Waspadalah, Orang Gemuk Lebih Gampang Pikun

Waspadalah, Orang Gemuk Lebih Gampang Pikun

11 Jan 2019

Dokterdigital.com -  Orang gemuk cenderung menunjukkan penyusutan jaringan otak di usia paruh baya - terutama jika kelebihan berat badan terkonsentrasi di perut, demikian menurut studi terbaru. Studi yang melibatkan lebih dari 9.600 orang dewasa di Amerika Serikat, menemukan bahwa mereka yang obesitas biasanya memiliki volume materi abu-abu yang lebih rendah di otak daripada orang yang memiliki berat badan normal.

Materi abu-abu mengandung sebagian besar sel-sel saraf otak - sedangkan materi putih mengandung serat yang menghubungkan berbagai bagian otak.

Penelitian sebelumnya telah mengaitkan penyusutan materi abu-abu dengan peningkatan risiko demensia di masa depan. Namun, para peneliti mengingatkan bahwa mereka tidak dapat menarik kesimpulan tegas dari temuan terbaru ini.

Studi ini hanya menemukan hubungan dan tidak membuktikan obesitas yang patut disalahkan jadi biang menyebab menyusutnya materi abu-abu. Dan riset ini tidak mengikuti peserta penelitian dalam jangka panjang, tandas kepala peneliti Mark Hamer. "Karena kami hanya mengukur volume materi abu-abu pada satu kesempatan, sulit untuk menafsirkan apakah perbedaan itu bermakna secara klinis," kata Hamer, profesor di Loughborough University di Leicestershire, Inggris.

Sejumlah penelitian telah mengamati apakah orang dewasa gemuk memiliki risiko lebih besar untuk akhirnya mengembangkan demensia (kepikunan) dan sampai pada kesimpulan yang beragam. Beberapa studi tidak menemukan korelasi, sementara yang lain menekankan penurunan kelebihan berat badan dapat meminimalkan risiko kepikunan.

Tetapi ada kemungkinan yang bisa dijelaskan untuk perbedaan tersebut, kata Claudia Satizabal, asisten asisten profesor neurologi di Universitas Boston. Orang yang akhirnya mengalami demensia, kata Satizabal, dapat mulai menurunkan berat badan lima hingga 10 tahun sebelum gejalanya menjadi jelas.

Itulah sebabnya penting bagi penelitian untuk melihat indikator risiko demensia sebelumnya, seperti penyusutan volume otak, kata Satizabal, yang tidak terlibat dalam penelitian baru tersebut. "Ini pelajaran yang bagus," katanya. "Demensia adalah proses yang panjang, dan ini terlihat pada sifat yang terjadi di sepanjang proses perjalanan."

Penelitian teranyar melibatkan 9.652 orang yang berusia 55 tahun, rata-rata 19 persen peserta mengalami obesitas. Secara keseluruhan, pria dan wanita yang obesitas umumnya menunjukkan volume materi abu-abu yang lebih rendah pada pemindaian otak MRI, dibandingkan peserta dengan berat badan normal.

Pengurangan materi abu-abu terbesar terlihat pada orang yang membawa banyak kelebihan berat badan mereka di tengah (lemak sentral). Perbedaan muncul di beberapa daerah otak, termasuk yang terlibat dalam mengatur perilaku dan gerakan, kata para peneliti.

Mengapa obesitas memiliki hubungan dengan ukuran otak? Hamer menunjuk satu kemungkinan: Obesitas dan kondisi kesehatan terkait - seperti tekanan darah tinggi dan diabetes tipe 2 - dapat merusak jantung dan pembuluh darah, yang dapat mempengaruhi aliran darah ke otak.

Kemungkinan lain, menurut Satizabal, adalah bahwa kelebihan lemak itu sendiri memiliki dampak. Jaringan lemak melepaskan berbagai hormon dan produk sampingan metabolisme yang dapat memengaruhi kesehatan otak.

Belum jelas apakah obesitas, setidaknya di usia paruh baya, merupakan faktor risiko demensia. Tetapi, Satizabal mengatakan semakin banyak bukti mengarah ke sana.

Hamer menunjuk pada gambaran yang lebih besar - bahwa obesitas adalah faktor risiko yang ditetapkan untuk berbagai kondisi medis lainnya. Karena itu, katanya orang harus berusaha mempertahankan berat badan yang normal, demikian simpul penelitian yang diterbitkan dalam edisi online Neurology, 9 Januari 2019.

 

2019 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check