atau meditasi untuk membantu penderita kanker.

 

2019 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check