Capsaicin Efektif Hambat Perkembangan Kanker Payudara Agresif

Capsaicin Efektif Hambat Perkembangan Kanker Payudara Agresif

10 Apr 2019

Dokterdigital.com - Riset telah mengidentifikasi berbagai jenis kanker payudara yang merespon beragam perawatan. Dari jumlah tersebut, kanker payudara triple-negatif sangat agresif dan sulit diobati. Namun, penelitian terkini mungkin menemukan molekul yang memperlambat kanker jenis ini.

Para peneliti mengatakan senyawa dalam cabai, capsaicin, bisa membantu memperlambat subtipe kanker payudara.

Kanker payudara adalah bentuk kanker paling umum pada wanita di seluruh dunia, hampir 1,7 juta kasus baru didiagnosis pada tahun 2012.

Di Amerika Serikat, kanker payudara juga merupakan bentuk kanker yang paling umum pada wanita, terlepas dari ras atau etnis.

Penelitian genetik telah memungkinkan para ilmuwan untuk mengklasifikasikan kanker payudara menjadi subtipe, yang merespon secara berbeda terhadap berbagai jenis perawatan. Subtipe ini dikategorikan berdasarkan ada atau tidaknya tiga reseptor yang diketahui dapat memicu kanker payudara: estrogen, progesteron, dan reseptor faktor pertumbuhan epidermal 2 (HER2).

Kanker payudara yang dites secara positif untuk HER2 biasanya merespons dengan baik terhadap pengobatan dan bahkan terhadap beberapa obat tertentu. Namun, ada beberapa jenis kanker yang tes negatif untuk HER2, serta untuk estrogen dan progesteron - ini disebut kanker payudara triple-negatif.

Seperti yang ditunjukkan beberapa penelitian, kanker payudara triple negatif lebih sulit diobati, sejauh ini kemoterapi menjadi satu-satunya pilihan.

Penelitian dari Universitas Ruhr di Bochum, Jerman, menguji efek dari molekul pedas pada sel tumor yang dibudidayakan dari jenis kanker yang sangat agresif ini.

Para peneliti dipimpin oleh Dr. Hanns Hatt dan Dr. Lea Weber, dan mereka berkolaborasi dengan beberapa institusi di Jerman, termasuk klinik Augusta di Bochum, rumah sakit Herz-Jesu-Krankenhaus di Dernbach, dan Pusat Genomik di Cologne.

Para peneliti menguji efek dari bahan aktif yang biasa ditemukan di cabai atau lada - disebut capsaicin - pada kultur sel SUM149PT, yang merupakan model untuk kanker payudara triple-negatif.

Para ilmuwan termotivasi oleh penelitian yang ada, yang menunjukkan bahwa beberapa saluran potensial reseptor transien (TRP) mempengaruhi pertumbuhan sel kanker. Seperti yang penulis jelaskan, saluran TRP adalah saluran ion membran yang mengantarkan ion kalsium dan natrium, dan yang dapat dipengaruhi oleh beberapa rangsangan termasuk perubahan suhu atau pH.

Salah satu saluran TRP yang memainkan peran penting dalam pengembangan beberapa penyakit - dan menerima banyak perhatian dari para peneliti - adalah reseptor penciuman TRPV1.

Capsaicin juga telah terbukti menginduksi kematian sel dan menghambat pertumbuhan sel kanker pada beberapa jenis kanker, termasuk kanker usus besar dan pankreas.

Dalam studi baru ini, para peneliti bertujuan untuk menyelidiki ekspresi saluran TRP dalam sejumlah besar jaringan kanker payudara, serta untuk menganalisis dan memahami bagaimana TRPV1 dapat digunakan dalam terapi kanker payudara.

Para peneliti menemukan beberapa reseptor penciuman khas dalam sel yang dibudidayakan. Reseptor penciuman adalah protein yang mengikat molekul bau bersama-sama dan terletak pada sel-sel reseptor penciuman yang melapisi hidung.

Para ilmuwan menemukan bahwa reseptor TRPV1 muncul sangat sering. TRPV1 biasanya ditemukan di saraf kranial kelima, yang disebut saraf trigeminal.

Reseptor penciuman ini diaktifkan oleh molekul capsaicin pedas dan juga helional - senyawa kimia yang memberikan aroma angin laut yang segar.

Hatt dan timnya menemukan TRPV1 dalam sel tumor dari sembilan sampel berbeda dari pasien kanker payudara.

Peneliti menambahkan capsaicin dan helional pada kultur selama beberapa jam atau hari. Ini mengaktifkan reseptor TRPV1 dalam kultur sel.

Hasil dari TRPV1 yang diaktifkan menunjukkan sel-sel kanker mati lebih lambat. Selain itu, sel-sel tumor mati dalam jumlah yang lebih besar, dan sel-sel yang tersisa tidak dapat bergerak secepat sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa kemampuan mereka untuk bermetastasis berkurang, demikian menurut temuan ini diterbitkan dalam jurnal Breast Cancer: Targets and Therapy.

 

2019 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check