Para Ahli Tak Terlalu Merekomendasikan Diet Ketogenik

Para Ahli Tak Terlalu Merekomendasikan Diet Ketogenik

10 Jan 2019

Dokterdigital.com - Selama beberapa tahun terakhir, kita kerap dengar istilah diet ketogenik. Namanya berasal dari ketosis, yaitu kondisi tubuh ketika memasuki fase membakar lemak, bukannya karbohidrat.

Melibatkan pola makan rendah karbohidrat dan tinggi lemak, diet ketogenik mendapatkan banyak popularitas setelah didukung oleh sejumlah pesohor karena mempercepat penurunan berat badan pelaku diet. Namun demikian, diet keto ditempatkan agak rendah pada peringkat 2019 dari diet yang direkomendasikan. Para ahli gizi telah menawarkan beberapa alasan bagus untuk ini.

Dalam sebuah studi yang dilakukan pada hewan pengerat baru oleh peneliti di Universitas Augusta di Georgia, tikus terlihat mengalami peningkatan kadar tekanan darah setelah satu bulan ditempatkan pada pola makan ala ketogenik. Sementara tikus yang melakukan diet regular memperoleh 7,2 persen kalori dari lemak, bandingkan dengan 36 persen untuk tikus yang menjalani diet keto.

Jennifer Sullivan, ahli farmakologi dan fisiologi yang memimpin penelitian ini, mengatakan orang mungkin meremehkan seberapa buruk pola makan tinggi lemak yang konsisten bagi kesehatan kita.

Menghilangkan makanan tinggi karbohidrat bisa berarti menghindari buah-buahan dan sayuran tertentu yang merupakan sumber serat dan nutrisi penting lainnya. "Tingkat hidrasi juga terpengaruh yang berarti orang yang melakukan diet ketogenik berisiko kehilangan magnesium, kalsium, kalium, dan lainnya dalam jangka panjang," ujar Sullivan.

Salah satu keterbatasan dalam penelitian terbaru ini adalah kurangnya data longitudinal. Akibatnya, para ahli tidak yakin bagaimana keto mempengaruhi tubuh manusia selama beberapa dekade. Sementara efek jangka pendek memang melibatkan penurunan berat badan cepat awal, prosesnya mungkin tidak lancar.

"Ketika tubuh pertama kali memasuki ketosis, pelaku diet keto mungkin mengalami serangkaian efek samping yang disebut 'keto flu,'" Jennifer M. Brown, dari Arizona State University. "Tanda keto flu antara lain kelelahan, pusing, sakit kepala ringan, kurang tidur, sulit berolahraga, dan sembelit, semuanya disebabkan oleh pembatasan karbohidrat yang ekstrem."

Menjadikan penurunan berat badan sebagai tujuan utama, bahkan dengan mengorbankan aspek lain dari kesehatan, akan menjadi masalah. Membatasi kelompok makanan besar tanpa keperluan medis untuk melakukannya dapat menimbulkan masalah bagi sebagian orang, meningkatkan risiko gangguan makan dengan menciptakan hubungan yang tidak sehat dengan makanan.

Jadi, apa saja pilihan yang lebih baik sejauh pola makan pergi? Kebanyakan ahli akan merekomendasikan diet DASH atau diet gaya Mediterania bagi mereka yang ingin menjalani pola diet jangka panjang.  Di sisi lain, pendekatan "makan intuitif" juga dikaitkan dengan kesejahteraan dan keberlanjutan jangka panjang bagi banyak orang, demikian Medical Daily.

 

2019 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check