Kenali Solusi Terkini Atasi Saraf Terjepit di Leher

Kenali Solusi Terkini Atasi Saraf Terjepit di Leher

20 Feb 2019

Dokterdigital.com - Dulu kita pernah dengar tentang 'fenomena leher kalkun' akibat terlalu sering menghabiskan waktu di depan komputer. Penelitian menunjukkan, terlalu lama di depan komputer dapat mempercepat proses penuaan, antara lain ditandai dengan kulit keriput, terutama di area leher.

Fenomena 'leher kalkun' ini sering dijumpai pada perempuan karir yang menghabiskan waktu berjam-jam di depan komputer. Bahkan ibu rumah tangga sekalipun bisa mengalaminya ketika sudah kecanduan internet di rumahnya.

Nah, bicara tentang teknologi, orang-orang dewasa (bahkan termasuk anak-anak) tak bisa dipisahkan dari perangkat pintar, ponsel atau gawai. Karena terlalu fokus pada gawai, ada sejumlah risiko yang dihadapi mereka yang tidak bisa lepas dari ponsel, entah untuk main games atau aktivitas lainnya. Dampak itu tak main-main karena bisa mengalami saraf terjepit di leher.

Menurut pakar nyeri dr. Mahdian Nur Nasution, SpBS dari Lamina Pain and Spine Center, nyeri leher atau leher kaku menjadi penyakit yang sering dialami anak muda, khususnya mereka yang sulit lepas dari gawai. "Menunduk berjam-jam main gawai menyebabkan generasi sekarang berisiko mengalami masalah di tulang belakang, terutama leher," kata Mahdian dalam temu media menandai pembukaan cabang Lamina Pain and Spine Center di RS Meilia Cibubur, Jakarta Timur, Selasa (19/2).

Keluhan sakit kepala, atau migrain, itu ternyata kalau ditelusuri dari leher juga problemnya. "Dan 10 persen nyeri di leher disebabkan oleh saraf terjepit," bebernya.

Saraf  terjepit merupakan kondisi yang terjadi ketika isi bantalan antar-ruas (diskus) tulang belakang bocor sehingga menekan saraf.

Diskus di tulang belakang terdiri dari dua bagian yaitu annulus fibrosus yang merupakan bagian luar yang keras dan nucleus pulposus bagian dalam bantalan sendi seperti jelly dikenal juga sebagai mucoprotein gel dengan komposisi utama berupa air, kolagen dan proteoglikan.

"Diskus berperan sebagai penyerap kejutan atau shock absorber. Bersama dengan dua sendi kecil di belakang leher, diskus akan membantu manusia untik menggerakan lehernya. Bagian dalam inilah yang oleh satu atau berbagai sebab lain mengalami kebocoran," urai Mahdian.

Madian menambahkan, nyeri leher adalah salah satu dari jenis nyeri tulang punggung yang paling mengganggu dan bisa membatasi mobilitas pengidapnya. Banyak penyebab nyeri leher, salah satunya adalah karena servikal Herniated Nucleus Pulposus (HNP) atau saraf terjepit di area leher (servikal), seperti yang diutarakan di atas.

Mungkin agak aneh mendengar kejadian saraf terjepit di leher, namun ini bukan kejadian yang bisa dibilang umum.
"Saraf terjepit bisa terjadi di seluruh bagian tulang belakang. Mulai lumbar (punggung bawah), thorakal hingga di servikal (tulang leher). Di tujuh ruas tulang leher inilah sering kali penanganan HNP jadi lebih menantang karena lebih rapatnya posisi antar-ruas tulang belakang," beber Mahdian.
 
Ciri saraf terjepit di heler adalah adanya nyeri menjalar hingga ke lengan. "Cirinya ada kesemputan di lengan bawah hingga jari. Otot menjadi lemah," ujarnya. Selain rasa nyeri yang menimbulkan ketidaknyamanan bagi pasien, saraf kejepit ini juga bisa membuat seseorang tidak produktif karena otot lengannya menjadi lemah. "Pegang gelas saja bisa jatuh," bebernya.

Solusi Saraf Terjepit

Bagaimana mengatasi solusi terjepit di leher? Bisa dengan terapi pijat atau minum obat, sayangnya hal itu kurang efektif mengatasi keluhan. Mahdian menuturkan, salah satu metode yang efektif dalam membuka bantalan tulang yang terjepit ini adalah operasi. "Sayangnya banyak masyarakat yang beranggapan bahwa operasi dapat memicu kelumpuhan dan meninggalkan luka sayatan yang besar, sehingga mereka takut melakukannya," ujarnya.

Beruntung kini ada teknologi yang dapat meminimalkan luka sayatan dan risiko pascaoperasi saraf terjepit, yakni Percutaneous Endoscopic Cervical Discectomy (PECD) atau sering disingkat pula menjadi Endoskopi Servical. Meski efektif mengatasi saraf terjepit, namun tak semua dokter bisa melakukan teknik ini dengan baik. "Paling hanya 10 dokter yang bisa melakukan dengan baik di Indonesia," ujarnya. Mahalnya alat PECD juga menjadi kendala.

Dalam teknik PECD ada dua pendekatan yang dipakai, yaitu anterior (depan) dan posterior (belakang). Keduanya bertujuan menghilangkan herniasi bantalan sendi tulang belakang yang menyebabkan penekanan pada saraf tulang belakang, dengan bantuan penglihatan langsung melalui kamera endoskopi yang ditampilkan pada layar.

Memakai teknologi PECD untuk mengatasi saraf terjepit memiliki keuntungan, selain sayatan yang minimal (hanya 4 mm), operasi ini juga dapat dilakukan melalui anastesi lokal saja. "Waktu operasi pasien juga menjadi lebih singkat, pemulihan cepat, kerusakan jaringan lebih minimal. Bahkan mereka yang menjalani teknik ini bisa cepat beraktivitas kembali, tidak harus lama berada di rumah sakit atau klinik," tandas Mahdian.

Hingga kini tim Mahdian - yang dulu berada di bawah payung Klinik Nyeri dan Tulang Belakang dan kini berganti nama menjad Lamina Pain and Spine Center - telah menangani 10 kasus dengan kesuksesan hasil mencapai 90 persen. "Keberhasilan PECD ini bergantung pada pemilihan pasien yang tepat dan dekompresi elemen saraf yang memadai," pungkas Mahdian.

 

2019 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check