Telur Dituding Tingkatkan Risiko Sakit Jantung

Telur Dituding Tingkatkan Risiko Sakit Jantung

18 Mar 2019

Dokterdigital.com - Telur yang dinobatkan sebagai 'makanan pokok' orang Amerika, menurut penelitian terbaru - sekali lagi - dituding sebagai makanan sumber kolesterol. Bukan keseluruhan bagian telur memang. Bahkan para peneliti yang mengerjakan penelitian ini tidak senang dengan hal itu.

"Ini berita sedih bagi semua orang," kata penulis studi Norrina Allen, PhD, seorang ahli epidemiologi kardiovaskular di Northwestern University School of Medicine di Chicago. Studi terbaru menunjukkan bahwa telur mungkin buruk bagi jantung.

Banyak orang menganggap telur merupakan sumber protein hewani yang lengkap dan murah. Pada 2015, para ahli yang menyusun Pedoman Diet Amerika Serikat, mengatakan tidak ada cukup bukti untuk mendukung pembatasan konsumsi telur setiap harinya. Karena orang Amerika banyak menerapkan diet rendah karbohidrat, banyak yang beralih ke telur sebagai sumber protein yang dapat diandalkan. Menurut data industri, rata-rata orang Amerika akan makan lebih banyak telur pada 2019 dibandingkan selama 20 tahun terakhir.

Tetapi sebuah studi studi baru sekali lagi menekankan agar berhati-hati dengan kolesterol - khususnya telur. Telur rata-rata mengandung 200 miligram - lebih banyak kolesterol daripada kebanyakan burger keju ganda cepat saji. Tentu saja, burger keju memiliki banyak masalah diet lainnya, termasuk lemak jenuh dan natrium (garam).

Versi sebelumnya dari pedoman diet telah menyarankan orang Amerika untuk menjaga kolesterol mereka di bawah 300 miligram setiap hari.

Menanggapi studi ini, ahli jantung mengatakan orang-orang mungkin akan bingung dengan posisi telur. "Masalahnya adalah semua orang terpaku pada protein, dan sayangnya orang Amerika mendapatkan banyak lemak jenuh dan kolesterol dari sumber protein hewani," kata Leslie Cho, MD, direktur pusat kardiovaskular wanita di Klinik Cleveland di Ohio.

“Inilah yang ingin kami sampaikan kepada pasien: Maaf jadi membingungkan," kata Cho.

"Totalitas bukti cukup jelas," katanya. "Makan lebih banyak sayur dan cobalah untuk membatasi jumlah lemak jenuh dan kolesterol makanan," termasuk telur dan produk lainnya dengan lemak hewani, kata Cho, yang tidak terlibat dalam penelitian ini. Dia mengatakan studi baru ini berhasil dengan baik dalam merangkum bukti.

Penelitian teranyar ini merupakan analisis baru dari enam studi sebelumnya yang mencakup hampir 30.000 orang Amerika. Semua studi itu mengambil snapshot tertulis dari diet partisipan dan kemudian mengikutinya dalam waktu singkat. Dalam beberapa kasus, orang-orang dalam studi diikuti selama antara 10 dan 30 tahun.

Peneliti menemukan bahwa makan hanya setengah telur sehari dikaitkan dengan peningkatan risiko 6% - 8% untuk mengalami serangan jantung, stroke, atau kematian dini selama penelitian, dibandingkan dengan seseorang yang tidak makan telur. Terlebih lagi, semakin banyak telur yang dimakan seseorang, maka risikonya makin meningkat.

Orang-orang dalam penelitian ini - yang rata-rata makan telur setiap hari - diamati risikonya dari peristiwa yang berhubungan dengan jantung seperti serangan jantung atau stroke, meningkat 12% dibandingkan dengan seseorang yang tidak makan telur. Mereka yang rata-rata mengonsumsi dua telur setiap hari memiliki 24% peningkatan risiko kejadian yang berhubungan dengan jantung.

Para peneliti melihat peningkatan risiko yang sama bagi orang yang makan daging merah olahan dan tidak diproses.

Angka-angka itu terdengar besar, tetapi ada yang dikenal dalam sains sebagai risiko relatif. Para peneliti juga melihat risiko absolut - risiko meningkat pada seseorang selama periode waktu tertentu. Risiko absolut adalah yang paling penting ketika mempertimbangkan bagaimana suatu perilaku atau pilihan dapat memengaruhi kesehatan.

Selama studi ini, makan hanya setengah telur sehari, atau sekitar tiga telur seminggu, meningkatkan risiko seseorang terkena serangan jantung, stroke atau beberapa peristiwa terkait jantung lainnya dalam jumlah kecil - sekitar 1%. Ini meningkatkan risiko kematian dini seseorang sekitar 2%.

Hubungan itu bahkan masih ada bahkan ketika para peneliti melihat kualitas keseluruhan dari diet seseorang. Mereka yang memasukkan telur sebagai bagian dari diet sehat tidak memiliki risiko lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang makan telur bersama makanan yang kurang bergizi.

Bagian yang dituding jahat pada telur adalah kuningnya. Tetapi ada bagian lain dari telur yang berguna, yaitu asam amino dan ada choline. Jadi peneliti tidak menyarankan menghilangkan telur dari diet. Tetapi disarankan agar telur dikonsumsi secukupnya.

Satu substitusi yang lebih sehat mungkin mengganti kuning telur dengan putih telur.

 

2019 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check