Jangan Sembarang Minum Obat Flu, Bisa Berdampak pada Jantung

Jangan Sembarang Minum Obat Flu, Bisa Berdampak pada Jantung

22 Jan 2019

Dokterdigital.com - Flu sejauh ini menjadi penyakit yang umum, khususnya di musim pancaroba. Penyakit yang terkesan remeh ini kadang membuat penderitanya sakit kepala, batuk pilek hingga sulit melakukan aktivitas.

Untuk meredakan gejalanya, tak jarang kita memilih membeli obat warung guna meredakan demam dan sakit kepala yang menyertainya.  Tetapi sebelum membeli obat warung untuk meredakan flu, pertimbangkan bagaimana beberapa obat flu yang dijual bebas dapat mempengaruhi jantung. Kok bisa?

"Orang dengan tekanan darah tinggi atau penyakit jantung yang tidak terkontrol harus menghindari penggunaan dekongestan oral," kata Sondra DePalma, asisten dokter di PinnacleHealth CardioVascular Institute di UPMC Pinnacle di Pennsylvania. "Dan untuk populasi umum atau seseorang dengan risiko kardiovaskular bahkan meski rendah, mereka harus menggunakannya dengan bimbingan dari dokter."

Pedoman penulisan bersama DePalma dirilis pada tahun 2017 oleh American Heart Association dan American College of Cardiology yang berfokus pada manajemen tekanan darah tinggi pada orang dewasa. Baik dekongestan dan anti-inflamasi non-steroid (NSAID), yang ditemukan dalam banyak obat flu, terdaftar sebagai obat yang dapat meningkatkan tekanan darah.

Dekongestan — seperti pseudoefedrin atau fenilefrin — menyempitkan pembuluh darah, sehinggal ebih sedikit cairan ke dalam sinus sehingga membuat area itu kering, demikian dikatakan Dr. Erin Michos, associate director of cardiology preventif di Johns Hopkins Ciccarone Center, Baltimore.

"Tetapi jika memiliki tekanan darah tinggi atau penyakit jantung, hal terakhir yang dibutuhkan adalah menyempitkan pembuluh darah," katanya. "Hal itu dapat memperburuk kondisi yang sudah ada."

Kekhawatiran terbesar adalah bagi orang-orang yang mengalami serangan jantung, stroke, gagal jantung atau tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol, kata Michos.

Tetapi penelitian tentang NSAID menunjukkan bahwa orang yang tampaknya sehat juga berisiko. Sebuah studi tahun 2017 dalam Journal of Infectious Diseases mengamati hampir 10.000 orang dengan infeksi saluran pernapasan yang dirawat di rumah sakit karena serangan jantung.

Partisipan berusia rata-rata 72 tahun pada saat serangan jantung dan banyak memiliki faktor risiko kardiovaskular, seperti diabetes dan tekanan darah tinggi. Para peneliti menemukan bahwa orang yang menggunakan NSAID saat sakit tiga kali lipat lebih mungkin mengalami serangan jantung dalam seminggu dibandingkan dengan periode waktu yang sama sekitar setahun sebelumnya ketika peserta tidak sakit atau menggunakan NSAID.

Pilek atau flu membuat sistem kardiovaskular tegang. Memerangi penyakit ini akan meningkatkan detak jantung dan menyebabkan peradangan. Sementara itu, NSAID - yang membawa label peringatan tentang peningkatan risiko serangan jantung atau stroke - dapat menyebabkan masalah dengan mengurangi jumlah natrium yang dikeluarkan melalui urin, yang meningkatkan retensi cairan dan meningkatkan tekanan darah, demikian menurut DePalma.

"NSAID bisa sangat berisiko bagi orang-orang dengan penyakit jantung atau gagal jantung," imbuh Michos. Orang yang sakit harus menggunakan kedua obat - dekongestan dan NSAID - dengan bijaksana dan memahami efek samping potensial.

Untuk dekongestan, pedoman tekanan darah menyarankan untuk menggunakannya sesegera mungkin atau menggunakan alternatif seperti garam hidung atau antihistamin untuk membantu mengatasi hidung mampet. Dekongestan tidak boleh dikonsumsi lebih dari tujuh hari sebelum berkonsultasi dengan penyedia layanan kesehatan, kata DePalma.

Pedoman menyarankan, NSAID yang diminum sebagai pil harus dihindari sebisa mungkin untuk menghindari tekanan darah. Sebaliknya, NSAID topikal dan asetaminofen adalah alternatif yang direkomendasikan.

"Ada terapi efektif yang tidak terlalu berisiko dan harus dicoba terlebih dahulu," kata DePalma. "Jika obat bebas lain diperlukan, gunakan dengan hati-hati. Dan jika seseorang menemukan mereka memiliki masalah seperti tekanan darah tinggi atau hal-hal lain seperti jantung berdebar, pasien disarankan berbicara dengan penyedia layanan kesehatan."

Jika gejalanya ringan atau sedang, istirahat dan minum banyak cairan, kata Michos. Mencegah dehidrasi akan membantu mengurangi rasa sakit pada tubuh, membersihkan lendir dan mengurangi kebutuhan dekongestan.

Untuk membantu menghindari sakit sejak awal, Michos menyarankan untuk sering mencuci tangan dan banyak tidur, terutama selama musim dingin dan flu.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS merekomendasikan vaksin flu tahunan untuk semua orang yang berusia 6 bulan ke atas, dan vaksin pneumonia untuk anak di bawah 2 dan dewasa 65 tahun ke atas.

 

2019 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check