Hot Flashes Belum Tentu Gejala Menopause

Hot Flashes Belum Tentu Gejala Menopause

30 Dec 2018

Dokterdigital.com - Hot flashes (semburan hawa panas) dianggap sebagai salah satu gejala umum yang dialami wanita sebagai bagian dari menopause (mati haid) dan perimenopause. Namun, ini bukan satu-satunya penyebab yang mungkin untuk kondisi itu. Sejatinya, sensasi semburan hawa panas bisa terjadi pada usia berapa pun dan bahkan mempengaruhi pria.

Menurut definisi, hot flashes merupakan perasaan hangat yang menyelimuti wajah, leher, dan dada. Ini juga disertai dengan keringat berlebih, kulit memerah, detak jantung meningkat, dan akhirnya, perasaan dingin. Berikut adalah beberapa pemicu yang mungkin (selain menopause), berikut cara bagaimana menghadapinya.

1. Kelebihan berat badan

Para ahli mengatakan mereka yang memiliki berat badan berlebih mungkin lebih rentan terhadap hot flashes, mencakup frekuensi dan tingkat keparahannya. "Wanita yang kelebihan berat badan dan bermasalah dengan hot flashes mungkin dapat mengurangi ketidaknyamanan itu melalui diet dan olahraga," kata Alison J. Huang, asisten profesor di University of California San Francisco.

2. Alergi makanan

Penelitian telah menunjukkan bahwa hot flashes dan gejala serupa dapat dipicu oleh alergi makanan. Minuman beralkohol dan minuman berkafein seperti teh dan kopi juga dapat berperan sebagai pemicu.

Mungkin membantu membuat jurnal makanan dan mencatat makanan harian, menyoroti pemicu munculnya hot flashes. Jika mencurigai suatu pola, bicarakan dengan profesional medis yang akan melakukan tes dan membantu untuk mengesampingkan makanan atau bahan yang memicu alergi.

3. Obat resep

Hot flashes dapat terjadi sebagai efek samping ketika menggunakan obat-obatan seperti opioid, steroid, antidepresan, dll. Nah, jika mengonsumsi obat-obatan ini dan muncul sensasi semburan panas, bisa jadi inilah pemicunya. Beritahukan dokter tentang kaitan ini agar dokter dapat mengupayakan solusi alternatif. Pakar kesehatan wanita Beth Battaglino menambahkan bahwa efek sampingnya hanya sementara, menghilang setelah tubuh terbiasa dengan pengobatan. Tanyakan kepada dokter kapan gejalanya akan memudar.

4. Kecemasan

Kecemasan memiliki komponen fisiologis yang sangat nyata, kata Dr. Josh Klapow, seorang psikolog klinis, kepada Bustle. "Ketika detak jantung naik, tekanan darah meningkat, ketika pernapasan semakin dangkal dan otot-otot tegang, tubuh akan memanas," ujarnya.

Pelepasan epinefrin atau adrenalin oleh tubuh dapat mengintensifkan gejala - peningkatan aliran darah menyebabkan peningkatan suhu. Inilah sebabnya mengapa Anda akhirnya merasa panas dan berkeringat ketika dalam kondisi khawatir, stres, atau panik berlebihan. Jika ini pemicunya, carilah cara untuk mengurangi tingkat kecemasan dan mengatasi stres, demikian Livestrong.

 

Newsletter
Daftarkan alamat email anda untuk mendapatkan informasi terkini tentang kesehatan.
2019 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check