Pertolongan Pasien Serangan Jantung Sesuai Golden Period Bisa Selamatkan Nyawa

Pertolongan Pasien Serangan Jantung Sesuai Golden Period Bisa Selamatkan Nyawa

28 Dec 2018

Dokterdigital.com - Penyakit kardiovaskular yang terkait dengan jantung dan pembuluh darah bukan lagi penyakit yang identik dengan usia lanjut. Anak muda di usia 30 tahun juga bisa terkena serangan jantung. Pemicunya terkait dengan gaya hidup antara lain pola makan tidak seimbang, tekanan darah tinggi, diabetes, perilaku merokok juga jarang olahraga.

Sejauh ini, penyakit kardiovaskular menempati posisi pertama penyebab kematian. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut, 37 persen kematian di Indonesia disebabkan karena penyakit jantung dan pembuluh darah.

Data The Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) menunjukkan kematian di dunia yang disebabkan oleh penyakit terkait dengan jantung dan pembuluh darah pada 2016 mencapai 17,7 juta jiwa, atau setara dengan 32,26 persen total kematian di dunia. IHME menyebut, 63 persen kematian akibat penyakit kardiovaskular dialami mereka yang berusia di atas 70 tahun, 50-69 tahun mencakup 29,13 persen, dan 7,61 persen disumbang oleh kelompok usia 15-49 tahun.

Selain hipertensi,  penyakit jantung koroner (PJK) kerap disebut sebagai pembunuh diam-diam (silent killer disease). Alasannya, penderita PJK kerap tak merasakan gejala spesifik, atau kalau pun ada mengabaikannya karena beranggapan itu kondisi remeh, misalnya sebatas masuk angin (sehingga ada istilah masuk angin duduk yang sebenarnya merujuk pada PJK).

Penderita PJK bahkan terlihat sehat dan bisa beraktivitas normal. Namun suatu ketika mendadak  mengalami serangan jantung akut yang memicu kematian. Oleh karena itu, informasi untuk mengenali gejala serangan jantung sangat penting. Indikasi serangan jantung koroner antara lain muncul sensasi seperti tertindih di bagian dada, sakit hingga ke ulu hati, dan napas pendek. Pada serangan yang lebih berat, penderita akan merasa mual, muntah, keringat dingin, hingga hilang kesadaran.

Menurut spesialis jantung dari Bethsaida Hospitals Cardiac Center Gading Serpong, Tangerang, dr. Dasaad Mulijono, MBBS(Hons), FIHA, FIMSANZ, FRACGP, FRACP, PhD, pasien yang terkena serangan jantung ibarat berpacu dengan waktu. Sayangnya, masih banyak pasien yang mengalami serangan jantung terlambat ditangani karena ketidaktahuan atau terhambat saat perjalanan menuju rumah sakit. "Padahal, pasien serangan jantung wajib mendapat penanganan maksimal 6 jam pasca-serangan. Setiap menit yang berlalu membuat semakin banyak jaringan otot yang kekurangan oksigen sehingga mati," ujar Dasaad dalam temu media di Bethsaida Hospitals Gading Serpong, baru-baru ini.

Dasaad menekankan, semakin cepat pasien dibawa ke rumah sakit maka semakin banyak yang bisa dilakukan untuk membatasi kerusakan otot jantung sehingga peluang hidup pasien lebih besar. "Semakin lama tidak ditangani semakin banyak sel-sel otot jantung mati akibat tidak mendapat oksigen. Pasien bisa ditangani bila lumpuh otot hanya 10 persen,” imbuhnya.

Saat serangan terjadi, pasien dalam waktu kurang dari dua jam setelah gejala awal harus sudah berada di rumah sakit dengan fasilitas khusus untuk pelayanan jantung.  

Prinsip penanganan pasien serangan jantung adalah time is muscle. Artinya, setiap detik yang terlewat berarti kerusakan otot jantung. Inilah alasan penting mengetahui golden period pasien yang terkena serangan jantung. Mengabaikan setiap detik golden period sama saja dengan membuang harapan sehat kembali, bahkan bisa berakibat fatal, yaitu kematian.

Golden period merupakan jendela waktu untuk memberikan pertolongan kepada penderita serangan jantung yang akan menentukan potensi kesembuhan dan perubahan kualitas hidup.

dr. Dasaad Mulijono, MBBS(Hons), FIHA, FIMSANZ, FRACGP, FRACP, PhD (foto.ist)

Saat serangan jantung terjadi, pasien dalam waktu kurang dari dua jam setelah gejala awal harus sudah berada di rumah sakit dengan fasilitas khusus untuk pelayanan jantung.  

Dasaad menambahkan, otot jantung yang tidak mendapat aliran darah selama 6 jam akan mengalami kerusakan secara permanen sehingga fungsi jantung akan menurun. Bukan itu saja, terlambat menangani serangan jantung juga bisa berdampak terhadap organ lain, misalnya fungsi paru. Darah yang seharusnya dipompa ke seluruh tubuh oleh jantung akan menumpuk di paru-paru. Imbasnya, akan terjadi 'perembesan' air ke dalam paru-paru dan menimbulkan sesak napas yang hebat, yang bisa berujung pada kondisi gagal napas.

