Orangtua Jangan Gampang Termakan Hoax Imunisasi

Orangtua Jangan Gampang Termakan Hoax Imunisasi

22 Apr 2019

Dokterdigital.com - Masih banyak orangtua di Indonesia yang menolak melakukan imunisasi buah hatinya karena termakan hoax terkait vaksinasi. Sekretaris Satgas Imunisasi Pengurus Pusat IDAI Prof. Dr. dr Soedjatmiko SpA(K), Msi, mengatakan faktanya menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), imunisasi dapat mencegah 2 hingga 3 juta kematian setiap tahunnya. "Tambahan 1.5 juta nyawa bisa diselamatkan apabila cakupan imunisasi global bertambah," kata Soedjatmiko di sela-sela temu media Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan Nestlé Indonesia dalam rangka menyambut Pekan Imunisasi Dunia yang diperingati setiap minggu terakhir di bulan April di Jakarta, Senin (22/4)).

Sayangnya masih ada lebih dari 19 juta anak di dunia yang tidak divaksinasi atau vaksinasi tidak lengkap yang membuat mereka berisiko menderita penyakit yang berpotensi mengancam nyawa.

Mengapa imunisasi penting? "Imunisasi berperan penting untuk melindungi anak dari berbagai penyakit karena dapat meningkatkan kekebalan tubuh bayi dan anak agar mampu melawan penyakit-penyakit menular yang berbahaya," ujar Soedjatmiko seraya menambahkan anak yang tidak mendapatkan imunisasi dasar lengkap berpotensi tidak memiliki kekebalan yang spesifik terhadap suatu penyakit sehingga dapat menyebabkan sakit berat, cacat, bahkan meninggal.

"Makanya para orangtua jangan gampang termakan hoax terkait imunisasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Karena tidak melakukan imunisasi taruhannya besar bagi masa depan anak," ujarnya.
 
Beberapa imunisasi yang sudah disediakan oleh pemerintah Indonesia untuk bayi di bawah usia satu tahun adalah, imunisasi Hepatitis B, Polio, BCG, DPT, dan Campak. Pemberian imunisasi dasar lengkap dan sesuai jadwal dapat efektif mencegah penyakit dan membantu menurunkan angka kematian bayi dan balita.

Dalam kesempatan yang sama, UKK Nutrisi dan Penyakit Metabolik – IDAI, dr. Yoga Devaera, SpA(K) menambahkan bahwa pemberian imunisasi dasar yang lengkap harus dibarengi dengan asupan nutrisi seimbang demi memberikan perlindungan maksimal untuk anak dari berbagai penyakit sekaligus mendukung tumbuh kembang anak agar optimal. "Anak yang kekurangan nutrisi berpotensi mengalami penurunan kemampuan kognitif dan rentan terinfeksi penyakit menular," ujar Yoga.

Bicara soal nutrisi, umumnya setelah bayi berusia genap enam bulan, selain ASI, bayi butuh makanan pendamping ASI (MPASI) untuk memenuhi kebutuhan nutrisi makronutrien dan mikronutrien untuk tumbuh kembang yang optimal.  

Makronutrien (zat gizi makro) adalah zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah banyak dan penghasil energi. Yang termasuk makronutrien adalah karbohidrat, protein dan lemak. Sedangkan mikronutrien (zat gizi mikro) adalah zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah sedikit, namun mempunyai peran yang sangat penting misalnya dalam pembentukan hormon, membantu aktivitas enzim, dan mengatur fungsi sistem imun tubuh. Vitamin (baik yang larut air maupun larut lemak) dan mineral merupakan contoh mikronutrien.

Bayi di atas usia 6 bulan butuh nutrisi lima kali lebih banyak dan dua kali lebih banyak energi dari orang dewasa. Salah satu kebutuhan nutrisi yang sangat besar yang diperlukan bayi adalah zat besi. "Kebutuhan harian zat besi untuk si Kecil yang berusia 6-12 bulan setara dengan 385 g daging sapi atau 85 g hati ayam. ASI memenuhi 0,3 mg dari 11 mg kebutuhan zat besi bayi," kata Yoga.

Oleh karena itu, diperlukan strategi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ini, salah satunya dengan mengombinasikan Makanan Pendamping (MP) ASI rumahan dengan MP-ASI fortifikasi.  MP-ASI fortifikasi memiliki komposisi yang diatur CODEX, termasuk kandungan nutrisi dan zat tambahan lainnya.

Fakta tentang Imunisasi

Imunisasi telah menyelamatkan jutaan nyawa dan secara luas diakui sebagai salah satu intervensi kesehatan yang paling berhasil dan efektif (hemat biaya) di dunia. Namun, masih ada lebih dari 19 juta anak di dunia yang tidak divaksinasi atau vaksinasinya tidak lengkap, yang membuat mereka sangat berisiko untuk menderita penyakit-penyakit yang berpotensi mematikan. Dari anak-anak ini, satu dari 10 anak tidak pernah menerima vaksinasi apapun, dan umumnya tidak terdeteksi oleh system kesehatan.

Imunisasi mencegah penyakit, kecacatan, dan kematian dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, termasuk tuberkulosis, hepatitis B, difteri, pertusis (whooping cough, batuk rejan), tetanus, polio, campak, pneumonia, gondongan, diare akibat rotavirus, rubella).

Berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Ditjen P2P) Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, cakupan imunisasi dasar bagi bayi usia 0-11 bulan pada tahun 2017 mencapai 92,04% (dengan target nasional 92%). Hasil tersebut menunjukkan bahwa program imunisasi telah mencapai target, namun dengan catatan terjadi penambahan kantong dengan cakupan dibawah 80% dan cakupan antara 80-91,5%.

Imunisasi program yang disediakan dan didanai oleh pemerintah Indonesia untuk bayi di bawah usia 1 tahun meliputi: Hepatitis B, Polio, BCG, imunisasi MR (campak dan rubella), dan pentavalent (DPT, HB, HiB).

Penjabaran dari imunisasi tersebut sebagai berikut:

Hepatitis B adalah infeksi virus yang menyerang hati. Imunisasi Hepatitis B untuk mencegah virus Hepatitis B yang dapat menyerang dan merusak hati, bila tidak diobati dapat menyebabkan gagal hati dan kanker hati.

Imunisasi Polio untuk mencegah serangan virus polio yang dapat menyebabkan kelumpuhan.

Imunisasi BCG (Bacillus Calmette Guerin) untuk mencegah tuberkulosis paru, kelenjar, tulang dan radang otak yang bisa menimbulkan kematian atau kecacatan.

Imunisasi MR dapat mencegah penyakit: Campak (measles) dan Rubela (campak Jerman).

Haemophilus influenzae tipe B (Hib) dapat menyebabkan meningitis dan pneumonia. Imunisasi Hib dapat mencegah infeksi saluran nafas berat (pneumonia) dan radang otak (meningitis).

Imunisasi DPT untuk mencegah 3 penyakit, Difteri, Pertusis dan Tetanus. Penyakit Difteri dapat menyebabkan pembengkakan dan sumbatan jalan nafas, dan bila tidak diobati racun bakteri dapat menyebabkan kerusakan jantung. Pertusis atau lebih dikenal dengan batuk rejan dapat menyebabkan infeksi saluran nafas berat (pneumonia). Kuman tetanus mengeluarkan racun yang menyerang saraf otot tubuh, sehingga otot menjadi kaku, sulit bergerak dan bernapas.

 

2019 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check