Peran Penting Neurosains dalam Pengasuhan Anak

Peran Penting Neurosains dalam Pengasuhan Anak

15 Apr 2019

Dokterdigital.com - Pernah mendengar istilah neurosains? Bagi sebagian orang mungkin istilah ini belum terlalu populer. Neurosains adalah ilmu yang khusus mempelajari tentang otak dan dinamikanya. Otak merupakan bagian yang sangat penting bagi kehidupan kita. Bagian yang terkecil dari otak disebut neuron (sel saraf), yang terdiri atas badan sel dan kabel-kabel yang disebut axon-neuron dan dendrit.

Semua gerakan tubuh kita dikontrol oleh otak. Kita mau makan, tidur, belajar, berpikir, berperasaan, sampai berpikiran inovatif dan menemukan segala sesuatu, senantiasa dimulai dari otak. Neurosains mempelajari semua hal yang berkaitan erat dengan fungsi otak, intelektual, dan kesadaran manusia.

Dengan kata lain, neurosains merupakan ilmu yang mempelajari sistem saraf, terutama mempelajari neuron atau sel saraf, dengan menggunakan pendekatan multidisipliner. Tujuannya, untuk mempelajari dasar-dasar biologi (termasuk sistim listrik dan kimiawi) yang terjadi dalam otak (sel saraf) dari setiap pikiran dan perilaku yang kita lakukan.

Menurut Amir Zuhdi, dokter yang menekuni neurosains,mengatakan bidang ilmu ini awalnya ditekuni oleh dokter saraf, psikiatri dan psikolog. Makin ke sini, neurosains berkembang, hingga ke ranah marketing. "Neurosains dipakai di marketing tujuannya misalnya agar sebuah merek tersimpan di neuron. Di bidang pendidikan, neurosains bisa diterapkan untuk mengubah karakter dan perilau anak," kata Amir di sela-sela peringatan ulang tahun Komunitas Neurosains Indonesia di Jakarta, baru-baru ini.

Neurosains, menurut Amir, juga dapat diterapkan dalam pengasuhan anak, yang disebut neuroparenting. "Kualitas pengasuhan orangtua akan berpengaruh ke kualitas anak. Di sinilah neuroparenting memiliki peran, misalnya memperbaiki karakter anak jika terjadi masalah akibat pola asuh orangtua, misalnya otoriter," ujar Amir yang tertarik mempelajari neuroparenting.

Amir menemui kasus menarik terkait nauroparenting. Belum lama ini dia menemukan kasus menarik pada seorang mahasiswa sebuah universitas terkemuka di Bandung. Anak ini awalnya cemerlang sehingga bisa diterima di universitas bergengsi tersebut. Namun saat dia menginjak usia 22 tahun dan memasuki semester empat, kemampuan kognitifnya menurun, yang berdampak pada nilai-nilai akademik. Setelah dilakukan pemindaian dengan MRI, ternyata di hippocampus (hipokampus) bagian kiri megalami sklerosis atau penyusutan, sehingga lebih kecil dibandingkan dengan hipokampus bagian kanan.

Hipokampus merupakan bagian dari otak besar yang terletak di lobus temporal. Manusia memiliki dua hipokampus, kanan dan kiri. Hipokampus merupakan bagian dari sistem limbik dan berperan pada kegiatan mengingat (memori) dan navigasi ruangan. Penyebab sklerosis ini bisa jadi gangguan metabolisme, misalnya akibat penyakit diabetes melitus dan hormon kortisol.

Peranan hormon kortisol penting, antara lain berfungsi dalam mmpengaruhi pembentukan ingatan, melawan peradangan dalam tubuh, engendalikan keseimbangan garam dan air dalam tubuh, hingga mengatur kadar gula darah. Hal-hal seperti stres dan aktivitas fisik seperti olahraga dapat mempengaruhi kadar hormon kortisol dalam tubuh. Saat olahraga misalnya, kortisol menjalankan fungsinya sebagai pengatur gula darah agar gula bisa diolah menjadi sumber energi.

Di sisi lain, hormon kortisol yang tak terkendali meningkatkan tekanan darah serta kadar glukosa darah, yang kemudian memicu diabetes.

Pemeriksaan MRI juga tak menemukana adanya trauma. "Namun ditemukan sklerosis di bagian hipokampus kiri, yang kemungkinan yang bersangkutan mengalami stres dalam jangka panjang saat otaknya berkembang," kata Amir.

Setelah dirunut, ternyata mahasiswa tersebut mendapatkan pengasuhan otoriter dari sang ibu. "Ada dorongan emosi negatif yang berpengaruh ke hipokampus yang membuat dia mengalami penurunan daya ingat," jelas Amir. Kondisi sklerosis itu untungnya bisa diperbaiki atau dikoreksi. "Sel-sel hipokampus ini mati dan bisa tumbuh lagi. Namun ukurannya ireversibel," ujarnya.

Menurut Amir, neuron atau sel saraf otak memiliki 3 kecakapan mengagumkan, yaitu:

1. Neurogenesis adalah proliferasi atau perkembangan secara cepat neuron baru pada sel otak. Sel induk berkembang menjadi sel piramida dan selanjutnya menjadi sel dewasa

2. Neuroplasticity atau neroplastisitas adalah kemampuan otak untuk mereorganisasi dirinya, baik pada struktur dan fungsi. Dalam hal ini neuron berkembang membangun sinaps dengan sel saraf otak lainnya.

3. Kompensasi, yaitu neuron bisa dilatih mengembangkan keterampilan tertentu. Caranya dengan mengelola ingatan jangka pendek, mengasah memori proseduran, misalnya dengan bermain tetris.

Pada kasus skleroris hipokampus, ada sejumlah hal yang bisa dilakukan untuk mengoreksinya agar tak makin parah. "Pertama, perbaiki  perilaku ortunya atau siapa saja yang terlibat dalam pengasuhan anak. Pada anak yang sudah dewasa, dia harus menyadari ada kekurangan dirinya dari sisi emosional," kata Amir sembari menambahkan, anak bisa dilatih emosi dan otaknya dengan olahraga.

Latihan minimal dilakukan 3 bulan karena neurogenesis terjadi dalam 100-120 hari. "Bisa hubungi psikolog atau psikiatri," ujar Amir.

Untuk mengoptimalkan kemampuan otak, konsumsilah makanan yang mengandung nutrisi otak, misalnya ikan dan kacang-kacangan. "Kopi bisa juga dikonsumsi pada orang dewasa maksimal dua cangkir per hari. Kopi merupakan stimulan otak yang efektif. Konsumsi buah juga disarankan," ujarnya.

Selanjutnya, paparkan anak pada lingkungan yang variatif agar mendapatkan pengalaman emosi. Untuk anak-anak, latih anak-anak dengan permainan 'menuju sukses' misalnya naik tangga atau main ayunan. "Anak perlu mendapatkan rangsangan rasional yang dilatih dengan tantangan," beber Amir.

Aktivitas fisik yang penting untuk melatih sel-sel saraf otak antara lain berenang, memanah dan naik kuda. "Lakukan minimal 3 bulan untuk memetik hasilnya," pungkas Amir.

 

2019 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check