Intervensi Bakteri di Usus Perbaiki Gejala Autisme Anak?

Intervensi Bakteri di Usus Perbaiki Gejala Autisme Anak?

15 Apr 2019

Dokterdigital.com - Para ilmuwan menduga bahwa mikrobioma usus, yaitu campuran bakteri yang menghuni saluran cerna, dapat mempengaruhi kesehatan dalam banyak cara. Namun penemuan baru menunjukkan bahwa mikrobioma yang sehat bahkan dapat meringankan gejala autisme.

Studi kecil dari 18 anak autis yang juga memiliki masalah pencernaan yang parah menemukan fakta menarik, yaitu transplantasi tinja untuk menyeimbangkan kembali mikrobioma usus ternyata dapat mengurangi gejala pencernaan dan gejala autisme mereka. Perbaikan itu bahkan bertahan selama periode tindak lanjut studi dua tahun.

"Kami merawat anak-anak autisme dengan mengubah mikrobiota usus. Semua memiliki gejala gastrointestinal - diare, sembelit, sakit perut - dan gejala-gejala itu berkurang secara dramatis, dan perilaku mereka membaik juga," kata penulis senior studi Rosa Krajmalnik-Brown, seorang profesor di Biodesign Institute di Arizona State University di Tempe, Ariz.

"Ketika kami memeriksanya lagi dua tahun kemudian, perilaku mereka bahkan lebih baik dan gejala gastrointestinal masih jauh lebih baik, tetapi tidak sebagus setelah perawatan," katanya.

Krajmalnik-Brown mengaku tidak tahu dengan pasti bagaimana meningkatkan mikrobioma dapat membantu gejala autisme. "Karena semua anak-anak memiliki masalah pencernaan yang parah, mungkin saja mereka mungkin lebih nyaman dan lebih bisa fokus dan belajar," ujarnya. Mungkin juga bahwa mikroorganisme yang lebih sehat di usus dapat mengirim bahan kimia ke otak yang membantu anak-anak belajar dan membuat koneksi.

Para peneliti mencatat bahwa 30% hingga 50% orang dengan autisme juga memiliki masalah pencernaan kronis yang dapat membuat mereka mudah tersinggung dan menyulitkan proses belajar, memperhatikan, dan berperilaku baik.

Anak-anak yang dirawat dalam penelitian ini ditemukan memiliki keanekaragaman bakteri yang rendah di usus mereka pada awal penelitian. Semua responden anak autisme menerima transplantasi tinja setiap hari selama tujuh hingga delapan minggu. Menurut peneliti, terapi ini meningkatkan keragaman mikroba dan bakteri sehat di usus.

Ketika penelitian dimulai, 83% dari anak-anak diklasifikasikan memiliki autisme parah. Pada akhir penelitian ditemukan bahwa hanya 17% anak yang dinyatakan parah, 39% ringan atau sedang, dan 44% di bawah batas untuk gangguan spektrum autisme ringan. Evaluasi profesional terhadap gejala anak-anak menemukan 45% penurunan gejala autisme dibandingkan dengan awal penelitian.

Banyak peserta penelitian memiliki beberapa faktor yang dapat menyebabkan mikrobioma kurang beragam. Misalnya, banyak yang dilahirkan melalui operasi caesar, yang terkait dengan lebih sedikit bakteri usus. Faktor lain adalah berkurangnya aktivitas menyusui, peningkatan penggunaan antibiotik dan asupan serat yang rendah, kata para peneliti.

Andrew Adesman, kepala pediatrik perkembangan dan perilaku di Cohen Children's Medical Center di New Hyde Park, N.Y., mengkaji temuan penelitian. "Meskipun orangtua dari anak-anak dengan autisme sering mencatat bahwa anak-anak mereka memiliki masalah pencernaan yang signifikan, penelitian ini menunjukkan bahwa mengubah bakteri dalam usus dapat menyebabkan perbaikan berkelanjutan dalam gejala autisme anak," ujarnya.

Namun, Adesman mengatakan penting untuk diingat bahwa penelitian ini tidak memiliki kelompok plasebo (kontrol), dan semua anak-anak dan orangtua tahu mereka menerima perawatan.

Selain itu, ia mencatat bahwa hanya anak-anak dengan autisme dan masalah pencernaan parah yang dimasukkan dalam penelitian ini. Tidak jelas apakah perawatan ini akan membantu untuk anak-anak dengan autisme yang tidak memiliki masalah pencernaan.

Baik Adesman dan Krajmalnik-Brown sepakat bahwa diperlukan lebih banyak studi tentang perawatan ini.

Krajmalnik-Brown mengatakan bahwa orangtua yang tertarik untuk meningkatkan mikrobioma anak, dapat mencoba memberi mereka makanan yang lebih beragam, termasuk lebih banyak serat dari sayuran dan buah-buahan.

Dia menekankan sebaiknay hal ini tak dilakukan di rumah. "Percobaan ini dilakukan dalam kondisi yang sangat diawasi. Jika dilakukan secara tidak benar, itu dapat menyebabkan infeksi pencernaan," kata Krajmalnik-Brown. Temuan ini dipublikasikan secara online di jurnal Scientific Reports, 9 April 2019.

 

2019 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check