Sayangnya, banyak penanganan pasien jantung terlambat karena pihak keluarga 'ngotot' mengobati pasien ke luar negeri dengan dalih alat lebih lengkap sehingga golden period terlewat. "Ini sama saja dengan membuang golden period. Pasien bisa terlambat ditangani karena tak selekasnya dibawa ke rumah sakit untuk ditolong," ujar Dasaad.

Dasaad tak memungkiri fakta bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang berobat ke luar negeri dengan beberapa alasan seperti kurangnya mutu pelayanan kesehatan rumah sakit di Indonesia, kurang puas terhadap komunikasi dokter, kemampuan SDM belum meyakinkan, serta sarana dan prasarana yang masih terbatas jika dibandingkan dengan standar pelayanan kesehatan di luar negeri.

"Sebenarnya rumah sakit di negara Indonesia ini sudah dilengkapi dengan teknologi canggih yang terintegrasi dengan kompetensi para dokter yang berpengalaman di bidangnya. Di Bethsaida Hospitals misalnya, penyakit jantung koroner bisa ditangani oleh dokter-dokter yang berpengalaman untuk dilakukannya tindakan kateterisasi jantung, angiografi serta pemasangan ring jantung," bebernya.

Dasaad menyayangkan banyak pasien yang memilih berobat di luar negeri dengan biaya lebih mahal. Namun rumah sakit dan sumber daya manusia di Indonesia harus mawas diri menghadapi fenomena ini. "Saya percaya apabila rumah sakit melayani pasiennya dengan kasih seperti layaknya keluarga sendiri maka sesungguhnya kita bisa menarik kembali pasien-pasien yang berobat di luar negeri untuk bisa berobat di Indonesia, sehingga bisa menyelamatkan sebagian devisa negara," ujarnya optimistis.

Bethsaida Hospitals, imbuh Dasaad, saat memiliki berbagai fasilitas layanan kesehatan unggulan seperti Laser & Aesthetic Center, Dental Center, Digestive Center, Hyperbaric Center, Cardiac Center, Neuroradiology Center dan Diabetes Center. Mutu pelayanan Bethsaida Hospitals telah mendapatkan status akreditasi Paripurna (Bintang 5) dari Komite Akreditasi Rumah Sakit.

Mengelola Penyakit Jantung

Serangan jantung dipicu sumbatan di pembuluh darah jantung (koroner) yang terjadi akibat penumpukan plak. Tak jarang penumpukan awal plak tidak disadari pasien karena tidak bergejala atau mirip keluhan penyakit lain seperti sakit maag, nyeri ulu hati dan pusing.

Ada sejumlah prosedur pemeriksaan untuk mengetahui kondisi ini, mencakup tes treadmill, MSCT dan kateterisasi. Dari semua prosedur itu, kateterisasi dengan tingkat kesalahan nol persen, sehingga menjadi gold standard.

MSCT merupakan generasi terbaru dari CT Scan yang memiliki kemampuan untuk menghasilkan informasi dan memberikan gambaran diagnostik yang lebih baik, terutama untuk pemeriksaan organ bergerak termasuk jantung, dengan kecepatan pemeriksaan yang cukup singkat dan menghasilkan gambar dengan resolusi yang baik dan lebih akurat.

Meskipun termasuk generasi terbaru dari CT Scan namun tingkat kesalahan pemeriksaan MSCT mencakup 5-10 persen, dan bahkan 50 persen dengan tes treadmill.

Dasaad menambahkan, deteksi sumbatan pembuluh darah yang tepat mencegah penumpukan plak dan serangan jantung di kemudian hari. Sumbatan sebesar 40-50 persen dapat ditangani menggunakan obat, sedangkan lebih dari 60 persen membutuhkan tindakan kateter balon maupun pemasangan ring jantung.

Dia menambahkan, pemeriksaan kesehatan jantung wajib dilakukan pada pasien dengan riwayat penyakit jantung di keluarga, punya potensi diabetes, kolesterol tinggi dan hipertensi. Lakukan pemeriksaan saat menapak usia 30an.

Kabar baiknya, penyakit jantung dan pembuluh darah bisa dicegah. Caranya dengan mengendalikan faktor risiko dan melakukan sejumlah hal terkait gaya hidup, antara lain:

1. Konsumsi makanan bergizi seimbang, mengurangi gula, garam dan lemak. Perbanyak serat dari buah dan sayuran.

2. Teratur olahraga minimal 30 menit sehari 5 kali dalam seminggu sesuai rekomendasi WHO

3. Kelola stres dan jauhi rokok

4. Rutin memeriksakan kondisi kesehatan juga memantau tekanan darah, kolesterol, diabetes, dan berat badan. Bagi yang kegemukan, usahakan menurunkan berat badan.

5. Batasi konsumsi alkohol.

 

2019 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check