Mengapa Masih Ingin Makan Meski Perut Kenyang?

Mengapa Masih Ingin Makan Meski Perut Kenyang?

23 Jan 2021

Dokterdigital.com - Tak bisa mengabaikan godaan makan burger dengan keju lumer yang menggoda mata sekaligus lidah? Tampaknya ini masalah sebagian besar orang. Tak bisa dimungkiri, kita memiliki saat-saat lemah - cenderung makan meskipun merasa kenyang.

Tetapi mengapa kita melakukan ini? Beberapa orang mungkin bertanya-tanya apakah itu ada hubungannya dengan rasa atau berada di lingkungan yang mendorong kesenangan. Tetapi sebuah studi baru pada tikus dari University of Michigan (UM) yang telah dipublikasikan di Prosiding National Academy of Science, 17 September 2018, menunjukkan bahwa semuanya bermula di otak.

Perilaku makan telah lama dikaitkan dengan dua kelompok sel, dikenal sebagai neuron POMC dan neuron AgRP, merupakan 'tetangga sebelah' di otak. Jika menganggapnya sebagai bagian dari mobil, POMC bertindak seperti rem (memberi tahu bahwa rasa lapar telah terpenuhi) sementara AgRP bertindak seperti pedal akselerator (mendorong untuk makan lebih banyak).

Para peneliti melakukan percobaan optogenetik pada tikus dengan merangsang neuron POMC, berharap untuk melihat penurunan nafsu makan. "Sebaliknya, kami melihat efek yang sangat luar biasa," kata ketua peneliti Huda Akil, seorang profesor di Departemen Psikiatri UM. "Hewan-hewan makan seperti gila, selama setengah jam setelah stimulasi, mereka makan pasokan makanan sehari penuh."

Tampaknya stimulasi telah mengaktifkan kedua kelompok sel. Hal ini menyebabkan pelepasan simultan dari sinyal "terus makan" dari sel AgRP dan sinyal "berhenti makan" dari sel POMC, mirip seperti menggunakan rem dan menekan pedal gas pada saat yang sama. "Ketika keduanya dirangsang sekaligus, AgRP mencuri perhatian," kata Akil seraya menambahkan perilaku ini mungkin bisa menjadi penyebab kita makan berlebihan.

Ketika mereka mencoba sekali lagi dengan hanya merangsang sel POMC, ada penurunan yang signifikan dalam hal makan. Selanjutnya, pemberian obat nalokson memblokir sistem opioid alami di otak, sehingga perilaku makan dihentikan. "Ini menunjukkan bahwa sistem opioid endogen otak sendiri dapat berperan dalam keinginan untuk makan di luar apa yang dibutuhkan," tambah Akil.

Dia menekankan diperlukan lebih banyak penelitian untuk memahami sepenuhnya bagaimana persepsi, emosi dan sosial memicu otak kita dan memainkan peran penting dalam makan berlebihan. Ini berpotensi membantu para ilmuwan merancang intervensi untuk mengatasi obesitas, mungkin dengan mengaktifkan sel-sel seperti yang terlihat dalam temuan baru, atau dengan metode lain yang berkaitan dengan sistem saraf.

"Ada industri yang dibangun untuk memikat kita untuk makan, apakah membutuhkannya atau tidak, melalui isyarat visual, pengemasan, bau, asosiasi emosional," jelas Akil."Orang-orang merasa lapar hanya dengan melihatnya, dan kita perlu mempelajari sinyal saraf yang terlibat dalam mekanisme perhatian dan perhatian yang mendorong kita untuk makan."

 

2021 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check